Wamendikdasmen Ajak Generasi Muda Lawan Budaya Sumpah Serapah di Media Sosial

Wamendikdasmen, Fajar Riza Ul Haq. (Foto: Instagram @fajarrizaulhaq/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengajak generasi muda menjadikan nilai-nilai Sumpah Pemuda sebagai pedoman dalam berinteraksi di media sosial. Ia menilai semangat persatuan perlu diwujudkan melalui komunikasi yang santun, bukan justru diwarnai ujaran kasar dan saling mencaci.
Pesan tersebut disampaikan Fajar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada Rabu (28/10/2026). Ia mengingatkan pentingnya menjaga semangat kebangsaan di tengah perkembangan teknologi digital dan situasi global yang penuh ketidakpastian.
Menurut Fajar, peringatan Sumpah Pemuda tahun ini menjadi momentum untuk kembali memahami nilai perjuangan para pemuda yang telah mempersatukan bangsa. Pada 2026, Sumpah Pemuda memasuki usia ke-98 tahun, atau dua tahun menjelang peringatan satu abad pada 2028.
Ia menilai nilai-nilai tersebut perlu terus diaktualisasikan agar relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini. Salah satu penerapannya adalah membangun budaya komunikasi yang sehat di tengah maraknya penggunaan media sosial.
Fajar mengakui media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, ruang digital yang seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan juga kerap diwarnai komentar kasar, perdebatan tidak sehat, hingga kebiasaan saling melontarkan makian.
"Tentu perkembangan media sosial tak terhindarkan, dan itu udah menjadi bagian dari kehidupan kita," ujar Fajar melalui unggahan akun Instagram @fajarrizaulhaq, Rabu (28/10/2026).
Ia menegaskan, kemudahan berkomunikasi di ruang digital harus diimbangi dengan kesadaran untuk menjaga etika. Semangat Sumpah Pemuda, menurutnya, dapat menjadi landasan untuk melawan kebiasaan menggunakan kata-kata kasar dalam berinteraksi.
"Spirit Sumpah Pemuda ini harus menjadi antitesis, ya, dari, dalam tanda petik, budaya sumpah serapah di media sosial," tegasnya.
Fajar juga mengingatkan bahwa persatuan bangsa tidak cukup diwujudkan melalui pengakuan terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Nilai tersebut perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk cara menyampaikan pendapat dengan tetap menghormati orang lain.
Ia menekankan pentingnya menjaga bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus menggunakannya sebagai sarana membangun peradaban yang lebih baik. "Sumpah kita terhadap satu bahasa, dan juga bahasa keadaban," katanya.
Lebih lanjut, Fajar mengajak generasi muda berkontribusi dalam menghadapi berbagai persoalan nasional. Ia menyadari bahwa kondisi dunia yang sulit diprediksi menghadirkan tantangan bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak kehilangan optimisme dan tetap mengedepankan semangat kebersamaan dalam menyelesaikan persoalan yang ada. "Negara kita masih aman. Tentu ada tantangan, ada masalah, tuntaskan bersama-sama," ujarnya.
Fajar menilai rasa cinta terhadap Tanah Air harus terus dipelihara oleh generasi muda. Semangat kebangsaan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Ada komitmen para pemuda dan pemudi kita untuk terus punya jiwa merah putih," katanya.
Ia berharap anak muda mampu mengambil peran sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa. Dengan mengedepankan sikap saling menghormati, perilaku positif, dan kontribusi nyata, generasi muda diharapkan dapat menjaga persatuan sekaligus menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan beradab.













































