Tuesday, August 18, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Jelang RDG, BI Dorong Kredit di Tengah Tekanan Rupiah

Mistar.idSelasa, 18 Agustus 2026 pukul 08.21 WIB
jelang_rdg_bi_dorong_kredit_di_tengah_tekanan_rupiah

Bank Indonesia. (foto: antaranews)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Bank Indonesia (BI) menegaskan pentingnya perluasan akses kredit untuk menopang konsumsi masyarakat, sehari menjelang dimulainya Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Selasa-Rabu, 18-19 Agustus 2026.

Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti menyampaikan hal itu saat peluncuran Kartu Kredit Indonesia (KKI) di Jakarta, Senin (17/8/2026). Menurutnya, pengembangan skema pembayaran domestik dapat membuka akses lebih luas bagi pelaku usaha sekaligus menyediakan alternatif pembiayaan bagi masyarakat.

“Kehadiran skema domestik ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk masuk dalam ekosistem digital dan menyediakan alternatif fasilitas kredit untuk menopang konsumsi masyarakat,” kata Destry, dilansir ANTARA, Senin (17/8/2026).

Dalam siaran pers Bank Indonesia yang diterbitkan Senin (17/8/2026), BI juga menegaskan setiap kemajuan sistem pembayaran harus bermuara pada kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi, memberikan manfaat nyata kepada masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan dan daya saing ekonomi nasional.

BI menyebut pengembangan kebijakan sistem pembayaran tersebut dibangun dengan prinsip keseimbangan, yakni memberikan manfaat kepada masyarakat, membuka ruang pertumbuhan bagi merchant, menciptakan peluang bagi penyelenggara sistem pembayaran, sekaligus menjaga keberlanjutan industri.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian menjelang RDG BI pekan ini. Bank sentral menghadapi kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi pada saat bersamaan juga dituntut mendukung kredit, konsumsi, dan pertumbuhan ekonomi.

Sejumlah ekonom memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen dalam RDG kali ini.

Ekonom Bank Syariah Indonesia Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan peluang BI menahan suku bunga cukup besar.

“BI akan menahan BI Rate di 5,75% pada Rabu, 19 Agustus 2026, probabilitas 78%,” ujar Banjaran kepada Kontan, Senin (17/8/2026).

Ekspektasi terhadap kebijakan BI turut mewarnai pergerakan rupiah. Mengutip Bloomberg, Kontan melaporkan rupiah di pasar spot menguat 0,16 persen pada Senin (17/8/2026) menjadi Rp17.798 per dolar AS.

BI sebelumnya mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen pada RDG Juli 2026. Sepanjang tahun ini, BI telah menaikkan suku bunga total 100 basis poin untuk menarik aliran modal asing dan menopang rupiah.

Kebijakan tersebut ditempuh di tengah tekanan terhadap nilai tukar akibat ketidakpastian global, sekaligus kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan independensi bank sentral.

Sebelumnya, Destry juga mengatakan BI ingin perbankan lebih aktif menyalurkan kredit, bukan sekadar menempatkan kelebihan likuiditas pada instrumen bank sentral.

“Kami ingin perbankan memainkan peran yang lebih aktif sebagai lembaga intermediasi untuk penyaluran kredit,” kata Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), seperti dikutip Reuters, 3 Agustus 2026.

Saat itu, Destry juga menegaskan Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) diharapkan lebih banyak digunakan sebagai instrumen pengelolaan likuiditas serta untuk menarik aliran modal asing.

“Kami ingin SRBI menjadi alat pengelolaan likuiditas, bukan instrumen investasi bagi bank,” ujarnya.

Reuters melaporkan BI juga mengurangi kewajiban giro minimum sebesar 200 basis poin bagi bank tertentu mulai 1 September 2026. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mendorong perbankan meningkatkan penyaluran kredit.

Destry ketika itu menegaskan bauran kebijakan BI tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mempertahankan inflasi dalam sasaran, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Destry saat ini menjadi calon tunggal Gubernur BI yang diajukan Presiden Prabowo Subianto menggantikan Perry Warjiyo. Reuters pada 10 Agustus 2026 melaporkan pencalonan Destry sempat mendorong rupiah ke level terkuat terhadap dolar AS sejak 18 Juni.

Di sisi lain, pemerintah tengah mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Dalam RAPBN 2027, pemerintah menetapkan target pertumbuhan sebesar 6 persen. Jika tercapai, angka tersebut akan menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi Indonesia dalam lebih dari satu dekade. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN