Susianto, Putra Sumut Pertama yang Jadi Kepala Sekolah Indonesia di Luar Negeri

Kepala SMAN 3 Medan, Susianto. (Foto: Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Perjalanan hidup Susianto dalam dunia pendidikan terbilang cukup panjang. Pria kelahiran Kisaran, 12 Desember 1969 ini memiliki latar belakang sains kimia, lulusan Universitas Sumatera Utara (USU) dan IKIP (Unimed) Medan, yang menjadi awal dari baktinya dalam dunia pendidikan.
Langkah pertamanya sebagai pendidik dimulai pada 1994 di SMA Negeri Susoh, Aceh Selatan, dilanjutkan ke Peukan Bada, Aceh Besar, hingga 2000. Pengalaman mengabdi di tanah Serambi Mekkah melatih pengabdiannya sebelum akhirnya kembali ke Sumatera Utara untuk mengajar di Binjai.
Kepemimpinannya mulai teruji saat dipercaya menjadi Kepala SMAN 6 Binjai pada 2009 hingga 2011. Ia kemudian menjadi Kepala SMAN 1 Binjai dari 2011 hingga 2020, hingga dipercaya menjabat sebagai Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kota Binjai dan Sekretaris MKKS SMA Sumatera Utara.
Salah satu pengalaman mengabdi yang tak terlupakan bagi ayah dua anak tersebut terjadi pada 2020. Saat itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka rekrutmen untuk posisi Kepala Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), dan Susianto mencoba mendaftar.
Ia menyebutkan, seleksi yang diikuti sangat ketat karena dibuka untuk seluruh kepala sekolah se-Indonesia. Lewat serangkaian tes, mulai dari seleksi berkas, wawancara di Jakarta, hingga pemantapan bahasa Inggris, nama Susianto keluar sebagai satu-satunya perwakilan dari Sumatera Utara yang lolos.
“Waktu itu, saya kepala sekolah pertama dan satu-satunya yang bisa memenangkan kontestasi itu dari Sumut,” katanya kepada Mistar, Rabu (23/9/2026).
Penugasan itu membawanya ke KBRI Bangkok, Thailand, selama empat tahun, yaitu 2020 hingga 2024. Di sana, tantangannya jauh berbeda dengan di tanah air. Susianto harus memimpin sekolah ‘satu atap’ yang merupakan gabungan dari TK, SD, SMP hingga SMA dengan 12 orang guru saja. Guru-gurunya pun harus serba bisa. Misalnya, guru matematika juga harus bisa mengajar biologi, geografi, termasuk pelajaran-pelajaran lainnya.
“Sehingga punya kompetensi yang memang diharapkan mampu menaungi semua mapel yang ada di lingkungan sekolah itu. Termasuk kepala sekolah juga harus mampu mengakomodir semua, TK, SD, SMP, SMA. Itu yang kami lakukan,” ucapnya.
Di sisi lain, memimpin sekolah di luar negeri membuat Susianto sadar betapa enaknya jika guru dan kepala sekolah hanya berfokus pada murid. Di sana, mereka tidak pusing memikirkan anggaran BOS atau urusan bangunan. Fokusnya hanya dua, yaitu meningkatkan pelayanan dan prestasi siswa.
“Di sana tidak mengurusi masalah perbaikan, sarana yang harus disiapkan, pembiayaan BOS, pertanggungjawaban yang kami juga kadang-kadang tidak paham bagaimana administrasi pengelolaan keuangan. Membidangi hal-hal lain yang bukan profesional kami,” tuturnya.
Hasilnya, siswa-siswi di sana yang mayoritas anak diplomat berhasil menembus kampus-kampus top seperti UI, UGM, ITB, bahkan sampai kuliah ke Inggris, Australia dan Jepang.
Tak jarang Susianto berharap hal itu dapat diterapkan di Indonesia. Setiap program dikelola oleh bidangnya masing-masing. Seperti, misalnya, dana BOS dikelola oleh bidang tertentu, pengadaan buku-buku bisa ditangani oleh dinas perpustakaan, dan lainnya.
PREVIOUS ARTICLE
Jelang TKA, Siswa SMAN 2 Medan Perkuat Persiapan Lewat Bimbel






































