Jangan Luapkan Amarah di Media Sosial, Ini Dampak Psikologisnya

Teks Foto: Melampiaskan amarah di media sosial belum tentu membuat lega. Psikolog menyebutnya justru bisa memperkuat emosi negatif dan memicu masalah baru.(foto:Kompas.com/freepik)
Jakarta, MISTAR.ID (10/8/2026) – Dorongan untuk langsung “curhat” saat marah membuat media sosial sering jadi tempat pelampiasan. Cukup buka aplikasi, ketik keluhan, lalu unggah. Praktis.
Namun menurut psikolog, kebiasaan itu justru bisa memperparah emosi, bukan meredakannya.
Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, M.M., mengatakan, media sosial bukan ruang yang tepat untuk melampiaskan amarah secara impulsif.
“Melampiaskan kemarahan secara impulsif tidak selalu membuat permasalahan selesai dan emosi membaik. Justru sangat mungkin hal itu malah memperkuat kemarahan karena seseorang terus mengulang dan menghidupkan kembali emosi negatifnya,” kata Ratih, dikutip dari ANTARA, Sabtu (9/8/2026).
Ratih mengakui, mengeluarkan unek-unek memang bisa memberi rasa lega sesaat. Bercerita saat marah membuat beban emosional terasa berkurang.
Masalahnya, jika kemarahan terus dituangkan lewat unggahan, komentar, atau balasan, seseorang akan kembali memutar ingatan tentang pemicu marah. Emosi negatif itu jadi dipelihara lewat pengulangan di ruang digital.
“Dengan kata lain, melampiaskan secara impulsif belum tentu menyelesaikan sumber masalah. Malah membuat kita semakin terikat pada emosi itu,” ujarnya.
Dampak lainnya lebih nyata. Unggahan saat marah berisiko memicu konflik baru, penyesalan setelah emosi reda, hingga merusak reputasi profesional. Apalagi di media sosial, satu unggahan bisa dilihat dan disebar luas dalam hitungan detik.
Risiko makin besar jika sasaran kemarahan adalah pihak dengan relasi kuasa tidak seimbang.
“Apalagi jika yang menjadi sasaran adalah individu yang memiliki relasi kuasa tidak seimbang, seperti pasien,” kata Ratih.
Fenomena ini dijelaskan lewat online disinhibition effect. Jarak, anonimitas, dan minimnya konsekuensi langsung membuat orang merasa lebih bebas bereaksi di dunia maya dibanding tatap muka.
“Adanya jarak dengan lawan bicara, kemungkinan anonimitas, serta minimnya konsekuensi yang langsung terlihat membuat seseorang lebih mudah mengabaikan kontrol diri. Sesuatu yang sulit dikatakan langsung bisa terasa mudah ditulis di layar,” jelas Ratih.
Alih-alih langsung posting, Ratih menyarankan beberapa cara mengelola amarah:
1. Berbicara ke orang terpercaya: Mencerita ke orang yang mendengarkan tanpa menghakimi membantu memahami akar masalah.
2. Refleksi diri: Kenali sumber kemarahan dan pikirkan langkah penyelesaian.
3. Bantuan profesional: Jika emosi negatif berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, segeralah konsultasi ke psikolog.
“Memiliki emosi marah itu wajar. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menyalurkannya,” tegasnya.
Ia mengingatkan, media sosial memang ruang berekspresi, tetapi tidak semua emosi harus dibagikan ke publik. Setiap unggahan meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus dan dampaknya bisa meluas jauh setelah emosi reda.(Antara/hm02)















