Sentimen Global, IHSG Terperosok ke 7.600-Rupiah Melemah di Level Rp16.910

Ilustrasi IHSG. (foto: CNBC/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah bergerak di zona merah pada penutupan pekan ini. Hal ini akibat memburuknya sentimen regional Asia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, ditambah dengan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS).
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan data initial jobless claims (klaim pengangguran) AS yang baru dirilis menunjukkan angka 213.000 atau sedikit lebih baik dari ekspektasi pasar sebesar 215.000. Namun, data ini tidak cukup kuat untuk memberikan gairah pada pasar saham.
IHSG terpantau ditutup melemah di level 7.699 pada perdagangan, Jumat (6/3/2026). Penurunan ini sejalan dengan terkoreksinya mayoritas bursa saham di Asia yang terimbas aksi jual investor akibat kekhawatiran konflik berkepanjangan.
"IHSG ditransaksikan melemah di tengah memburuknya sentimen regional. Pelaku pasar masih menanti rilis data neraca perdagangan tanah air yang dijadwalkan tersaji hari ini untuk melihat sejauh mana performa ekspor-impor kita di tengah situasi global yang tidak menentu," kata Gunawan.
Di pasar valuta asing, Rupiah masih menunjukkan tren pelemahan. Pada perdagangan hari ini, mata uang Garuda ditransaksikan merosot ke level Rp16.910 per Dolar AS. Tekanan pada Rupiah dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta penguatan Dolar AS yang sering kali terjadi saat eskalasi perang meningkat.
Namun, Gunawan mencatat adanya faktor peredam yang menjaga pasar agar tidak jatuh terlalu dalam.
"Data cadangan devisa yang mengalami peningkatan akan meredam kekhawatiran pasar. Meski Rupiah tertekan akibat kenaikan harga minyak dan perang, posisi cadangan devisa yang kuat menjadi penopang stabilitas. Namun tetap saja perang yang masih berlanjut menjadi katalis negatif bagi pasar keuangan secara keseluruhan," ucapnya.
Investor disarankan untuk tetap waspada dan memperhatikan rilis data ekonomi domestik dalam beberapa hari ke depan sebagai panduan dalam mengambil keputusan investasi di tengah volatilitas tinggi.



















