Saturday, August 8, 2026
home_banner_first
MEDAN

Mengenal Daniel Irawan, Dokter Dermatologi Sekaligus Creative Producer yang Punya Puluhan Ribu Koleksi Film

Mistar.idSabtu, 8 Agustus 2026 pukul 17.19 WIB
mengenal_daniel_irawan_dokter_dermatologi_sekaligus_creative_producer_yang_punya_puluhan_ribu_koleksi_film

dr. Daniel Irawan, spesialis dermatologi yang juga aktif sebagai creative producer perfilman. (Foto: Susan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Dokter spesialis dermatologi (kulit dan kelamin) asal Medan, dr. Daniel Irawan, menunjukkan profesi medis masih dapat berjalan selaras dengan dunia seni peran.

Di tengah kesibukannya mengelola klinik kesehatan pribadi, ia juga aktif berkarier di balik layar industri perfilman nasional sebagai creative producer di rumah produksi Magma Entertainment.

Awal perjalanannya memasuki dunia perfilman bermula dari hobi masa kecil yang ditularkan oleh orang tuanya yang juga berprofesi sebagai dokter. Mereka kerap menonton bersama di rumah maupun di bioskop.

Ia pun akhirnya mencoba menulis review film sejak di bangku kuliah dengan mengisi rubrik kritik film dan artikel kesehatan pada salah satu koran di Medan setiap hari Minggu sejak tahun 1997.

Karier sinematiknya berkembang secara bertahap. Berawal dari penulis ulasan film di koran harian, blog pribadi, hingga forum Kaskus di era internet 2000-an yang mempertemukannya dengan anak-anak film lainnya. Tulisannya pun mulai dilirik oleh para pembuat film (filmmaker).

“Pertama kali saya diminta jadi konsultan skrip medis, karena memang saya suka film dan suka mengulas. Saya bukan masuk langsung jadi produser,” katanya dalam Podcast Mistar, Sabtu (8/8/2026).

Ia juga kerap diajak menjadi juri festival film lokal, seperti Festival Film Anak dengan ruang lingkup nasional, bersama almarhum Didi Petet, hingga dipercaya menjadi juri Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 2012.

Masuknya Daniel ke industri perfilman diawali sebagai konsultan skrip medis untuk film berjudul ‘Langit ke-7’ yang disutradarai Rudi Soedjarwo. Posisi tersebut diambil guna memperbaiki akurasi adegan medis di film Indonesia, seperti tata cara penanganan pasien koma yang selama ini dinilai sering mengabaikan ketepatan teknis kesehatan.

Selepas itu, ia bergabung dengan Magma Entertainment sejak 2013 dan memulai debutnya sebagai creative producer lewat film komedi berjudul ‘Finding Srimulat’. Film lain yang juga diproduserinya yakni ‘Tumbal Darah’, ‘Qodrat’, dan ‘Qodrat 2’, hingga yang terakhir sudah selesai tayang yaitu ‘Badut Gendong’. Ke depan, mereka akan meluncurkan film bergenre horor komedi berjudul ‘Jumpscare’ yang dijadwalkan rilis pada Januari mendatang.

Selain aktif di dunia perfilman, ayah dari dua anak ini juga merupakan kolektor film yang sudah mengumpulkan hingga puluhan ribu film. Saat ini, koleksi film di kediamannya sudah mencapai 35.000 judul yang dikumpulkannya sejak kecil sampai sekarang.

“Dari kecil koleksinya, waktu itu formatnya masih VHS kalau di tahun 80-an. Kemudian muncul LaserDisc, VCD, kemudian DVD. Jadi dari kecil sudah ngumpulin, tapi jumlahnya nggak sebanyak sekarang, karena minta sama orang tua kan,” ujarnya.

Tidak hanya film, ia juga mengumpulkan beragam pernak-pernik langka, poster, flyer, serta foto syuting film Indonesia pada era 1970 hingga 1980-an. Ia aktif mencari koleksi baru kala ada pameran-pameran perfilman.

Menyadari lemahnya sistem pengarsipan film nasional pra-digital, Daniel secara mandiri berburu kaset kuno yang tak lagi dijual di pasaran. Ia bahkan aktif berjejaring di forum internasional untuk melacak ekspatriat yang menyimpan kaset film jadul Indonesia, lalu melakukan sistem barter demi mendigitalisasi film-film klasik tersebut ke format DVD sebelum dikembalikan.

Ke depan, Daniel memiliki keinginan untuk memboyong koleksi terawatnya tersebut menjadi museum film atau ruang pameran edukatif agar generasi muda dapat mempelajari sejarah panjang sinema Tanah Air.

“Pengennya punya museum sih. Yang bisa kita pamerkan. Koleksi ditaruh di kafe gitu, juga sudah banyak yang ngajak. Teman-teman juga sebenarnya sudah banyak yang datang main ke rumah, mereka buat video di YouTube atau medsos gitu tentang koleksi,” ucapnya. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN