Ramai Warga Masuk Desil 9-10 DTSEN, BPS Jelaskan Cara Penentuannya

Ilustrasi mobil mewah diisi BBM Subsidi (Foto: Istimewa/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Sejumlah warga mempertanyakan hasil pengecekan desil pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Keluhan tersebut ramai dibahas di media sosial setelah sejumlah pengguna mengetahui dirinya masuk desil 9 atau 10 meski merasa kondisi ekonominya belum tergolong tinggi.
Salah satu unggahan yang ramai di Threads menampilkan pengguna yang mengaku masuk desil 9. Ia menyebut hanya tinggal di rumah kontrakan tipe 36, memiliki satu mobil bekas, dan jarang bepergian.
Pengguna lainnya mengaku masuk desil 10 meski masih tinggal di rumah kontrakan. Ia juga menyebut sumber penghasilan keluarganya hanya berasal dari suami dengan pendapatan sekitar Rp3 juta per bulan.
BPS Jelaskan Arti Desil DTSEN
Menanggapi perbincangan tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon memberikan penjelasan melalui akun Threads resminya, @bpscilegon.
BPS menjelaskan bahwa desil merupakan pembagian keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan peringkat kondisi sosial ekonomi. Seluruh keluarga terlebih dahulu diperingkat, kemudian dibagi menjadi 10 kelompok dengan jumlah anggota yang relatif sama.
“Secara gampangnya, desil itu membagi jumlah keluarga menjadi 10 bagian/kotak sama banyak,” tulis BPS Cilegon, dikutip Kamis (13/8/2026).
Dengan sistem tersebut, desil 1 menunjukkan kelompok keluarga dengan peringkat kondisi sosial ekonomi paling rendah. Sementara desil 10 merupakan kelompok dengan peringkat kondisi sosial ekonomi paling tinggi.
Namun, BPS menegaskan bahwa desil tidak ditentukan berdasarkan batas pendapatan tertentu.
Artinya, tidak ada aturan yang menyatakan seseorang dengan penghasilan nominal tertentu secara otomatis masuk ke desil tertentu.
“Dalam pengelompokan desil tidak ada cut off point. Tidak ada penghasilan sekian masuk desil X, atau aset sekian masuk desil Y. Murni berdasarkan pemeringkatan/ranking keluarga,” jelas BPS.
Penentuan Desil Tidak Hanya Berdasarkan Penghasilan
BPS menjelaskan, posisi sebuah keluarga dalam desil ditentukan dengan mempertimbangkan banyak variabel. Pendapatan bukan satu-satunya faktor yang digunakan dalam pemeringkatan.
Beberapa aspek yang diperhitungkan antara lain kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset atau barang, karakteristik demografi dan pendidikan, kondisi ketenagakerjaan, kepemilikan usaha, serta kesehatan.
Karena menggunakan banyak indikator, dua keluarga dengan tingkat pendapatan yang terlihat berbeda dapat berada dalam kelompok desil yang sama.
BPS juga menyoroti kondisi keluarga yang berada di desil 10. Menurut penjelasan tersebut, kelompok ini tidak hanya berisi keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat mapan, tetapi juga keluarga dengan kondisi ekonomi yang berada jauh di bawah kelompok paling kaya.
“Di desil yang sama, ada konglomerat dan ultra-rich dengan penghasilan miliaran hingga triliunan rupiah per bulan. Tapi, ada juga keluarga dengan penghasilan jutaan per bulan,” tulis BPS.
Dengan demikian, status desil 10 tidak berarti seluruh keluarga yang berada di dalamnya memiliki pendapatan ataupun kekayaan dengan tingkat yang sama.
BPS bahkan menyebut perbedaan kondisi ekonomi yang sangat lebar dalam kelompok tersebut menjadi gambaran adanya ketimpangan ekonomi.
“Kontras yang begitu tajam di dalam desil 10 itu sendiri menunjukkan betapa ekstremnya ketimpangan ekonomi di Indonesia,” tulis BPS.
Desil DTSEN Berlaku untuk Keluarga
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah unit pemeringkatan dalam DTSEN. BPS menegaskan bahwa desil ditentukan berdasarkan keluarga, bukan kondisi ekonomi setiap individu secara terpisah.
Karena itu, penghasilan atau kondisi ekonomi salah satu anggota keluarga tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan posisi desil keluarga tersebut.
Penjelasan ini disampaikan BPS di tengah meningkatnya perbincangan mengenai hasil pengecekan desil DTSEN. Sejumlah warga membandingkan hasil pemeringkatan dengan kondisi ekonomi yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
BPS juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai tabel yang beredar di media sosial dan menghubungkan nominal pendapatan tertentu dengan desil tertentu.
Menurut BPS, pemeringkatan DTSEN menggunakan puluhan variabel dengan bobot yang berbeda. Dengan demikian, penentuan desil tidak dilakukan hanya berdasarkan pendapatan atau jumlah aset yang dimiliki sebuah keluarga.






















