Monday, November 2, 2026
home_banner_first
OTOMOTIF

Motor Listrik Makin Dilirik, Benarkah Lebih Hemat dari Motor Bensin? Ini Peluang Besarnya di Indonesia

Mistar.idSenin, 2 November 2026 pukul 14.41 WIB
motor_listrik_makin_dilirik_benarkah_lebih_hemat_dari_motor_bensin_ini_peluang_besarnya_di_indonesia

Motor listrik Indonesia sebagai alternatif motor bensin yang lebih hemat untuk ojek online dan kendaraan operasional. (foto:chatgpt/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID (2/11/2026) — Biaya bahan bakar yang terus menjadi perhatian masyarakat membuat motor listrik semakin diperhitungkan sebagai alternatif kendaraan roda dua di Indonesia. Bukan sekadar menawarkan teknologi ramah lingkungan, kendaraan listrik juga menjanjikan penghematan biaya operasional, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi seperti pengemudi ojek online (ojol) dan kurir logistik.

Namun, apakah motor listrik benar-benar lebih murah dibandingkan motor bensin? Seberapa besar peluangnya mengubah industri transportasi dan membuka efisiensi baru bagi sektor usaha?

Pertanyaan tersebut semakin relevan seiring berkembangnya industri kendaraan listrik nasional. Meski demikian, harga pembelian, daya tahan baterai, infrastruktur pengisian, dan kepastian insentif masih menjadi faktor yang menentukan kecepatan adopsinya.

Pasar Motor Listrik Indonesia: Peluang Besar, tetapi Tantangan Masih Ada

Perkembangan motor listrik di Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik. Data Sistem Registrasi Uji Tipe (SRUT) Kementerian Perhubungan yang diberitakan pada Januari 2026 mencatat penjualan motor listrik sepanjang 2025 mencapai 55.059 unit, turun 28,6 persen dibandingkan 77.078 unit pada 2024.

Pada September 2026, Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) melaporkan penjualan motor listrik tahun berjalan mencapai sekitar 18.900 unit. Ketidakpastian insentif pemerintah disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan pembelian masyarakat.

Pemerintah juga telah membahas rencana insentif sekitar Rp3 juta per unit dengan sasaran hingga satu juta kendaraan. Namun, pelaksanaannya masih membutuhkan keputusan dan regulasi teknis.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar motor listrik tidak hanya bergantung pada inovasi produsen, tetapi juga keterjangkauan harga, kepastian kebijakan, serta kesiapan ekosistem pendukung.

Biaya Motor Listrik vs Motor Bensin: Seberapa Besar Penghematannya?

Salah satu alasan masyarakat mulai melirik motor listrik adalah biaya energi dan perawatan yang relatif lebih rendah.

Motor listrik tidak membutuhkan bensin, oli mesin, busi, maupun sejumlah komponen sistem pembakaran seperti pada kendaraan konvensional. Struktur penggeraknya yang lebih sederhana juga berpotensi mengurangi kebutuhan perawatan rutin.

Gambaran penghematan tersebut terlihat dalam penelitian Institut Teknologi PLN tahun 2026 yang membandingkan Polytron Fox dengan Honda Beat 2023 melalui pengujian sejauh 1.000 kilometer di Kota Padang.

Penelitian tersebut mencatat biaya energi motor listrik sekitar Rp62,25 per kilometer, sedangkan motor bensin dengan Pertalite mencapai Rp257 per kilometer.

Bahkan, berdasarkan perhitungan total biaya kepemilikan atau Total Cost of Ownership (TCO), motor listrik mencatat biaya sekitar Rp367,75 per kilometer, dibandingkan Rp502,25 per kilometer untuk motor bensin.

Artinya, dalam simulasi penelitian tersebut, total biaya kepemilikan motor listrik sekitar 26,77 persen lebih rendah.

Meski demikian, penghematan aktual dapat berbeda bergantung pada harga kendaraan, tarif listrik, harga BBM, jarak tempuh, biaya perawatan, penyusutan kendaraan, dan masa pakai baterai.

Komponen baterai menjadi perhatian khusus karena harga pembelian, garansi, penurunan kapasitas, serta biaya penggantian dapat memengaruhi pengeluaran jangka panjang.

Karena itu, calon pembeli sebaiknya tidak hanya membandingkan harga listrik dengan bensin, tetapi menghitung seluruh biaya kepemilikan selama kendaraan digunakan.

Ojek Online Jadi Peluang Besar bagi Motor Listrik

Sektor ojek online menjadi salah satu pasar potensial untuk mempercepat penggunaan motor listrik. Tingginya intensitas perjalanan membuat pengemudi ojol memiliki kebutuhan energi yang besar setiap hari.

Bagi pengemudi yang menempuh puluhan hingga ratusan kilometer, penghematan biaya energi dapat memberikan ruang lebih besar bagi pendapatan bersih.

Potensi ini mulai terlihat dari ekspansi armada perusahaan transportasi digital. Grab Indonesia, misalnya, melaporkan penggunaan armada kendaraan listrik mencapai sekitar 28.000 unit pada Mei 2026, meningkat dari 14.000 unit pada 2025. Perusahaan menargetkan jumlah tersebut bertambah menjadi 42.000 unit pada akhir 2026, mencakup kendaraan roda dua dan roda empat.

Namun, adopsi motor listrik oleh pengemudi ojol masih menghadapi sejumlah kendala. Harga pembelian, kemampuan membayar cicilan, jarak tempuh, waktu pengisian, dan ketersediaan fasilitas penukaran baterai menjadi pertimbangan utama.

Skema sewa kendaraan, cicilan terjangkau, serta sistem battery swapping dapat menjadi alternatif untuk mengurangi beban investasi awal sekaligus menjaga produktivitas pengemudi.

Kendaraan Operasional dan Logistik Ikut Menjadi Pasar Potensial

Peluang motor listrik tidak berhenti pada transportasi penumpang. Perusahaan logistik, layanan kurir, ritel, hingga pengelola kawasan industri juga berpotensi memperoleh manfaat dari elektrifikasi armada.

Kajian Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia pada 2026 menunjukkan bahwa sekitar 60 persen sektor logistik perkotaan didominasi penggunaan sepeda motor untuk pengiriman tahap akhir atau last-mile delivery.

Dalam kajian yang sama, motor listrik memiliki rata-rata jarak tempuh maksimum sekitar 82 kilometer dalam kondisi baterai penuh pada kendaraan yang menjadi objek benchmarking.

ITDP juga memperkirakan biaya operasional motor listrik dalam simulasi kepemilikan lima tahun rata-rata 27 persen lebih rendah dibandingkan motor bensin. Potensi penghematannya mencapai Rp150–Rp395 per kilometer, bergantung pada asumsi dan pola operasional.

Bagi perusahaan dengan ratusan hingga ribuan kendaraan, selisih biaya tersebut dapat memberikan dampak signifikan terhadap anggaran operasional.

Penggunaan motor listrik juga berpotensi mendukung pengurangan emisi dan target keberlanjutan perusahaan. Namun, investasi awal, ketersediaan bengkel, infrastruktur pengisian, dan pengelolaan baterai tetap harus diperhitungkan.

Baterai dan Infrastruktur Jadi Penentu Masa Depan Motor Listrik

Di balik peluang penghematan, perkembangan motor listrik Indonesia sangat bergantung pada kesiapan ekosistem baterai.

Salah satu teknologi yang menarik perhatian adalah battery swapping, yaitu sistem penukaran baterai kosong dengan baterai yang telah terisi. Teknologi ini memungkinkan pengendara kembali beraktivitas tanpa harus menunggu proses pengisian daya.

Bagi pengemudi ojol dan kurir, fasilitas tersebut berpotensi mengurangi waktu kendaraan tidak beroperasi.

Namun, perbedaan standar baterai dan sistem penukaran antarmerek masih menjadi tantangan. Selain itu, jaringan pengisian, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, serta pengelolaan baterai bekas perlu dikembangkan secara berkelanjutan.

Tantangan ini juga berlaku di luar kota besar. Wilayah kepulauan dan daerah dengan jaringan layanan terbatas membutuhkan dukungan teknisi, bengkel, dan infrastruktur yang sesuai dengan karakteristik geografis masing-masing.

Masa Depan Motor Listrik Indonesia: Bukan Sekadar Ganti Kendaraan

Perkembangan motor listrik membuka peluang ekonomi yang lebih luas, mulai dari industri manufaktur, produksi baterai, penyediaan energi, teknologi kendaraan, pembiayaan, hingga daur ulang.

Peluncuran Motor Listrik Nasional (MoLiNas) pada Agustus 2026 juga menjadi bagian dari upaya memperkuat industri, teknologi, dan nilai tambah nasional.

Namun, keberhasilan elektrifikasi kendaraan roda dua tidak cukup diukur dari jumlah unit yang terjual atau diproduksi. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan motor listrik memberikan manfaat nyata bagi konsumen dan pelaku usaha.

Bagi masyarakat, manfaat tersebut harus terlihat dari biaya kepemilikan yang kompetitif. Bagi pengemudi ojol, motor listrik harus mampu mendukung produktivitas dan meningkatkan efisiensi pendapatan. Sementara bagi perusahaan, kendaraan listrik harus memberikan penghematan operasional tanpa mengganggu kelancaran bisnis.

Dengan harga yang semakin terjangkau, infrastruktur yang merata, baterai yang andal, dan kebijakan yang konsisten, motor listrik berpeluang menjadi bagian penting dari masa depan transportasi roda dua Indonesia.

Pada akhirnya, masa depan motor listrik bukan hanya tentang mengganti bensin dengan listrik, melainkan membangun sistem transportasi yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.

(detikoto/bisnis/itpln/katadata/setpres/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN