Bom Waktu di Tibet: Bendungan Terbesar di Dunia Milik China Dibangun di Atas Patahan Aktif

Bendungan Yarlung Zangbo di Tibet. (Foto: AFP/STR)
Chengdu, MISTAR.ID (11/9/2026) – China tengah membangun mimpi. Sekaligus membangun potensi bencana.Juli 2025 lalu, Beijing resmi memulai konstruksi PLTA terbesar di dunia senilai USD167 miliar atau hampir Rp3.000 triliun di Daerah Otonomi Tibet.
Proyek ini menargetkan daya 60 gigawatt pada awal 2030-an dari 5 bendungan kaskade di Sungai Yarlung Tsangpo.
Sungai yang nantinya mengalir ke India dan Bangladesh sebagai Sungai Siang dan Brahmaputra.
Tapi ada masalah besar: bendungan itu dibangun tepat di atas patahan gempa aktif.
Pengamat geopolitik Marco Respinti menyebut proyek ini ‘bom waktu’. "Ini bukan alarmisme dari luar. Ini kesimpulan para ahli geologi China sendiri," tegasnya.
Jurnal Sedimentary Geology and Tethyan Geology mencatat garis Patahan Paizhen berada tepat di bawah mega-bendungan.
Ilmuwan Universitas Teknologi Chengdu bahkan sudah mendesak penguatan lereng agar tak longsor. Lokasi proyek di Pemakoe bukan tempat biasa. Wilayah ini dikenal Tibet sebagai "Beyul", lembah suci tempat perlindungan. Penduduknya sedikit karena sakral.
Tapi Pemakoe juga punya sejarah kelam. Pada 15 Agustus 1950, gempa 8,6 magnitudo - terkuat di abad 20 - meratakan Tibet Selatan.
Saksi mata mencatat gunung runtuh, hutan tumbang, dan Sungai Tsangpo terbendung lalu meluap dahsyat. Kini, di atas luka lama itu, China mau membangun bendungan raksasa.
"Penurunan sungai dari 2.900 meter ke 600 meter di Great Bend memang punya potensi hidro luar biasa. Tapi risikonya juga luar biasa," katanya.
Jika bendungan jebol, yang kena bukan hanya Pemakoe. Jutaan orang di India dan Bangladesh yang bergantung pada Brahmaputra untuk sawah dan hidup juga akan terdampak.
Apalagi rute pengalihan bendungan dekat dengan Jalan G219 di wilayah sengketa Ladakh. Puluhan ribu pekerja migran dari daratan China juga didatangkan ke desa baru di perbatasan.
Respinti menyebutnya "taktik demografis" Beijing. Ironisnya, pada 1913 Kapten India G.A. Nevill pernah mengusulkan agar Pemakoe masuk wilayah India.
Jika itu terjadi, mungkin proyek sebesar ini tak akan ada. Respinti menutup dengan peringatan keras: "Tanah di bawah Pemakoe sangat tidak stabil dan tatanan spiritualnya sudah dikoyak. Mengabaikan realitas ini sama dengan mengundang malapetaka.”
Pertanyaannya sekarang: maukah China mendengar ilmuwannya sendiri, atau tetap ngebut demi unjuk kekuatan?”. (CNN/hm02)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER




































