Mayoritas Mata Uang Asia Melemah, Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS

Ilustrasi mata uang (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Mayoritas mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (11/5/2026). Tekanan terjadi seiring penguatan dolar AS di pasar global akibat meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik.
Berdasarkan data perdagangan pagi, delapan dari sepuluh mata uang Asia tercatat berada di zona merah terhadap dolar AS. Penguatan indeks dolar AS (DXY) turut memberikan tekanan terhadap mata uang kawasan, termasuk rupiah.
Rupiah melemah 0,23 persen dan diperdagangkan di level Rp17.400 per dolar AS. Pelemahan juga terjadi pada sejumlah mata uang utama Asia lainnya.
Baht Thailand menjadi mata uang dengan koreksi terdalam setelah turun 0,81 persen ke posisi THB 32,36 per dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,72 persen ke level KRW 1.472,1 per dolar AS, sementara peso Filipina turun 0,69 persen ke posisi PHP 60,898 per dolar AS.
Yen Jepang ikut tertekan sebesar 0,25 persen ke level JPY 157,04 per dolar AS. Dolar Taiwan melemah 0,20 persen menjadi TWD 31,365 per dolar AS, sedangkan ringgit Malaysia turun 0,15 persen ke posisi MYR 3,924 per dolar AS.
Dolar Singapura juga bergerak negatif dengan pelemahan 0,13 persen ke level SGD 1,268 per dolar AS.
Di tengah tekanan tersebut, dong Vietnam justru menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah naik 0,12 persen ke level VND 26.275 per dolar AS. Yuan China juga masih menguat tipis 0,07 persen ke posisi CNY 6,7954 per dolar AS.
Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik antara AS dan Iran yang belum menunjukkan tanda penyelesaian. Pelaku pasar kembali memburu aset aman, termasuk dolar AS, setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal damai dari Iran terkait isu nuklir.
Iran dilaporkan menawarkan pemindahan sebagian cadangan uranium olahannya ke negara ketiga, namun tetap menolak pembongkaran fasilitas nuklir domestik. Ketegangan tersebut membuat investor global cenderung mengurangi aset berisiko dan beralih ke dolar AS.
Selain faktor geopolitik, dolar AS juga mendapat dukungan dari data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan pasar. Data nonfarm payrolls April tercatat naik 115.000, jauh di atas proyeksi pasar yang sebelumnya memperkirakan kenaikan sekitar 62.000 tenaga kerja.
Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), masih berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi itu membuat dolar AS semakin menarik bagi investor global.
Pasar kini menantikan rilis data inflasi AS periode April yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya. Jika inflasi masih tinggi, tekanan terhadap mata uang Asia diperkirakan dapat berlanjut dalam jangka pendek.





















