Mengejutkan! Ekspor Hilirisasi Nikel RI Dipatok Tembus US$45 Miliar

Ilustrasi target ekspor hilirisasi nikel Rp817 triliun. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Denpasar, MISTAR.ID (29/10/2026) — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mematok target ambisius untuk ekspor hasil hilirisasi nikel. Nilainya diproyeksi menembus sedikitnya US$45 miliar atau setara Rp817,01 triliun dengan asumsi kurs Rp18.155 per dolar AS pada akhir 2026.
Target tersebut akan dikejar lewat perluasan kebijakan hilirisasi dan penguatan ekosistem industri nikel terintegrasi dari hulu ke hilir.
Koordinator Kerja Sama dan Investasi Mineral dan Batubara Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM Yan Abrar menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperluas nilai tambah komoditas nikel guna menopang kebutuhan industri global.
"Nilai ekspor produk nikel hilir meningkat dari sekitar US$3,3 miliar pada tahun 2017 menjadi sekitar US$40 miliar pada tahun 2025. Pada Agustus 2026, angka tersebut telah mencapai sekitar US$25,6 miliar, hampir US$26 miliar, dengan pemerintah menargetkan setidaknya US$45 miliar untuk setahun penuh," ujarnya dalam Indonesia-Korea Energy Forum (IKEF) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali, dikutip dari CNBC Indonesia Kamis (29/10/2026).
Berdasarkan catatan pemerintah, realisasi ekspor hilirisasi nikel hingga Agustus 2026 sudah mencapai US$25,6 miliar atau setara Rp464,79 triliun. Capaian itu melanjutkan tren kenaikan signifikan, dari US$3,3 miliar atau setara Rp59,9 triliun pada 2017 menjadi US$40 miliar atau setara Rp726,23 triliun pada 2025.
Yan menekankan hilirisasi yang dijalankan pemerintah bukan hilirisasi tanpa arah. Pemerintah menerapkan strategi hilirisasi selektif.
"Untuk alasan ini, Indonesia mengejar hilir selektif daripada hilir tanpa pertimbangan ekonomi yang jelas. Kami ingin memprioritaskan proyek-proyek yang layak secara komersial, sesuai secara teknologi, bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan terhubung dengan permintaan industri yang sebenarnya," paparnya.
Strategi selektif tersebut dibarengi dengan peningkatan kualitas produk pemurnian dalam negeri agar memenuhi standar komersial internasional. Buktinya, merek nikel kelas 1 asal Indonesia pertama kali mendapat pengakuan dari London Metal Exchange (LME).
"Sama pentingnya, merek nikel kelas 1 pertama di Indonesia telah menerima pengakuan dari London Metal Exchange. Ini menunjukkan bahwa produk olahan Indonesia dapat memenuhi standar pasar yang diakui secara internasional," terangnya.
Ke depan, pemerintah memproyeksikan rantai nilai nikel terus meningkat, mulai dari nikel sulfat, material prekursor, katoda, hingga sel baterai. Seluruh pengolahan diarahkan untuk membangun ekosistem terintegrasi yang mencakup pertambangan, manufaktur, daur ulang, hingga riset dan pengembangan sumber daya manusia.
"Oleh karena itu, tujuan kami bukan hanya untuk mengekspor lebih banyak produk mineral, tetapi juga untuk mengembangkan ekosistem yang terintegrasi dan kompetitif dari pertambangan dan pemrosesan hingga bahan canggih, manufaktur, daur ulang, penelitian, dan juga pengembangan sumber daya manusia," pungkasnya.(hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Cetak Sejarah Baru! BEI Pertama Kali Bagi Dividen Rp1,56 Triliun











































