Trump Pamer Tanker Berisi 1 Juta Barel Minyak, Sebut Venezuela Bisa Jadi Negara Bagian ke-51 AS

Presiden Donald Trump saat berkampanye untuk Partai Republik di Corpus Christi, Texas, Selasa (27/10/2026) waktu setempat. (foto: Reuters)
Texas, MISTAR.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Venezuela berpeluang menjadi negara bagian ke-51 AS. Pernyataan itu disampaikan saat ia memamerkan kesepakatan minyak dengan negara Amerika Selatan tersebut, sembilan bulan setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Dalam kampanye politik di Corpus Christi, Texas, Selasa, Trump mengeklaim kesepakatan dengan pemerintahan sementara Venezuela akan memberikan keuntungan besar bagi Amerika Serikat. Pemerintahan sementara itu mendapat dukungan dari pemerintahan Trump.
"Venezuela akan menjadi negara yang makmur, dan siapa tahu? Mungkin dalam waktu dekat akan menjadi negara bagian ke-51 yang makmur," kata Trump di hadapan para pendukungnya, seperti dilansir The Guardian, Rabu (28/10/2026).
Trump juga menunjuk sebuah kapal tanker di lepas pantai Texas yang menurutnya membawa satu juta barel minyak dari Venezuela. Ia mengklaim kesepakatan tersebut berpotensi mencakup miliaran barel minyak.
"Kita sedang merayakan kemenangan minyak terbesar dalam sejarah," ujar Trump. Ia mengeklaim minyak yang dipasok melalui kesepakatan tersebut diberikan kepada Amerika Serikat tanpa biaya bagi pembayar pajak AS.
Sebelum tampil di Texas, Trump melalui platform Truth Social menyatakan kebijakan dominasi energi yang dijalankannya telah menjadikan belahan bumi Barat sebagai pusat energi dunia. Ia juga memperkirakan harga bahan bakar di AS akan segera turun tajam.
Harga bahan bakar di Amerika Serikat melonjak setelah negara itu terlibat dalam perang melawan Iran pada Februari. Situasi semakin memburuk setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Kenaikan harga energi menambah tekanan terhadap biaya hidup masyarakat Amerika. Kondisi tersebut juga menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Dalam sejumlah jajak pendapat, tingkat persetujuan terhadap Trump dilaporkan menurun. Kebijakan luar negerinya yang agresif, termasuk perang dengan Iran dan penerapan tarif terhadap barang dari berbagai negara, turut menjadi sorotan publik.
Di tengah tekanan tersebut, Trump berusaha menjadikan operasi militer di Venezuela dan kesepakatan minyak sebagai bukti keberhasilan pemerintahannya. Namun, kesepakatan itu menuai kritik karena dinilai belum diikuti upaya yang memadai untuk mendorong transisi demokrasi di Venezuela.
Pemilihan umum belum digelar sejak Maduro ditahan oleh pasukan AS dalam operasi di Caracas pada Januari. Ia kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan pidana.
Penangkapan Maduro dan kesepakatan minyak dengan pemerintahan sementara Venezuela menandai perubahan besar dalam hubungan kedua negara. (*)













































