Pakat, Kuliner Khas Mandailing Laris Manis di Medan Saat Ramadan

Penjual Pakat makanan khas Mandailing yang jadi bagian dari takjil saat bulan Ramadan (foto: berry/mistar)
Medan, MISTAR.ID
Pucuk rotan muda atau dikenal dengan sebutan Pakat merupakan kuliner khas Mandailing Natal yang banyak ditemui saat bulan Ramadan dan dicari menjelang waktu berbuka puasa. Bagi masyarakat Suku Mandailing dan para penikmatnya, Pakat sudah tidak asing lagi.
Endang Wahyuni (49), penjual Pakat di Jalan Panglima Denai, Kelurahan Amplas, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, menjadi satu-satunya yang menjual kuliner khas Mandailing di kawasan tersebut.
Lapaknya yang berada di pinggir jalan, tepat di depan tanah wakaf perkuburan muslim, mudah dikenali dari ratusan pucuk rotan muda yang dipajang, disertai asap putih dari bakaran kayu dan sabut kelapa.
Di antara berbagai jenis makanan yang dijual menjelang berbuka puasa, Endang mengatakan Pakat merupakan makanan musiman Ramadan yang memiliki peminat tersendiri, khususnya masyarakat Mandailing.
“Banyak peminatnya. Orang Mandailing kalau lihat kita jualan seperti ini, dengan asap putih mengepul dan batang rotan berjejer, pasti berdatangan, apalagi pelanggan tetap dari tahun ke tahun,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Wanita berjilbab hijau itu tak dapat menyembunyikan rasa syukurnya. Pucuk rotan muda yang dijualnya hampir selalu habis terjual setiap hari.
Menurutnya, Pakat memiliki cita rasa mirip daun pepaya, dengan sensasi pahit dan sepat. Cara menikmatinya cukup mudah, bisa dilalap bersama nasi, dimasak dengan bumbu tertentu, atau disantap dengan sambal yang telah ia sediakan.
“Kalau di bulan Ramadan ini, terkadang nafsu makan berkurang. Makan Pakat bisa menambah selera, rasanya pahit khas tapi ada sedikit manis yang tertinggal di lidah,” ucapnya sembari melayani pelanggan yang silih berganti datang.
Pakat dibakar menggunakan api hingga bagian luarnya menghitam. Proses pembakaran tidak membutuhkan waktu lama sebelum disajikan. Bagian luar rotan berwarna hijau kontras dengan umbut berwarna putih yang bertekstur lembut.
Pakat dijual dengan harga Rp4.000 per batang atau Rp20.000 untuk lima batang. Endang membeli Pakat dari pembudidaya seharga Rp2.000 per batang. Namun, ongkos pengiriman menggunakan bus mencapai Rp50.000 per ikat.
Pucuk rotan muda tersebut diperoleh dari Kota Pinang, Labuhanbatu Selatan, serta pesisir Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara. Dalam sehari, ia mampu menjual empat ikat Pakat atau setara 400 pucuk rotan muda.
Selain Pakat, Endang juga menjual lemang bakar dan ikan asap. Omzet yang diperolehnya per hari bisa mencapai Rp3 juta. Meski sempat mengalami penurunan pelanggan setelah pandemi Covid-19, ia tetap bersyukur usahanya masih berjalan.
Endang mulai berjualan sejak pukul 09.00 WIB. Selama 10 tahun berjualan di Jalan Panglima Denai, ia juga pernah menjajakan Pakat di Jalan Sisingamangaraja, tepatnya di depan UNIVA.















