Pengusaha Toko Bangunan di Toba Keluhkan Harga Semen Belum Juga Turun

Semen yang dijual disalah satu toko bangunan atau panglong di Kabupaten Toba. (Foto: Nimrot/Mistar)
Toba, MISTAR.ID - Pengusaha toko bahan bangunan atau panglong di Kabupaten Toba mengeluhkan harga semen yang belum juga turun dalam dua bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat pembelian stok baru menjadi sulit dan berdampak pada sepinya pembeli.
Berdasarkan pantauan Mistar, sejumlah toko bahan bangunan di Kecamatan Porsea, Laguboti, dan Balige masih menjual semen dengan harga tinggi. Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah bahan bangunan lainnya.
Salah seorang pemilik panglong di Porsea yang enggan disebutkan namanya mengatakan kenaikan harga bahan bangunan semakin menyulitkan masyarakat yang ingin melakukan pembangunan, termasuk membangun rumah.
"Sudah bahan pokok melonjak naik, dan ditambah lagi saat ini bahan bangunan melonjak naik, sehingga menyulitkan masyarakat untuk membangun apa pun itu, apalagi rumah," katanya, Kamis (20/8/2026).
Menurut dia, tingginya harga dan sulitnya mendapatkan pasokan membuatnya memilih menjual stok lama daripada kembali membeli barang untuk persediaan.
"Untuk saat ini, biarlah menjual barang bahan bangunan dari stok yang sudah ada sebelumnya, menunggu harga menjadi stabil kembali seperti harga terendah," ucapnya.
Keluhan serupa disampaikan pemilik panglong di Laguboti, Shinta Theresia J. Samosir. Ia mengatakan pengusaha panglong ikut terdampak karena harus menghadapi keluhan pelanggan akibat tingginya harga semen.
"Bayangkan, sudah sebulan lebih kita melakukan pemesanan semen, hingga saat ini belum juga tiba. Supplier beralasan stok barang tidak ada. Akibatnya, stok yang tinggal sedikit kita jual dengan harga mahal," kata J. Samosir.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat pelanggan menilai penjual menaikkan harga semen secara sepihak. Padahal, menurutnya, kenaikan harga terjadi karena pasokan dari supplier terbatas dan harga dari pemasok juga meningkat.
J. Samosir berharap pemerintah dapat mencari solusi agar harga bahan bangunan kembali normal.
"Andai di pemerintahan saat ini solusi tidak dapat dipecahkan, maka kita tunggu saja ke pemerintahan selanjutnya, dan semoga saja kebijakan yang diambil dapat memulihkan ekonomi di Kabupaten Toba dan umumnya Indonesia," tuturnya.
Sebelumnya, kenaikan harga semen di Toba juga dikeluhkan pengusaha panglong di Kecamatan Porsea. Harga semen ukuran 50 kilogram yang sebelumnya dijual Rp60.000 hingga Rp65.000 per sak, kini mencapai Rp80.000 hingga Rp85.000 per sak.
Pemilik panglong Gunung Mas di Porsea, N. Napitupulu, mengatakan kenaikan harga semen mencapai Rp20.000 per sak. Selain mahal, semen juga sulit diperoleh dari distributor.
"Selain mahal, bahan bangunan salah satunya semen sulit didapatkan. Kita pesan dari distributor belum tentu datang dalam sepuluh hari," ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Ia mengatakan kondisi tersebut juga menyebabkan sejumlah panglong di Porsea mengalami kekurangan stok semen. Menurutnya, jika kelangkaan dan kenaikan harga bahan bangunan berlangsung lama, kondisi itu dapat mengganggu perputaran ekonomi masyarakat, termasuk usaha toko bangunan.
"Barang yang dijual langka sehingga berdampak mahal, tentu akan berdampak sepinya pembeli. Sementara kami harus membayar pajak, dari mana caranya membayar pajak, dagangan saja tidak laku," tuturnya. (hm25)























