Wednesday, October 21, 2026
home_banner_first
EKONOMI

BI Siapkan Strategi Tarik Kembali Dana Asing

Mistar.idRabu, 21 Oktober 2026 pukul 21.48 WIB
bi_siapkan_strategi_tarik_kembali_dana_asing

Gedung BI. (Foto: PCPM)

Jakarta, MISTAR.ID – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memaparkan sejumlah strategi bank sentral untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik menyusul penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia.

Destry menyampaikan BI terus mencermati perkembangan arus modal asing. BI memandang situasi tersebut masih dalam batas yang relatif normal, mengingat kondisi pasar di kawasan regional juga tengah menghadapi tekanan.

"Kami melihat tekanan terhadap rupiah masih normal karena regional tidak baik. Kami waspadai di capital market kita, kami monitor outflow sepanjang pergerakan yang terjadi setelah MSCI," ujar Destry, Rabu (21/10/2026), dilansir dari CNBC Indonesia.

Ia mengungkapkan, BI telah menggelar pembahasan secara intensif selama dua hari untuk merumuskan respons terhadap perkembangan tersebut.

Dari pembahasan itu, bank sentral menyiapkan kebijakan yang lebih terukur dan terarah guna mendorong kembalinya aliran modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan Indonesia.

Destry menegaskan, menjaga stabilitas pasar keuangan menjadi prioritas utama BI. Meski demikian, langkah stabilisasi tersebut harus tetap sejalan dengan upaya mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

"Concern stabilitas prioritas kami. Fokus kami adalah mendatangkan inflow kembali," tegasnya.

Dalam upaya menarik kembali investasi asing, BI akan mengoptimalkan berbagai fasilitas insentif bagi investor yang menanamkan modalnya pada instrumen keuangan domestik. Insentif tersebut mencakup investasi di Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta penyaluran pendanaan melalui instrumen pinjaman.

BI juga memperkuat insentif transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), yang memberikan manfaat berupa pengurangan biaya lindung nilai (hedging) bagi investor hingga 45%.

Menurut Destry, kebijakan insentif tersebut telah berjalan sejak Juni hingga Oktober. Dengan peningkatan besaran insentif, BI berharap instrumen keuangan domestik semakin kompetitif dan mampu menarik minat investor asing untuk kembali menempatkan dananya di Indonesia.

Selain itu, penyesuaian harga atau repricing pada pasar obligasi pemerintah, khususnya SBN, diharapkan dapat menciptakan daya tarik imbal hasil yang lebih kompetitif. Kombinasi antara kondisi pasar tersebut dan peningkatan insentif dinilai berpotensi memperlebar daya tarik imbal hasil aset domestik dibandingkan aset dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS).

"Harapannya, pasar domestik kita terjadi repricing di SBN, kemudian ditambah insentif diperbesar, akan membuat spread aset domestik dengan USD menjadi menarik. Kami fokus dan targeted mendatangkan inflow," tuturnya.

Melalui berbagai langkah tersebut, BI menargetkan arus modal asing dapat kembali masuk ke pasar keuangan nasional. Strategi ini sekaligus diharapkan mampu menopang stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian dan tekanan yang masih membayangi pasar keuangan global.

Di luar kebijakan untuk menarik investasi asing, BI turut memaksimalkan instrumen pengelolaan likuiditas guna memperkuat dukungan terhadap perekonomian domestik.

Destry menjelaskan, kebijakan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 2% diperkirakan dapat memberikan tambahan likuiditas sekitar Rp190 triliun. Ketersediaan likuiditas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendorong aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter.

"Termasuk penurunan GWM 2% akan ada likuiditas Rp 190 triliun. Jadi kita berusaha untuk mengoptimalkan kebijakan yang kami miliki," katanya. (cnbc)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN