Tuesday, November 3, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Karhutla di Papua Selatan Ancam Habitat Satwa Endemik dan Burung Migran

Mistar.idSelasa, 3 November 2026 pukul 08.13 WIB
karhutla_di_papua_selatan_ancam_habitat_satwa_endemik_dan_burung_migran

Ilustrasi kebakaran hutan. (Foto: Rmol)


Gambaran mengenai pengaruh kerusakan habitat terhadap satwa Papua juga terlihat dalam penelitian berjudul 'Wildlife in Disturbed Forests: Reptile and Amphibian Diversity in South Papua' yang diterbitkan jurnal Media Konservasi IPB University pada November 2025.

Penelitian tersebut mengamati keanekaragaman reptil dan amfibi di kawasan hutan produksi Boven Digoel, Papua Selatan. Survei lapangan dilakukan pada Juni hingga Juli 2023.

Hasil penelitian menunjukkan kawasan dengan tingkat gangguan habitat tinggi memiliki jumlah individu dan spesies reptil serta amfibi paling sedikit. Peneliti juga menemukan dua spesies reptil yang dilindungi di lokasi penelitian.

Meski penelitian itu berfokus pada gangguan habitat akibat aktivitas penebangan, bukan kebakaran secara khusus, hasilnya memperlihatkan bahwa perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi kehidupan satwa di Papua.

Ancaman lain yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan terganggunya lahan basah yang menjadi tempat persinggahan burung migran. Selama perjalanan antarbenua, burung-burung tersebut membutuhkan lokasi untuk beristirahat sekaligus mendapatkan makanan.

Rawa, padang rumput, dan perairan dangkal menyediakan berbagai sumber pakan, seperti ikan kecil, serangga, serta organisme air lainnya. Apabila vegetasi di sekitar kawasan tersebut terbakar, kondisi habitat dapat berubah dan berpotensi mengurangi ketersediaan makanan maupun tempat berlindung bagi satwa.

Damianus V.S. Woghomugu dan Hermanus Warmetan dari Universitas Papua dalam penelitiannya turut menjelaskan pentingnya pengelolaan lahan basah Taman Nasional Wasur sebagai habitat burung migran.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kekayaan keanekaragaman hayati Wasur terbentuk dari perpaduan berbagai tipe hutan, karakteristik kawasan, dan kondisi habitat yang membangun ekosistem tersendiri. Dengan demikian, kerusakan pada satu bagian habitat berpotensi memengaruhi fungsi ekologis kawasan secara lebih luas.

Selain dampak langsung, kebakaran yang terjadi berulang kali juga menjadi ancaman bagi kelestarian ekosistem. Hutan membutuhkan waktu untuk memulihkan vegetasi dan fungsi ekologisnya setelah mengalami kebakaran.

Penelitian dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada April 2024 berjudul 'Impacts of Fire and Prospects for Recovery in a Tropical Peat Forest Ecosystem' mengungkap dampak kebakaran terhadap ekosistem hutan gambut tropis di Indonesia.

Studi yang menganalisis data ekosistem dan keanekaragaman hayati selama 16 tahun itu menemukan bahwa hutan yang terbakar mengalami penurunan kualitas struktur habitat, kepadatan pohon, dan tutupan tajuk sekitar 58-98 persen dibandingkan hutan yang tidak terbakar.

Penurunan jumlah dan keanekaragaman spesies juga ditemukan pada sejumlah kelompok organisme, terutama pohon, capung jarum, dan kupu-kupu. Dampak paling besar terlihat pada spesies yang bergantung pada habitat hutan.

Meski demikian, penelitian tersebut menemukan sejumlah indikator ekosistem mulai menunjukkan pemulihan dalam kurun waktu 12 tahun. Namun, kebakaran berulang berpotensi memperlambat bahkan membalikkan proses pemulihan tersebut.

Penelitian itu dilakukan pada ekosistem gambut tropis di Indonesia, bukan secara khusus di Papua. Kendati demikian, temuannya memberikan gambaran mengenai dampak kebakaran berulang terhadap struktur hutan dan keanekaragaman hayati.

Dengan demikian, dampak karhutla terhadap keanekaragaman hayati tidak cukup dinilai hanya berdasarkan luas lahan yang terbakar atau jumlah pohon yang rusak. Kondisi ekosistem juga bergantung pada kemampuan habitat menyediakan makanan, tempat berlindung, lokasi berkembang biak, serta menjaga hubungan antarmakhluk hidup di dalamnya.

Pada ekosistem lahan basah, perubahan vegetasi dan kondisi perairan juga berpotensi memengaruhi organisme akuatik yang menjadi bagian dari rantai makanan.

Oleh karena itu, penanganan karhutla perlu disertai pemantauan kondisi ekosistem dan pemulihan habitat setelah kebakaran. Pengawasan terhadap kawasan rawan terbakar, perlindungan habitat satwa, serta restorasi vegetasi menjadi langkah penting untuk mempertahankan keanekaragaman hayati Papua.[]



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN