Inflasi September 2026 Naik Jadi 3,28 Persen, Harga Pangan Jadi Salah Satu Tekanan Utama

Inflasi September 2026 Naik Jadi 3,28 Persen, Harga Pangan Jadi Salah Satu Tekanan Utama. (foto:bps/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (2/10/2026) — Inflasi September 2026 naik menjadi 3,28% secara tahunan, tetapi angka tersebut bukan satu-satunya cerita. Di balik kenaikan inflasi Indonesia, harga pangan justru bergerak lebih kencang dengan inflasi volatile food mencapai 5,03%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 secara bulanan sebesar 0,30%, sedangkan inflasi sepanjang Januari-September atau year to date mencapai 2,17%. Sementara itu, inflasi inti tercatat 2,84% secara tahunan.
Pertanyaannya, barang apa yang paling mendorong inflasi September 2026 dan mengapa kenaikan harga terasa semakin dekat dengan pengeluaran sehari-hari?
Pangan Jadi Salah Satu Tekanan Utama
Kelompok pangan menjadi salah satu perhatian terbesar dalam inflasi September 2026.
Bank Indonesia mencatat volatile food mengalami inflasi 1,46% secara bulanan, meningkat dari 0,88% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi kelompok ini melonjak menjadi 5,03%, dari 4,06% pada bulan sebelumnya.
Komoditas yang paling banyak memberikan tekanan antara lain cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras.
Menurut Bank Indonesia, kenaikan tersebut berkaitan dengan penurunan produksi di sejumlah daerah sentra akibat gangguan cuaca serta meningkatnya biaya input produksi.
Ini menjadi bagian yang paling penting bagi konsumen. Harga pangan merupakan pengeluaran yang sulit ditunda, sehingga kenaikannya dapat langsung terasa dalam belanja harian.
Inflasi 3,28%, tetapi Pangan Sudah 5,03%
Perbedaan antara inflasi umum dan volatile food memberikan gambaran menarik mengenai kondisi harga.
Inflasi nasional: 3,28%.
Inflasi pangan bergejolak: 5,03%.
Artinya, konsumen yang porsi pengeluarannya besar untuk makanan bisa merasakan tekanan harga yang lebih tinggi dibandingkan angka inflasi nasional.
Karena itu, membaca inflasi September 2026 hanya dari angka 3,28% belum memberikan gambaran utuh mengenai perubahan biaya hidup masyarakat.
Inflasi Inti Justru Melandai
Di tengah kenaikan inflasi umum dan pangan, inflasi inti justru menunjukkan perkembangan berbeda.
Inflasi inti September 2026 tercatat 2,84% secara tahunan, turun dari 2,92% pada Agustus. Secara bulanan, inflasi inti hanya 0,10%, lebih rendah dibandingkan 0,21% pada bulan sebelumnya.
Bank Indonesia menyebut inflasi inti tetap terjaga di tengah harga komoditas global yang masih tinggi. Secara bulanan, komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi inti adalah biaya kuliah akademi/perguruan tinggi. Sementara secara tahunan, emas perhiasan menjadi salah satu penyumbang utama inflasi inti, sejalan dengan kenaikan harga emas dunia.
Dengan demikian, kenaikan inflasi September belum menunjukkan tekanan harga yang meningkat secara merata pada seluruh komponen.
BBM dan Transportasi Ikut Memengaruhi Harga
Kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices mengalami inflasi bulanan yang rendah, mendekati 0%.
Bank Indonesia mencatat tekanan terutama berasal dari bensin dan solar, seiring kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex pada September. Di sisi lain, tarif angkutan udara mengalami penurunan sehingga menahan tekanan pada kelompok tersebut.
Kenaikan biaya energi dan transportasi penting diperhatikan karena dapat memengaruhi biaya distribusi barang dan jasa.
Harga di Tingkat Perdagangan Besar Naik Lebih Tinggi
Ada indikator lain yang menarik dari data BPS.
Pada September 2026, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) naik 6,76% secara tahunan dan 0,62% secara bulanan. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga tahunan antara lain solar industri, elpiji nonsubsidi, beras, minyak pelumas, dan solar transportasi.
Namun, angka IHPB tidak berarti harga konsumen otomatis akan naik dengan besaran yang sama. Perubahan harga di tingkat perdagangan besar masih dipengaruhi biaya usaha, permintaan, margin perdagangan, serta kemampuan pelaku usaha meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
Inflasi Indonesia Tidak Sama di Semua Daerah
Angka nasional juga menyimpan perbedaan yang cukup lebar antardaerah.
BPS mencatat inflasi tahunan tertinggi pada September 2026 terjadi di Sulawesi Utara sebesar 7,59%, sedangkan yang terendah berada di Sumatera Selatan sebesar 2,55%.
Di tingkat kabupaten/kota, inflasi tertinggi tercatat di Minahasa Utara sebesar 9,05%, sementara yang terendah berada di Timor Tengah Selatan sebesar 1,04%.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa pengalaman masyarakat terhadap inflasi sangat bergantung pada kondisi harga dan struktur konsumsi di masing-masing daerah.
Apa Dampaknya bagi Pengeluaran Masyarakat?
Inflasi September 2026 menunjukkan bahwa tekanan harga masih berada dalam sasaran Bank Indonesia, yakni 2,5% ± 1%. Bank Indonesia juga memperkirakan inflasi tetap terkendali dalam kisaran sasaran pada 2026 dan 2027.
Namun, perhatian tetap perlu diarahkan pada harga pangan, cuaca, biaya produksi, energi, dan harga komoditas global.
Bagi masyarakat, angka yang paling relevan bukan hanya inflasi nasional 3,28%, melainkan harga barang yang paling sering dibeli.
Jika harga beras, telur, ayam, cabai, BBM, dan kebutuhan sehari-hari naik bersamaan, tekanan terhadap anggaran rumah tangga tentu lebih cepat terasa.
Kesimpulannya, Inflasi September 2026 naik menjadi 3,28%, tetapi tekanan terbesar justru terlihat pada pangan.
Inflasi volatile food yang mencapai 5,03% menunjukkan bahwa kenaikan harga kebutuhan makanan masih menjadi perhatian. Di sisi lain, inflasi inti yang turun menjadi 2,84% memberikan sinyal bahwa tekanan harga belum menyebar secara merata.
Memasuki kuartal IV 2026, perkembangan harga pangan dan cuaca akan menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan untuk melihat arah inflasi Indonesia berikutnya.
(bps/*/hm27)













































