Pakkat, Lalapan Rotan Khas Mandailing yang Jadi Primadona Saat Ramadan

Pedagang Pakkat di Kota Medan (foto:istimewa/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pakkat mungkin tidak begitu familiar di telinga sebagian masyarakat. Namanya juga tidak setenar ikan sale atau toge Panyabungan yang dikenal sebagai makanan khas Mandailing.
Namun, hampir di setiap daerah selalu ada pedagang pakkat saat bulan Ramadan. Bahkan, panganan yang berasal dari rotan muda ini cukup menjadi primadona selama bulan suci tersebut.
Dipadukan dengan sambal pedas, pakkat yang terkenal dengan rasa pahitnya menjadi lalapan yang lezat, terutama saat berbuka puasa.
Namun tahukah kamu, pada awalnya pakkat ditemukan pada masa kolonial. Di tengah sulitnya mencari bahan makanan, masyarakat adat secara tidak sengaja menemukannya di hutan.
Sejak saat itu, pakkat menjadi salah satu makanan pokok masyarakat sebagai pengganti nasi. Kandungan vitamin C, air, flavonoid, dan tanin dipercaya masyarakat sebagai sumber energi sekaligus herbal untuk menjaga kesehatan pada masa itu.
Di Kota Medan sendiri, penjual pakkat cukup banyak ditemui. Aktivitas tersebut dapat ditemukan di sejumlah titik, seperti di Jalan Denai dan Jalan Letda Sujono. Hal ini seiring dengan banyaknya warga bersuku Mandailing yang menetap di kawasan tersebut.
Salah seorang pedagang pakkat, Lina, mengaku omzet penjualannya selalu meningkat saat bulan Ramadan.
“Penjualannya naik drastis. Apalagi sudah ada pelanggan tetap yang selalu membeli,” katanya kepada Mistar.
Ia mengaku telah menjalankan usahanya lebih dari 20 tahun di kawasan Jalan Denai.
“Kalau bulan Ramadan kami buka dua lapak dengan jarak sekitar 200 meter. Adik saya juga ikut berjualan. Alhamdulillah selalu laris karena pelanggan baru juga bermunculan. Mungkin mereka penasaran dengan rasa pakkat,” ujar warga Jalan Langgar, Kecamatan Medan Denai, tersebut.
PREVIOUS ARTICLE
Fungsi Lubang Kecil di Tutup Gelas Kopi Takeaway





















