Susianto, Putra Sumut Pertama yang Jadi Kepala Sekolah Indonesia di Luar Negeri

Kepala SMAN 3 Medan, Susianto. (Foto: Susan/Mistar)
Sehingga guru hanya berfokus pada tugasnya melayani pembelajaran dan meningkatkan prestasi siswa. Apalagi, jumlah siswa yang harus dibina di satu sekolah di Indonesia jauh lebih banyak dari jumlah total siswa di SILN.
“Akan jauh lebih bermanfaat karena saya sudah melakukan tugas itu selama hampir empat tahun dan hasilnya cukup signifikan. Kalau saat ini, tugasnya begitu banyak yang bukan di bidang kami. Sehingga fokus untuk mendorong anak lebih maju dan kompetitif jadi sedikit banyaknya akan terganggu,” ujarnya lagi.
Ia juga sudah menyampaikan gagasan tersebut ke dinas pendidikan untuk dipertimbangkan. Susianto mengaku akan jauh lebih fokus jika guru tidak harus ikut mengelola anggaran, mengingat guru sudah mendapatkan gaji dan tunjangan profesi.
“Biarlah kami hidup dari situ. Tapi perhatikanlah tunjangan-tunjangan yang berkaitan dengan guru, supaya kami juga tidak merasa tertinggal dari institusi lain yang mereka mungkin ada tambahan yang lain, supaya kami lebih fokus,” kata Susianto.
Kembali ke masa kepemimpinannya saat menjadi Kepala SILN di Bangkok, Susianto membuat sejumlah program agar anak-anak diplomat yang belajar di sana tidak kehilangan identitas Indonesianya. Kegiatan belajar mengajar di sana memang menggunakan Bahasa Indonesia, namun ia juga menerapkan dua hari penuh untuk berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Para siswa juga rajin diajak tampil membawakan tarian dan budaya Indonesia di panggung-panggung festival internasional di Thailand.
Setelah purna tugas dari Bangkok pada 2024, Susianto kembali ke Medan dan dipercaya menjadi Plt. Kepala SMAN 3 Medan. Pengalaman internasional selama empat tahun tidak dibiarkannya mengendap begitu saja. Susianto juga ingin para siswa SMAN 3 Medan memiliki mindset yang lebih luas.
Ia kerap mengajak guru dan perwakilan siswa atau OSIS untuk melakukan studi banding dan berbagi pengalaman ke sekolah-sekolah internasional seperti Singapore School, serta membuka jalan kerja sama ke kampus-kampus luar negeri di Asia maupun Eropa.
“Harapan saya memberikan wawasan yang lebih kuat, lebih tinggi dan bersifat global agar cakupan siswa kami di sini lebih luas. Walau dari dinas tidak ada alur seperti itu secara khusus, tapi kami mengembangkan diri untuk mengubah visi menjadi visi global, agar ada penguatan di bidang itu,” katanya. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Jelang TKA, Siswa SMAN 2 Medan Perkuat Persiapan Lewat Bimbel







































