Tuesday, November 3, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Enam Kabupaten di Jawa Timur Dilanda Banjir dan Longsor

Mistar.idSelasa, 3 November 2026 pukul 10.58 WIB
enam_kabupaten_di_jawa_timur_dilanda_banjir_dan_longsor

Tanah longsor di Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, Senin (2/11/2026). (Foto: Tribun Jatim)

Lumajang, MISTAR.ID – Enam kabupaten di Provinsi Jawa Timur dilanda bencana banjir dan tanah longsor pada Senin (2/11/2026). Wilayah terdampak meliputi Kabupaten Lumajang, Malang, Pacitan, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur, Satriyo Nurseno, mengatakan bencana tersebut dipicu hujan lebat yang mengguyur sejumlah wilayah sejak Minggu (1/11/2026) malam.

Di Kabupaten Lumajang, banjir lahar hujan dari Gunung Semeru melanda tiga kecamatan, yakni Pasirian, Jatiroto, dan Tempursari. Jumlah warga yang terdampak diperkirakan mencapai lebih dari 1.100 jiwa.

"Kejadian tersebut dipicu oleh hujan dengan intensitas lebat yang berlangsung cukup lama sejak Minggu. Selain itu, aliran Sungai Glidik yang berhulu di kawasan Gunung Semeru mengalami peningkatan debit air sehingga mengakibatkan banjir di wilayah tersebut," kata Satriyo.

Di Kecamatan Jatiroto, genangan air setinggi 20 hingga 60 sentimeter merendam Dusun Persil, Desa Rojopolo. Banjir menggenangi permukiman warga di RW 09, 10, dan 11 dengan jumlah terdampak sekitar 500 jiwa.

Dampak lebih parah terjadi di Kecamatan Tempursari. Banjir dan longsor menerjang enam desa, yakni Purworejo, Kaliuling, Purorejo, Tempursari, Bulurejo, dan Pundungsari.

Sekitar 600 jiwa terdampak di kawasan tersebut. Bahkan, 117 kepala keluarga (KK) di Dusun Taman Sari terisolasi setelah akses jalan menuju wilayah itu terputus akibat derasnya arus Sungai Glidik.

Selain itu, tiga rumah warga dilaporkan ambruk pada bagian teras. Kerusakan tanggul juga terjadi di Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian.

Beralih ke Kabupaten Malang, banjir akibat luapan air menggenangi Desa Sitiarjo di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Desa Lebakharjo di Kecamatan Ampelgading. Ketinggian air di kedua wilayah tersebut berkisar 30 hingga 40 sentimeter.

"Curah hujan tersebut mengakibatkan peningkatan debit air sungai hingga meluap dan menggenangi badan jalan di beberapa titik," ucapnya.

Hujan deras juga memicu longsor di sejumlah titik yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Malang, yaitu Ampelgading, Dampit, Sumbermanjing Wetan, dan Bantur. Material longsor yang menutup jalan raya sempat mengganggu kelancaran lalu lintas.

"Dampak tanah longsor hanya di jalan raya, lalulintas terganggu, korban jiwa nihil," ucapnya.

Sementara itu, di Kabupaten Pacitan, hujan deras menyebabkan tebing di Dusun Jeruk, Desa Ngumbul, Kecamatan Tulakan, longsor. Material tanah menimpa dinding rumah warga hingga mengakibatkan satu unit rumah mengalami kerusakan ringan.

"Pada pukul 05.00 WIB (2/11/2026), wilayah setempat diguyur hujan dengan intensitas cukup deras. Kondisi tersebut mengakibatkan tebing di samping rumah warga mengalami longsor. Material longsoran kemudian menimpa dinding rumah hingga menyebabkan kerusakan pada bagian bangunan," ucapnya.

Peristiwa longsor juga terjadi di Desa Gunosari, Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso. Dinding sawah sepanjang 14 meter dengan tinggi 4 meter ambrol dan materialnya merusak satu rumah warga.

"Sekitar pukul 02.00 WIB, terjadi longsor pada dinding sawah yang mengakibatkan material tanah menimpa dan merusak tembok rumah warga. Dalam kejadian tersebut tidak terdapat korban jiwa," ujarnya.

Di Kabupaten Jember, luapan Sungai Silo sempat menggenangi jalan raya penghubung antardesa di Dusun Kebun Langsep. Namun, genangan tersebut kini telah surut sepenuhnya.

Adapun di Kabupaten Banyuwangi, hujan lebat menyebabkan saluran drainase tersumbat di Dusun Margomakmur, Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru. Akibatnya, air menggenangi kawasan tersebut dengan ketinggian 10 hingga 25 sentimeter dan menyebabkan satu rumah warga mengalami kerusakan ringan.

Satriyo mengatakan, personel BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD kabupaten telah melakukan penanganan darurat, memantau lokasi terdampak, serta mendata kerusakan dan kebutuhan warga. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait juga dilakukan untuk membuka akses jalan serta memenuhi kebutuhan logistik masyarakat terdampak.

"Personel BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD kabupaten melakukan penanganan darurat, pemantauan lokasi terdampak, serta pendataan kerusakan dan kebutuhan warga. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait untuk pembukaan akses jalan serta pemenuhan kebutuhan logistik warga terdampak," katanya.

Meski bencana tersebar di enam kabupaten dan menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah kecamatan, BPBD Jawa Timur memastikan tidak ada korban jiwa dalam seluruh kejadian tersebut.

"Tim gabungan di masing-masing kabupaten saat ini masih disiagakan untuk membersihkan material sisa longsor dan memantau kondisi debit sungai," ucapnya. (cnn)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN