Monday, July 20, 2026
home_banner_first
MEDAN

Petani Muda Hanya 21 Persen, Akademisi Sebut Ancaman Ketahanan Pangan

Mistar.idRabu, 26 November 2025 pukul 11.19 WIB
petani_muda_hanya_21_persen_akademisi_sebut_ancaman_ketahanan_pangan

Seminar nasional yang digelar BEM FP USU guna mengajak pemuda agar jadi agen solusi ketahanan pangan (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Rendahnya minat generasi muda menjadi petani dinilai sebagai ancaman serius bagi masa depan ketahanan pangan. Perwakilan Bina Keterampilan Pedesaan (BITRA) Indonesia, Gregorius Saragih, mengatakan data Sensus Pertanian 2023 menyebutkan hanya 21 persen petani di Indonesia yang berasal dari kelompok usia muda.

“Proporsi pemuda di negeri ini jauh lebih besar dibandingkan usia lanjut, padahal mereka berperan penting dalam regenerasi petani yang menggunakan inovasi dan teknologi,” tuturnya saat menghadiri kegiatan seminar bertema ‘Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Ketahanan Pangan Nasional’ di Aula Soeratman FP USU, Rabu (26/11/2025).

Ia menyebut kurangnya edukasi dan keliru­nya persepsi terhadap profesi petani menjadi penyebab utama. Gregorius menegaskan bahwa profesi petani adalah pekerjaan mulia dan generasi muda memiliki peluang besar untuk membawa inovasi serta teknologi ke desa-desa.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk mendorong praktik pertanian berkelanjutan. “Penggunaan pupuk dan metode yang ramah lingkungan harus mulai didorong oleh pemuda,” katanya.

Sementara itu, Kepala Prodi Agribisnis FP USU Dr. Rulianda Purnomo Wibowo mengingatkan bahwa peran pemuda tidak boleh berhenti pada tuntutan fasilitas. Ia menekankan pentingnya aksi nyata yang memberi dampak langsung di lapangan.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian pemuda memberikan inovasi dan turun langsung membantu masyarakat,” ucapnya.

Rulianda mencontohkan dua figur inspiratif seperti Kasim Arifin dari Aceh, yang dikenal lewat pengabdian dan pemberdayaan petani, serta William Kamkwamba, inovator muda Malawi yang membangun kincir angin sederhana untuk menggerakkan pompa air bagi desanya.

Menurutnya, kedua tokoh itu membuktikan bahwa fokus pada solusi dan empati adalah ciri pemuda yang berdaya. Ia berharap seminar seperti ini dapat memperkuat ekosistem kolaboratif di lingkungan kampus guna menciptakan terobosan pertanian.

Mantan Ketua BEM FP USU 2023/2024, M. Rofiqul Firdaus Siregar, menegaskan bahwa generasi muda memiliki ruang besar untuk berkontribusi melalui literasi pangan, terutama dengan memanfaatkan media sosial.

Ia melihat semakin banyak petani milenial yang mampu menginspirasi mahasiswa pertanian untuk membuat inovasi baru.

Rofiqul menambahkan bahwa sebagian kelompok tani masih belum mengetahui adanya program pemerintah yang dapat mereka akses, termasuk potongan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen.

“Padahal, ketersediaan pupuk yang terjangkau merupakan faktor kunci dalam penguatan ketahanan pangan nasional,” kata Rofiqul.

Selanjutnya, Koordinator Pusat Aliansi BEM Seluruh Indonesia 2025/2026, Muzammil Ihsan, turut mengapresiasi peningkatan alokasi pupuk subsidi nasional. Ia menyebut peningkatan dari sekitar 4,5 juta ton menjadi 9,5 juta ton sebagai langkah penting pemerintah dalam menjaga produktivitas petani.

Namun, ia menekankan pentingnya pendataan akurat agar pupuk tersalurkan tepat sasaran. “Petani harus terdaftar dalam sistem e-RDKK agar benar-benar menjadi penerima manfaat,” katanya lagi. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN