Kisah Al Finsih, Penerima KIP Kuliah yang Jadi Wisudawan Terbaik FEB UNJ

Al Finsih, bersama kedua orang tuanya. (foto: UNJ/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Latar belakang keluarga sederhana tidak menghalangi Muhamad Al Finsih untuk menorehkan prestasi di bidang pendidikan. Putra dari seorang ibu yang berjualan nasi uduk dan ayah yang bekerja sebagai pengemudi ojek daring itu berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta (FEB UNJ).
Penghargaan tersebut diterima Al Finsih dalam Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 Sesi I yang berlangsung di GOR UNJ, 19 Oktober 2026. Pencapaian ini menjadi kebanggaan tersendiri baginya, sekaligus wujud rasa syukur atas dukungan keluarga yang menyertai perjalanan pendidikannya.
Selama menempuh studi, Al Finsih memanfaatkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) untuk mendukung biaya pendidikan. Di samping menjalani aktivitas perkuliahan, ia juga bekerja secara jarak jauh guna membantu memenuhi kebutuhan selama masa studi.
Menjalani dua tanggung jawab sekaligus bukan perkara mudah. Al Finsih harus membagi waktu dan energi agar pekerjaan tetap terselesaikan tanpa mengesampingkan kewajibannya sebagai mahasiswa. Pengalaman tersebut membentuk kebiasaannya untuk lebih disiplin, menjaga konsistensi belajar, dan mengatur prioritas.
Ia meyakini setiap tanggung jawab perlu dijalankan hingga tuntas dengan mengingat tujuan yang ingin dicapai serta kepercayaan yang telah diberikan orang lain.
"Selalu ingat siapa diri kita, apa tujuan kita, dan kepercayaan orang-orang yang telah memberikan amanah kepada kita untuk menyelesaikan tugas dan kewajiban sampai selesai," ujar Al Finsih dikutip dari laman UNJ, Selasa (20/10/2026).
Selain berfokus pada perkuliahan, Al Finsih turut mengambil peran dalam berbagai kegiatan kampus. Pada semester dua, ia dipercaya menjadi ketua kelas sekaligus penanggung jawab mata kuliah.
Pengalaman kepemimpinan tersebut berlanjut ketika memasuki semester tujuh. Saat itu, ia mendapat kepercayaan sebagai ketua atau koordinator program studi dalam pelaksanaan program wajib Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).
Keterlibatan dalam kegiatan tersebut memberinya pengalaman dalam menjalankan tanggung jawab, berkoordinasi dengan orang lain, dan membangun kerja sama. Ia juga berkesempatan mengikuti penelitian bersama dosen untuk memperdalam wawasan serta pengetahuannya di bidang akademik.
Kesempatan mengembangkan diri tidak hanya diperolehnya di lingkungan kampus. Al Finsih juga mencatatkan pengalaman di tingkat internasional melalui partisipasinya dalam Global Wellness Leadership Week di Malaysia pada 2024.
Pada tahun yang sama, ia meraih penghargaan Best Paper dalam ajang FICTA 2024 yang diselenggarakan di London, Inggris. Kedua pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya, terutama untuk memperluas perspektif, meningkatkan kepercayaan diri, dan menguji kemampuan di lingkungan internasional.
Dalam pengembangan karier, Al Finsih memiliki minat pada bidang administrasi, terutama yang berkaitan dengan keuangan dan akuntansi. Ia juga ingin terus meningkatkan kemampuan komunikasi, termasuk menyampaikan informasi yang kompleks dengan bahasa yang lebih sederhana agar mudah dimengerti.
Pengalaman di bidang kependidikan turut memberinya ruang untuk mengasah keterampilan tersebut melalui proses pembelajaran. Baginya, pengembangan kompetensi menjadi bagian penting untuk mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Di balik berbagai pencapaian itu, Al Finsih tidak melupakan dukungan orang-orang terdekatnya. Ia menyampaikan apresiasi kepada orang tua, adik, keluarga, dosen, dan sahabat yang telah mendampinginya selama menjalani pendidikan tinggi.
Menurutnya, mempertahankan konsistensi membutuhkan lebih dari sekadar ketekunan dalam belajar. Seseorang juga perlu memahami kemampuan diri, mengenali keterbatasan, serta bersedia mencari perspektif baru ketika menghadapi hambatan.
Pesan tersebut ia sampaikan kepada mahasiswa UNJ agar tidak ragu mengenali potensi diri maupun menceritakan kendala yang dihadapi dalam meraih prestasi.
"Kenali siapa dirimu, ketahui batasanmu, dan berani ceritakan kendala dalam mengukir prestasi. Itu akan membuka celah pikiran yang lebih luas dalam cara kamu berpikir," pesannya.
Perjalanan Al Finsih menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi penghalang untuk mengembangkan potensi. Dengan dukungan keluarga, kesempatan pendidikan, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar, ia berhasil menyelesaikan studi sekaligus menorehkan prestasi akademik dan internasional.




































