DPRD Sumut Dorong Pemda Terapkan Pertanian Berbasis Teknologi dan Hilirisasi

Anggota Komisi B DPRD Sumatera Utara (Sumut), Gusmiyadi. (foto: istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Anggota Komisi B DPRD Sumatera Utara (Sumut), Gusmiyadi, mendorong pemerintah daerah (Pemda) untuk memperkuat pendekatan teknologi dan hilirisasi di sektor pertanian guna meningkatkan produktivitas sekaligus menarik minat generasi muda.
Menurutnya, kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan harga gabah sebesar Rp6.500 per kilogram telah memberi dampak positif bagi petani. Pasalnya, hal serupa juga terjadi pada komoditas jagung. Ia menilai kebijakan tersebut membuat petani kembali bergairah menanam padi, bahkan lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif kini kembali diolah.
“Akibat kebijakan ini, lahan yang sebelumnya tidak produktif kembali dimanfaatkan. Ini berdampak langsung pada peningkatan hasil panen dan memperkuat langkah pemerintah menuju swasembada pangan. Ini menjadi faktor yang membuat kita harus bergerak cepat,” ujarnya, Senin (5/1/2026).
Ia menekankan tantangan di lapangan saat ini adalah minimnya tenaga kerja pertanian, khususnya untuk aktivitas menanam padi. Oleh karena itu, kata Gusmiyadi, ketersediaan alat dan mesin pertanian modern menjadi kebutuhan mendesak yang harus segera disiapkan Pemprov Sumut.
“Kalau tenaga kerja menanam padi sudah semakin sedikit, maka alat pertanian untuk menandur padi harus tersedia. Dengan begitu, petani bisa bekerja lebih mudah dan efisien,” ucap Politisi Gerindra tersebut.
Gusmiyadi menilai pendekatan teknologi tidak hanya mempermudah pekerjaan petani, tetapi juga membuka peluang lahirnya regenerasi petani. Ia melihat generasi milenial dan Gen Z mulai melirik sektor pertanian karena dinilai semakin menguntungkan dan didukung teknologi modern.
“Di daerah lain, pemupukan sudah menggunakan drone, penyiraman memakai teknologi tertentu, dan proses hilirisasi didukung mesin produksi. Pemerintah harus hadir menyediakan fasilitas ini agar pertanian semakin efisien dan menarik bagi anak muda,” katanya.
Ia turut mengingatkan lemahnya regenerasi petani harus menjadi perhatian serius semua pihak, khususnya pemerintah daerah. Ia menilai jika tanpa langkah konkret, sektor pertanian ke depan bisa mengalami krisis tenaga produktif.
Sebagai contoh, ia menyebut kondisi pertanian di wilayah Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun yang terus menunjukkan peningkatan dan dinilai semakin baik berkat dukungan kebijakan dan teknologi.
“Inilah perjuangan kita, menciptakan regenerasi petani yang kuat demi ketahanan pangan Sumut dan Indonesia ke depan,” tutur Ketua DPC Gerindra Siantar itu.






















