China Minta Perusahaan Tunda Kontrak Baru Ekspor BBM di Tengah Konflik Timur Tengah

Ilustrasi. (Foto: Reuters/Lucas Jackson)
Beijing, MISTAR.ID
China dilaporkan meminta perusahaan-perusahaan energi untuk menangguhkan penandatanganan kontrak baru ekspor bahan bakar minyak (BBM) di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Kebijakan tersebut juga mencakup pembatalan sebagian pengiriman yang sebelumnya telah disepakati.
Dikutip dari The Straits Times, Rabu (5/3/2026), sejumlah sumber dari industri dan perdagangan menyebutkan pembatasan itu tidak berlaku untuk pengisian bahan bakar jet bagi penerbangan internasional, pengisian bahan bakar kapal di gudang berikat, serta pasokan BBM ke Hong Kong dan Makau.
Hingga kini, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China belum memberikan tanggapan terkait permintaan komentar mengenai kebijakan tersebut.
Pengurangan ekspor dari China yang merupakan salah satu eksportir bahan bakar terbesar di Asia diperkirakan akan memperketat pasokan BBM di kawasan. Kondisi tersebut berpotensi mendorong margin penyulingan minyak semakin tinggi.
Sejumlah sumber industri menyebutkan bahwa sebagian besar program ekspor untuk Maret telah ditetapkan sebelumnya sehingga sulit untuk menarik kembali kargo yang sudah dijadwalkan. Oleh karena itu, kebijakan baru pemerintah diperkirakan mulai berdampak terhadap penurunan ekspor sejak April.
Untuk periode Maret, ekspor gabungan bensin, solar, dan bahan bakar jet diperkirakan tetap stabil di kisaran 3,8 juta metrik ton, sejalan dengan perkiraan industri sebelumnya. Stabilnya volume ekspor itu didorong oleh margin penyulingan di pasar Asia yang masih kuat.
Berdasarkan data pelacakan kapal LSEG, sekitar 70.000 ton bahan bakar jet, 35.000 ton diesel, dan 35.000 ton bensin telah dikirim sepanjang bulan ini.
China sendiri mengatur ekspor BBM melalui sistem kuota guna menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar domestik. Kuota ekspor pertama untuk tahun 2026 tercatat sekitar 19 juta ton, jumlah yang tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, tiga pembeli regional kargo BBM dari China mengatakan kepada Reuters pada 5 Maret bahwa mereka masih akan menerima pengiriman bulan ini sesuai jadwal pemuatan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Di sisi lain, sejumlah kilang minyak di China mulai menyesuaikan tingkat produksi. Setidaknya dua kilang besar, yakni Zhejiang Petrochemical Corp yang dikelola swasta dan kilang Fujian yang dioperasikan oleh Sinopec, dilaporkan telah mengurangi kapasitas produksi sejak awal Maret.
Pengurangan produksi diperkirakan akan meluas ke kilang lainnya apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan mengganggu pasokan minyak mentah global, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga energi. (hm25)






















