Wapres Gibran Dihadang Warga Korban Bencana di Tapteng, Keluhkan Jadup dan Huntap

Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka dihadang warga korban bencana saat mengunjungi proyek pengendali banjir di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapteng. (Foto: Feliks/Mistar)
Tapteng, MISTAR.ID (4/9/2026) — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka dihadang warga saat mengunjungi proyek pengendali banjir dan Sabo Dam di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Jumat (4/9/2026).
Warga yang merupakan korban bencana tersebut mengeluhkan kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial yang dinilai lambat mencairkan bantuan jaminan hidup (Jadup) dan dana stimulan lainnya yang telah dijanjikan pemerintah kepada warga terdampak bencana.
“Pak, tolong kami, cairkan Jadup. Jadup Pak Bobby. Bantuan hunian tetap (Huntap) juga,” sorak warga kepada Gibran saat hendak menaiki mobilnya usai melihat proyek pengendali banjir dan Sabo Dam di Kelurahan Hutanabolon.
Kehadiran Gibran yang turut didampingi Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution dan Bupati Tapteng Masinton Pasaribu untuk meninjau pembangunan proyek pengendali banjir dan Sabo Dam di Kelurahan Hutanabolon hanya berlangsung sekitar 15 menit.
Saat tiba di Hutanabolon dan keluar dari kendaraannya, Wapres sempat mendengar penjelasan terkait pembangunan proyek pengendali banjir dan Sabo Dam dari Kepala BBWS Sumatera II Medan (wilayah Sumut), Feriyanto Pawenrusi.
Usai mendengar penjelasan tersebut, Gibran dan rombongan meninjau pembangunan proyek pengendali banjir serta menyempatkan diri berfoto dengan para pekerja proyek. Setelah itu, rombongan langsung kembali menuju kendaraan.
Namun, melihat banyaknya warga yang menunggunya, Gibran kemudian menemui warga dengan mendapat pengawalan ketat dari petugas Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Kepala Desa Sait Kalangan II, Kecamatan Tukka, Nikson Panggabean, yang sempat berbicara langsung dengan Gibran mengeluhkan kondisi desanya pascabencana yang sempat terisolasi dan hingga kini masih sangat memprihatinkan.
“Tadi kita sampaikan ke Pak Wapres, memang kalau secara pembukaan jalan, sudah bisa diterobos ke desa kita. Tapi karena banyak jalannya yang becek (hancur), jadi masih butuh pengerasan,” ujarnya.
Menurutnya, saat musim hujan kondisi jalan tidak dapat dilalui kendaraan. Bahkan hingga saat ini listrik belum menyala di Desa Sait Kalangan II.
Nikson menuturkan, saat ini masih banyak warganya yang belum kembali ke desa. Mereka masih memilih mengungsi di Kecamatan Pandan karena kondisi akses jalan.
“Di Desa Sait Kalangan II yang tinggal saat ini masih sekitar 40 persen lah sekarang yang sudah balik. Masih banyak yang belum kembali,” katanya.
Selain itu, lanjut Nikson, banyak warga belum kembali ke desanya pascabencana karena kondisi perekonomian masih lumpuh.
“Pada umumnya, desa kita itu kan hidup dari pertanian. Saat bencana itu banyak yang rusak. Hampir 50 persen rusak. Ada juga yang bertahan karena kebunnya masih bagus. Tapi ada juga yang mengungsi di sekitar Pandan,” tuturnya.





























