68 Orang Tewas, Lebih 4.500 Bangunan Rusak, Menko PMK Instruksikan Satgas Gempa NTT

Warga terdampak gempa di tenda pengungsian di Reo, Nusa Tenggara Timur, Senin, 17 Agustus 2026. (ap/dicky bisinglasi)
Manggarai, MISTAR.ID - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menginstruksikan pemerintah daerah segera membentuk satuan tugas (satgas) untuk mempercepat penanganan korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT), di tengah banyaknya titik pengungsian dan wilayah terdampak.
Dilansir detikNews, Selasa (18/8/2026), Pratikno mengatakan pembentukan satgas diperlukan karena pengungsian tersebar di sejumlah lokasi dan masih terdapat kebutuhan dasar warga yang harus segera dipenuhi.
"Kami dorong agar satgas daerah segera dibentuk, karena lokasi pengungsian ada di beberapa titik. Selain itu, kami melihat masih ada kebutuhan dasar para pengungsi yang harus dipenuhi," ujar Pratikno dalam keterangan tertulis BNPB.
Pratikno sebelumnya meninjau lokasi pengungsian terpusat warga terdampak gempa M 7 Flores di Lapangan Pendidikan Barangkolong, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Senin (17/8/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Pratikno didampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto. Keduanya melihat langsung kondisi warga sekaligus memastikan kebutuhan dasar di pengungsian terpenuhi.
Pratikno dan Suharyanto juga berdialog dengan warga untuk mengetahui kebutuhan yang masih diperlukan. Hasil pemantauan tersebut menjadi catatan untuk ditindaklanjuti melalui koordinasi BNPB, kementerian/lembaga, dan pemerintah daerah.
Besarnya dampak gempa membuat percepatan penanganan dan distribusi bantuan menjadi perhatian utama. Associated Press (AP) melaporkan sedikitnya 68 orang tewas dan 213 orang terluka akibat gempa yang mengguncang Flores.
Sekitar 19.000 warga terpaksa mengungsi, sementara lebih dari 4.500 bangunan dilaporkan rusak. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas kesehatan, sekolah, dan tempat ibadah di sejumlah wilayah terdampak.
Sejumlah akses jalan turut terhambat akibat longsor, pohon tumbang, dan material batu yang menutup jalur. Kondisi tersebut menyulitkan distribusi bantuan menuju beberapa daerah yang terdampak cukup parah.
Sementara itu, bantuan logistik dan peralatan yang dikirim dari Jakarta telah tiba di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Bantuan tersebut selanjutnya didistribusikan ke lokasi-lokasi pengungsian.
Untuk pemenuhan kebutuhan pangan, BNPB telah berkoordinasi dengan Kementerian Sosial guna mendukung operasional dapur umum yang dikelola Taruna Siaga Bencana (Tagana).
Selama berada di pengungsian, warga terdampak akan mendapatkan makanan tiga kali sehari dengan tetap memperhatikan kebutuhan asupan gizi.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Kemensos. Nanti dapur umum akan menyuplai kebutuhan makanan para pengungsi sehari-hari selama di pengungsian," kata Suharyanto.
BNPB juga berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk menambah tenaga kesehatan dari berbagai wilayah. Ketersediaan obat-obatan dan peralatan medis juga akan diperkuat.
"Untuk Kemenkes, akan ditambah tenaga medis beserta obat-obatan dan peralatan penunjang medis," ujar Suharyanto.
Berdasarkan laporan AP, pemerintah juga mengerahkan personel TNI dan Polri serta sarana transportasi udara dan laut untuk membantu operasi penanganan bencana dan distribusi bantuan.
Sebelum meninggalkan lokasi pengungsian, Suharyanto menyerahkan bantuan logistik secara langsung kepada warga terdampak sebagai dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar selama masa pengungsian. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Pemerintah Nyatakan Masih Mampu Tangani Dampak Gempa NTT



















