Susah BAB Saat Diet? Dokter Gizi Ungkap Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi. (foto: getty images/mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Puasa intermiten atau Intermittent Fasting (IF) dan metode defisit kalori menjadi pilihan populer bagi banyak orang yang ingin menurunkan berat badan. Namun, pola diet ini juga dapat disertai keluhan pencernaan, salah satunya kesulitan buang air besar (BAB) atau sembelit.
Spesialis gizi klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengatakan susah BAB selama menjalani diet dapat terjadi akibat kurangnya asupan serat. Kondisi ini kerap muncul ketika seseorang mengurangi porsi makan secara berlebihan tanpa memperhatikan kebutuhan nutrisi harian.
Menurut dr. Yaze, kebutuhan serat orang dewasa sekitar 30–35 gram per hari. Jika asupan makanan terlalu sedikit, terutama ketika seseorang hanya makan satu kali sehari, kebutuhan serat tersebut berisiko tidak terpenuhi.
"Jadi kalau misalnya nggak kita cukupi, misalnya per hari itu kamu defisit kalori sampai terlalu sedikit, apalagi kalau misalnya makan sehari cuma sekali sudah pasti kebutuhan serat kamu itu nggak akan terpenuhi," ujarnya.
Kekurangan serat tersebut pada akhirnya dapat mengganggu kelancaran proses BAB. Gangguan pencernaan akibat kurangnya serat juga tidak selalu langsung dirasakan saat seseorang baru memulai diet.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat membuat feses menjadi lebih keras dan frekuensi BAB berkurang, misalnya menjadi setiap dua hingga tiga hari sekali.
Untuk mengatasinya, dr. Yaze menyarankan agar pola makan dan besaran defisit kalori dievaluasi kembali. Kebutuhan serat perlu tetap dipenuhi meskipun seseorang sedang berusaha menurunkan berat badan.
Ia juga menyarankan untuk mengawali makan dengan sumber serat, seperti buah dan sayuran, sebelum mengonsumsi makanan utama. "Mulai sekarang diatur lagi porsi untuk dietnya, untuk defisit kalorinya. Harus ada serat, kalau bisa urutan makannya serat duluan," kata dr. Yaze.
Ia mencontohkan, seseorang bisa mengonsumsi buah terlebih dahulu, kemudian sayuran, dilanjutkan dengan sumber protein, dan terakhir karbohidrat seperti nasi.
Selain membantu menjaga kelancaran pencernaan, mengonsumsi sayuran atau sumber serat pada awal waktu makan juga dinilai dapat membantu mengendalikan nafsu makan dan respons gula darah setelah makan.
Serat tertentu dapat membentuk gel saat bercampur dengan air di saluran pencernaan sehingga memperlambat penyerapan zat gizi. Efek ini dapat membantu mengurangi kenaikan gula darah setelah makan, terutama jika pola makan secara keseluruhan juga seimbang.
dr. Yaze menjelaskan, pengaturan pola makan tersebut dapat membantu seseorang merasa kenyang lebih lama. Dengan demikian, keinginan untuk kembali makan dalam waktu singkat bisa lebih terkendali sehingga program defisit kalori lebih mudah dijalankan.
Karena itu, diet untuk menurunkan berat badan sebaiknya tidak hanya berfokus pada pengurangan jumlah kalori. Kecukupan serat, keseimbangan nutrisi, dan pengaturan porsi makan tetap perlu diperhatikan agar kesehatan pencernaan terjaga selama menjalani program diet.
PREVIOUS ARTICLE
Dokter: Pes Pneumonik Bisa Menular Antarmanusia












































