Monday, August 17, 2026
home_banner_first
SUMUT

Tunggul Berusia Ratusan Tahun di Asahan, Diyakini Jadi Tempat Pejuang Bertukar Kabar Lawan Belanda

Mistar.idSenin, 17 Agustus 2026 pukul 08.25 WIB
tunggul_berusia_ratusan_tahun_di_asahan_diyakini_jadi_tempat_pejuang_bertukar_kabar_lawan_belanda

Tunggul pohon tua di Desa Tunggul 45, Asahan, diyakini berusia lebih dari 300 tahun, terletak di samping Jalinsum wilayah Asahan. (Foto: Perdana/Mistar)

news_banner

Tunggul pohon yang kini berada di Desa Tunggul 45 itu diyakini menjadi salah satu titik yang memiliki peran dalam komunikasi masyarakat pada masa perjuangan.

Paimin menyebut keberadaan tunggul tersebut masih terus diceritakan kepada generasi muda agar sejarah perjuangan masyarakat di daerah itu tidak hilang.

“Kami menjaga tempat ini karena ada cerita perjuangan yang melekat. Anak-anak muda juga perlu tahu bahwa daerah ini memiliki sejarah dan perjuangan orang-orang terdahulu,” ujarnya.

Bagi masyarakat setempat, tunggul tersebut juga memiliki makna tersendiri dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia. Cerita turun-temurun menyebut kawasan di sekitar tunggul itu menjadi tempat masyarakat berkumpul dan bertukar kabar pada masa perjuangan.

Karena itu, ketika kabar kemerdekaan Indonesia menyebar hingga ke daerah, lokasi tersebut diyakini menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Desa Tunggul 45. Keberadaan tunggul yang terus dipertahankan hingga saat ini kemudian menjadi identitas masyarakat setempat.

Nama Desa Tunggul 45 sendiri disebut berkaitan dengan keberadaan tunggul pohon bersejarah tersebut serta ingatan masyarakat terhadap tahun kemerdekaan Indonesia, 1945.

Kini, tunggul tua itu tetap berada di sisi Jalinsum dan dirawat oleh masyarakat sekitar. Pada tahun 2009, Pemerintah Desa Tunggul 45 melakukan pemugaran pada tunggul ini. Tidak sedikit warga yang memandangnya sebagai peninggalan bersejarah yang menyimpan cerita tentang keberanian, perjuangan, dan komunikasi rahasia para pejuang pada masa penjajahan.

Bagi Paimin dan masyarakat Desa Tunggul 45, menjaga tunggul tersebut berarti menjaga ingatan tentang masa lalu.

“Boleh jadi yang tersisa sekarang hanya tunggulnya. Tetapi cerita perjuangan yang diwariskan dari orang-orang tua kami harus tetap hidup dan jangan sampai hilang,” tutup Paimin. (hm25)


Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN