Thursday, September 24, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Anak Keracunan Makanan, Dokter IDAI Bagikan Pertolongan Pertama di Rumah

Mistar.idKamis, 24 September 2026 pukul 07.30 WIB
anak_keracunan_makanan_dokter_idai_bagikan_pertolongan_pertama_di_rumah

Ilustrasi anak mengalami keracunan makanan (foto: Artificial Intelligence/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Kasus keracunan makanan yang melibatkan siswa sekolah membuat pengetahuan tentang pertolongan pertama penting bagi keluarga, terutama ketika kondisi tersebut terjadi di rumah.

Ketua Unit Kerja Kelompok (UKK) Emergensi dan Terapi Intensif Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Yogi Prawira, Sp.A, Subsp.ETIA (K), menyarankan makanan yang dicurigai sebagai sumber keracunan segera dihentikan konsumsinya.

Sisa makanan tersebut juga sebaiknya disimpan dan tidak dibuang karena dapat diperlukan untuk kepentingan investigasi.

"Pertama hentikan makanan yang dicurigai jadi penyebab keracunan anak dan simpan sisa makanan tersebut dan jangan dibuang karena hal itu harus diinvestigasi," ujar Yogi, Rabu (23/9/2026).

Untuk mencegah kekurangan cairan, oralit atau larutan air, gula dan garam dapat diberikan sedikit demi sedikit tetapi sering. Bila terjadi muntah, pemberian cairan tidak perlu dihentikan, melainkan dilakukan lebih perlahan.

Menurut Yogi, asupan makanan maupun air susu ibu (ASI) tetap dapat diberikan sesuai kemampuan. Anak juga tidak perlu dipuasakan karena tidak mempercepat proses penyembuhan.

"Setelah muntah mereda, orang tua dapat berikan makanan lunak dalam porsi kecil seperti bubur, pisang, roti dan istirahatkan anak, dan pantau berapa kali anak buang air kecil," katanya.

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu turut menjelaskan sejumlah tindakan yang perlu dihindari selama penanganan di rumah.

Salah satunya, membuat larutan garam sendiri sebagai pengganti oralit. Menurut Yogi, kadar garam yang tidak tepat dapat berbahaya bagi tubuh anak.

"Jangan buat larutan garam sendiri sebagai pengganti oralit atau cairan dari larutan air, gula dan garam, karena kadar garam dalam tubuh anak sedang tidak terkendali dan berbahaya bagi anak," tuturnya.

Ia juga meminta obat penghenti diare tidak diberikan tanpa resep dokter. Pemberian obat tersebut dikhawatirkan membuat racun dan kuman tertahan lebih lama di dalam usus.

Antibiotik pun tidak boleh diberikan atas inisiatif sendiri. Selain itu, penanganan di rumah tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Emergensi dan Terapi Intensif Anak itu menekankan agar kondisi anak terus dipantau dan segera mendapat pertolongan medis ketika diperlukan. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN