Tuesday, October 27, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Mengapa Bumi Tidak Terus Memanas akibat Sinar Matahari? Ini Penjelasan BRIN

Mistar.idSelasa, 27 Oktober 2026 pukul 08.54 WIB
mengapa_bumi_tidak_terus_memanas_akibat_sinar_matahari_ini_penjelasan_brin

Ilustrasi bumi, bulan, dan matahari di luar angkasa. (Foto: Getty Images/Mistar)

Jakarta, MISTAR.ID - Matahari terus memancarkan energi yang mencapai permukaan Bumi setiap hari. Namun, energi tersebut tidak membuat suhu Bumi meningkat tanpa batas. Kondisi ini berkaitan dengan keseimbangan energi yang terjadi antara Bumi dan ruang angkasa.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), La Ode Muhammad Musafar Kilowasid, mengatakan fenomena tersebut dikenal sebagai Earth’s Energy Balance atau keseimbangan energi Bumi.

Dalam sistem ini, Bumi tidak hanya menerima energi dari Matahari, tetapi juga melepaskan energi kembali ke ruang angkasa. Proses tersebut berperan penting dalam mengatur kondisi termal planet.

Secara termodinamika, Bumi mengalami pertukaran energi secara terus-menerus. Sebagian energi Matahari diserap oleh permukaan dan atmosfer, sedangkan sebagian lainnya dipantulkan kembali ke angkasa. Energi yang telah diserap juga dilepaskan dalam bentuk radiasi gelombang panjang atau radiasi inframerah.

Musafar menjelaskan tanpa pelepasan energi tersebut, energi yang tersimpan dalam sistem Bumi akan terus bertambah.

“Namun pada kenyataannya tidak seperti itu, karena terdapat keseimbangan energi dalam sistem bumi. Harus ada energi panas yang keluar dari bumi menuju ruang antariksa,” ujar Musafar dikutip dari laman BRIN, Selasa (27/10/2026).

Selain pertukaran energi dengan ruang angkasa, pergerakan panas di dalam sistem Bumi juga dipengaruhi oleh sejumlah proses fisika. Mekanisme tersebut meliputi konduksi, konveksi, penguapan air, pembentukan awan, serta sirkulasi udara di atmosfer.

Proses-proses tersebut membantu memindahkan energi dari satu wilayah ke wilayah lain. Meski demikian, distribusi panas tidak berlangsung secara merata karena setiap kawasan menerima energi Matahari dalam jumlah berbeda.

Perbedaan pemanasan ini turut memicu variasi tekanan udara. Ketika terdapat gradien tekanan, massa udara bergerak dari wilayah bertekanan tinggi menuju wilayah bertekanan lebih rendah. Pergerakan inilah yang menghasilkan angin.

Menurut Musafar, arah dan pola pergerakan angin juga dipengaruhi oleh rotasi Bumi melalui gaya Coriolis, serta gesekan dengan permukaan dan pengaruh topografi. Kombinasi faktor-faktor tersebut membentuk pola sirkulasi atmosfer yang membantu mendistribusikan panas dalam skala regional hingga global.

Dinamika atmosfer tidak hanya melibatkan angin, tetapi juga gelombang yang merambat dalam skala luas atau dikenal sebagai planetary waves. Fenomena ini mencakup gelombang Rossby, gelombang Kelvin yang banyak dikaji di wilayah tropis, serta gelombang pasang surut atmosfer atau atmospheric tides.

Gelombang pasang surut atmosfer dapat terbentuk akibat pemanasan Matahari yang berlangsung secara periodik dan pengaruh gravitasi benda langit, termasuk Bulan. Fenomena tersebut menyebabkan perubahan berkala pada sejumlah parameter atmosfer.

Musafar menuturkan bahwa fenomena ini juga penting dalam penelitian atmosfer dan antariksa karena dapat diamati menggunakan berbagai instrumen pengukuran.

“Osilasi akibat gelombang pasang surut ini sangat penting karena teramati oleh hampir semua alat observasi di antariksa. Karena ionosfer bermuatan listrik, osilasi ini menciptakan medan listrik dan perubahan medan magnet. Dalam kaitannya dengan Space Situational Awareness (SSA), perubahan medan magnet itu memengaruhi konduktivitas dan penjalaran sinyal radio,” pungkasnya.

Space Situational Awareness (SSA) merupakan pemantauan dan pemahaman terhadap kondisi serta aktivitas di lingkungan antariksa, termasuk berbagai fenomena yang berpotensi memengaruhi satelit dan sistem komunikasi.

Pada dasarnya, Bumi tidak terus memanas tanpa batas karena energi yang diterima dan energi yang dilepaskan saling memengaruhi. Sementara itu, sirkulasi atmosfer dan berbagai proses fisika membantu mendistribusikan panas ke berbagai wilayah.

Namun, keseimbangan energi Bumi bukan berarti suhu planet selalu tetap. Ketika jumlah energi yang diserap lebih besar daripada energi yang dilepaskan dalam jangka waktu tertentu, sistem Bumi akan mengalami pemanasan. Kondisi ini menjadi salah satu faktor penting dalam memahami perubahan iklim global.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN