Tunggul Berusia Ratusan Tahun di Asahan, Diyakini Jadi Tempat Pejuang Bertukar Kabar Lawan Belanda

Tunggul pohon tua di Desa Tunggul 45, Asahan, diyakini berusia lebih dari 300 tahun, terletak di samping Jalinsum wilayah Asahan. (Foto: Perdana/Mistar)
Asahan, MISTAR.ID - Di pinggir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), tepatnya di Desa Tunggul 45, Kecamatan Pulau Rakyat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, terdapat sebuah peninggalan yang hingga kini masih menyimpan cerita masa lalu.
Bukan bangunan tua atau monumen bersejarah, melainkan sebuah tunggul pohon berukuran besar yang diyakini masyarakat setempat telah berusia lebih dari tiga abad.
Tunggul atau pangkal batang pohon yang masih tertanam di dalam tanah itu dipercaya menjadi salah satu saksi bisu perjuangan masyarakat dalam menghadapi penjajahan Belanda.
Meski bagian utama pohon telah lama ditebang, sisa batangnya masih dipelihara oleh masyarakat sekitar. Bagi warga Desa Tunggul 45, keberadaan tunggul tersebut bukan sekadar sisa pohon tua, melainkan jejak sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tokoh masyarakat setempat, Paimin, mengatakan berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat, kawasan di sekitar pohon besar itu dahulu menjadi salah satu titik berkumpul para pejuang dan warga.
Pada masa perjuangan, lokasi tersebut disebut digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai pergerakan pasukan kolonial Belanda.
“Dari cerita orang-orang tua kami, di sekitar pohon inilah dulu para pejuang dan masyarakat berkumpul. Mereka saling menyampaikan kabar dan pesan tentang pergerakan tentara Belanda,” ujar Paimin saat berbincang dengan wartawan, Minggu (16/7/2026).
Menurutnya, kondisi pohon yang besar pada masa itu menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu tempat yang dianggap aman untuk bertukar informasi.
Pesan-pesan yang disampaikan tidak selalu dilakukan secara terbuka. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, informasi mengenai keberadaan dan pergerakan pasukan Belanda disampaikan melalui cara-cara tertentu atau menggunakan sandi agar tidak mudah diketahui pihak penjajah.
“Masyarakat percaya tunggul ini bukan hanya pohon biasa. Ini adalah saksi perjuangan orang-orang terdahulu dalam mempertahankan tanah dan melawan penjajahan,” katanya.
Menyimpan Jejak Perlawanan di Asahan
Wilayah Asahan pada masa kolonial dikenal memiliki sumber daya alam yang menarik perhatian pemerintah dan pengusaha Belanda. Perkebunan kemudian berkembang di sejumlah wilayah dan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi pada masa tersebut.
Ekspansi kolonial itu, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, turut memicu perlawanan dari masyarakat dan para pejuang di sejumlah wilayah Asahan.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat membutuhkan cara untuk mengetahui pergerakan pasukan kolonial dan menyampaikan informasi kepada kelompok pejuang.













