Bayi Meninggal Setelah Ambulans Pembawa Ibu Hamil Tertahan di Pos Pemeriksaan Israel

Ilustrasi. (Foto: BBC World/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Seorang perempuan Palestina mengalami peristiwa tragis setelah melahirkan bayi yang telah meninggal di dalam ambulans. Petugas medis setempat menduga insiden itu terjadi karena ambulans yang membawa pasien sempat tertahan di pos pemeriksaan militer Israel di wilayah Tepi Barat.
Berdasarkan laporan AFP, Selasa (28/7/2026), perempuan berusia 28 tahun tersebut tengah mengandung enam bulan saat dijemput tim medis dari kediamannya di Desa Qaryout, selatan Kota Nablus.
Saat dievakuasi, kondisinya dilaporkan tidak sadarkan diri akibat mengalami pendarahan hebat. "Pasien mengalami pendarahan yang sangat serius dan kondisinya kritis," ujar petugas medis, Bashar Qaryouti.
Tim medis kemudian memberikan bantuan oksigen dan segera membawa pasien menuju Rumah Sakit Rafidia di Nablus. Namun, perjalanan terhambat karena sejumlah akses jalan menuju rumah sakit dilaporkan ditutup.
Ambulans akhirnya harus melintasi jalan tanah di area perkebunan zaitun sebelum tiba di Pos Pemeriksaan Awarta. Di lokasi itu, gerbang dilaporkan tertutup dan antrean kendaraan mengular.
Menurut Qaryouti, ia menyalakan sirene dan membawa ambulans ke bagian depan antrean. Sekitar 10 menit kemudian, tentara Israel disebut keluar dari menara pengawas dan meminta ambulans mematikan mesin.
Qaryouti mengaku telah menjelaskan bahwa peralatan medis di dalam ambulans masih digunakan untuk menyelamatkan nyawa pasien. Namun, ia menyebut permintaannya ditolak. "Mereka memaksa saya, dengan todongan senjata, untuk mematikan kendaraan," katanya. Ia juga mengaku kartu identitas seluruh kru ambulans sempat disita.
Sementara itu, militer Israel membantah tuduhan tersebut. Dalam tanggapannya kepada AFP, pihak militer menyatakan tidak ada penundaan terhadap ambulans di Pos Pemeriksaan Awarta dan mengaku tidak menerima laporan mengenai insiden tersebut dari otoritas Palestina.
Selama ambulans masih tertahan, kondisi pasien terus memburuk. Seorang perawat yang berada di dalam kendaraan akhirnya harus membantu proses persalinan darurat. "Bayi itu lahir dalam keadaan meninggal," tutur Qaryouti.
Ia menambahkan, setelah lebih dari 30 menit menunggu, tentara mengembalikan kartu identitas kru dan mengizinkan ambulans melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
Setibanya di Rumah Sakit Rafidia, pasien langsung menjalani operasi untuk menghentikan pendarahan. Direktur Rumah Sakit Rafidia, Fouad Nafaa, mengatakan kondisi ibu tersebut kini telah stabil setelah mendapatkan penanganan medis.
Menurut Nafaa, keterlambatan tiba di rumah sakit terjadi karena ambulans tidak dapat segera melewati pos pemeriksaan.
Belakangan ini, militer Israel meningkatkan operasi yang disebut sebagai operasi kontra-terorisme di sejumlah wilayah Tepi Barat. Operasi tersebut berdampak pada penutupan sejumlah ruas jalan setelah bentrokan mematikan antara pemukim Israel dan warga Palestina di Desa Tell yang menewaskan dua warga Israel dan empat warga Palestina.
Ketegangan di Tepi Barat terus meningkat sejak pecahnya perang Gaza menyusul serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.


















