Navigasi Pasien Diperkuat, Layanan Kanker Paru Bisa Lebih Cepat

Teks Foto: Ilustrasi, Kanker Paru.(Foto: Antara/Pexels)
Jakarta, MISTAR.ID (20/8/2026) – Penguatan layanan navigasi pasien dinilai penting untuk mempercepat dan mengoordinasikan proses diagnosis, rujukan, hingga pengobatan kanker paru di Indonesia.
Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay mengatakan, layanan ini tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan komitmen jangka panjang, standar yang jelas, serta dukungan kebijakan agar menjadi bagian dari sistem kesehatan.
"Layanan navigasi pasien harus menjadi bagian sistem, bukan hanya inisiatif sesaat," ujar Esra dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Peran Navigator Pasien
Navigator pasien bertugas mendampingi dan mengoordinasikan perjalanan pasien, keluarga, dan perawat sejak skrining, diagnosis, rujukan, pengobatan, hingga pemantauan setelah terapi.
Dalam prosesnya, navigator membantu mengatasi berbagai kendala seperti minimnya informasi, administrasi, transportasi, biaya, hingga dukungan psikologis.
Navigator juga membantu pasien memahami hasil pemeriksaan, mengatur jadwal kontrol, menghubungkan dengan tenaga kesehatan yang tepat, serta memastikan pengobatan tidak tertunda.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut navigasi pasien sebagai intervensi berbasis bukti.
Layanan ini membantu pasien menembus sistem layanan kanker yang kompleks agar mendapat diagnosis dan pengobatan tepat waktu.
Sebuah studi dalam Consensus Statement, Patient Navigation mencatat keberadaan navigator mampu memangkas waktu hampir 20 hari, dari temuan awal melalui foto toraks hingga dimulainya pengobatan.
Beban Kanker Paru Masih Tinggi
Data GLOBOCAN 2022 mencatat 2,4 juta kasus baru kanker paru di dunia atau 12,4 persen dari total kasus kanker. Kanker paru juga menyebabkan 18,7 persen kematian akibat kanker pada 2022.
"Ketahanan sistem kesehatan tidak hanya ditentukan oleh obat dan teknologi, tetapi juga kemampuan menghubungkan setiap tahapan pelayanan secara efektif," kata Esra.
Menurutnya, ketika pasien bergerak lebih cepat dari deteksi hingga pengobatan, manfaatnya dirasakan pasien dan sistem kesehatan. Koordinasi lebih baik, penggunaan sumber daya lebih efisien, dan beban biaya lebih terkendali.
Inggris melalui National Health Service (NHS) telah menempatkan Clinical Nurse Specialist sebagai titik kontak utama.
Mereka mendampingi pasien sejak diagnosis hingga tindak lanjut dan mengoordinasikan komunikasi antardokter, perawat, laboratorium, dan layanan pendukung.
Di Indonesia, penguatan navigasi pasien dapat menjadi bagian dari layanan kanker yang terintegrasi.
Upaya ini membutuhkan keterlibatan pemerintah, BPJS Kesehatan, rumah sakit, organisasi profesi, organisasi pasien, akademisi, hingga sektor swasta.(Antara/hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Chia Seeds atau Oat, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan Usus?NEXT ARTICLE
Kenali Tanda Tubuh Mulai Ketagihan Gula





















