Monday, July 20, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Dampak Perang Iran-AS: Ekspor Sumut Berpotensi Naik Semu Terimbas Kurs Dolar

Mistar.idKamis, 5 Maret 2026 pukul 17.24 WIB
dampak_perang_iranas_ekspor_sumut_berpotensi_naik_semu_terimbas_kurs_dolar

Ilustrasi Pabrik Kelapa Sawit (PKS). (Foto: istimewa/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Eskalasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang pecah pekan lalu mulai membayangi prospek kinerja ekspor Sumatera Utara (Sumut) pada tahun 2026. Meski secara nominal angka ekspor diprediksi tetap positif akibat penguatan dolar AS, secara riil volume ekspor terancam mengalami koreksi.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menjelaskan sejauh ini para pelaku usaha, khususnya di sektor industri kelapa sawit baik hulu maupun hilir, masih bersikap wait and see.

Berdasarkan data kumulatif 2024-2025, ekspor Sumut menunjukkan fenomena menarik di mana kuantitas barang hanya naik tipis 0,18 persen, namun secara nilai nominal (FOB) melonjak hingga 15 persen. Gunawan menilai tren ini bisa terulang di masa perang saat ini.

"Secara riil, kinerja ekspor Sumut sebenarnya tidak banyak berubah. Namun jika nominal ekspor dihitung dengan nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar yang sedang menguat, angkanya akan membukukan kenaikan lumayan besar. Perang saat ini menyisakan kekhawatiran bahwa ekspor rawan terkoreksi secara kuantitas, meski nominalnya terlihat positif karena kurs," kata Gunawan, Kamis (5/3/2026).

Sektor industri pengolahan kelapa sawit di Sumut menghadapi tantangan berat dalam waktu dekat. Selain faktor perang, tertundanya kebijakan mandatori Biodiesel B50 membuat harga CPO (minyak sawit mentah) kehilangan daya dorong untuk menguat.

Dua faktor risiko utama, yaitu over supply pasar global diperkirakan tetap akan dibanjiri pasokan CPO dan konflik geopolitik berpotensi memicu perlambatan ekonomi global yang berujung pada penurunan permintaan sawit.

Meskipun saat ini kondisi ekspor dinilai relatif aman, Gunawan memperingatkan bahwa persepsi pelaku usaha bisa berubah drastis tergantung pada eskalasi dan durasi perang.

"Pelaku usaha sawit di Sumut memilih untuk menunggu satu atau dua bulan ke depan untuk melihat dampak pastinya. Saya menilai dalam tiga bulan mendatang, para pelaku industri pengolahan sawit baru akan memiliki pandangan atau proyeksi baru terkait kinerja usaha mereka," ucapnya.

Proyeksi ekspor Sumut tahun 2026 kini sangat bergantung pada bagaimana keseimbangan baru terbentuk di pasar global di tengah tensi geopolitik Timur Tengah yang kian memanas.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN