Mahasiswa FK USU Sabet Juara 3 dalam Kompetisi Parasitologi Internasional di Malaysia

Tiga mahasiswa FK USU yang berhasil meraih Juara 3 pada ajang 9th Intervarsity Parasitology Quiz and Oral Competition di Malaysia. (foto: Humas USU/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) berhasil menempati posisi Juara 3 (2nd Runner Up) kategori Oral Quiz pada ajang 9th Intervarsity Parasitology Quiz and Oral Competition (IPQOC) 2026, yang digelar di Faculty of Medicine, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.
Prestasi tersebut dipersembahkan oleh tiga mahasiswa aktif yaitu Enrico Franditho Sihombing, Vincentius Haholongan Tito Sihaloho dan Yusuf Rahman Priatna, di bawah bimbingan advisor Prof. Dewi Masyithah Darlan, Sp.ParK serta tim pengajar Departemen Parasitologi FK USU, dr. Yunilda Andriyani, dr. Adelina Haryani Sinambela, dr. Sunna Vyatra Hutagalung, dan Dra. Merina Panggabean.
Persiapan menuju panggung internasional ini ditempuh selama kurang lebih dua bulan, dengan mendalami materi menggunakan metode flashcards yang bertujuan untuk mengasah kecepatan dan ketepatan, serta mempelajari pola penelitian dari Departemen Parasitologi Universiti Malaya.
Vincentius, salah satu anggota tim menjelaskan bahwa kompetisi ini menguji kemampuan melalui tiga level berbeda. Level pertama yaitu soal dengan jawaban pendek, level kedua mengidentifikasi gambar, dan terakhir yaitu soal penalaran ilmiah yang menuntut penjelasan alasan di balik jawaban dengan bobot poin 1 hingga 5.
“Bagian yang paling menantang adalah soal level 3 ini, yang membutuhkan pemahaman penuh serta mendalam terkait parasitologi,” ujarnya, Rabu (21/10/2026).
Dengan menjaga ketenangan, berdiskusi matang sebelum menjawab, serta memaksimalkan perolehan poin di dua level awal, tim FK USU berhasil meraih skor tertinggi di babak penyisihan hingga akhirnya mengunci posisi Juara 3.
Vincentius mengatakan bahwa wawasan mereka semakin terbuka luas lewat kompetisi tersebut karena dapat melihat perbandingan pendekatan pembelajaran parasitologi dari berbagai negara. Pengalaman yang paling membekas di sana yaitu ketika digigit nyamuk.
Secara refleks, Vincentius mengamati ciri fisik nyamuk tersebut dan mengidentifikasinya sebagai Aedes albopictus, dari ciri garis putih tunggal pada bagian tengah skutumnya (berbeda dengan Aedes aegypti yang berpola seperti kecapi atau lyre).
“Saat itu saya sadar bahwa ilmu yang kami pelajari untuk kompetisi bukan hanya hafalan saja, tetapi benar-benar bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Bagi calon dokter di negara tropis seperti Indonesia, kata dia, penguasaan parasitologi sangat krusial untuk mendeteksi penyakit seperti malaria, cacingan, filariasis, toksoplasmosis dan amebiasis demi mendukung ketepatan diagnosis serta pencegahan berbasis kesehatan masyarakat.
Setelah berhasil meraih juara di Malaysia, ketiganya kini langsung mengalihkan fokus untuk mempersiapkan diri menghadapi ajang Siriraj Medical International Conference (SIMPIC) 2027 yang dijadwalkan pada Februari mendatang.
Mereka juga mengajak mahasiswa FK USU lainnya agar tidak ragu-ragu dalam mengambil peluang kompetisi-kompetisi di tingkat internasional. “Tidak perlu menunggu harus sempurna atau sepenuhnya siap untuk memulai, karena semua persiapan bisa berjalan seiring proses. Yang paling penting adalah keputusan untuk mendaftar dan memulai,” ucapnya.







































