Tuesday, July 21, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Sosialisasi Dinilai Lemah, Petani Simalungun Harap Kios Patuhi HET Pupuk Subsidi

Mistar.idSabtu, 17 Januari 2026 pukul 12.36 WIB
sosialisasi_dinilai_lemah_petani_simalungun_harap_kios_patuhi_het_pupuk_subsidi

Areal persawahan milik petani di Kecamatan Panei, Simalungun. (foto: indra/mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID

Petani di Kabupaten Simalungun berharap seluruh kios pupuk benar-benar mematuhi Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi yang telah ditetapkan pemerintah. Harapan itu mencuat karena di lapangan masih ditemukan penjualan pupuk subsidi dengan harga lama, sementara banyak petani belum mengetahui adanya penurunan HET.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menetapkan HET pupuk subsidi yang berlaku secara nasional. Untuk pupuk Urea Rp1.800 per kilogram, NPK Rp1.840 per kilogram, ZA Rp1.360 per kilogram, NPK Kakao Rp2.640 per kilogram, dan pupuk organik Rp640 per kilogram. Dengan ketentuan tersebut, harga pupuk urea dan NPK berada di kisaran Rp90 ribu–Rp92 ribu per sak 50 kilogram di tingkat kios resmi.

Namun di Kecamatan Panombeian Panei, sejumlah petani mengaku masih membeli pupuk subsidi dengan harga Rp135 ribu per sak. Adi, salah seorang petani, mengatakan hingga kini tidak ada informasi resmi yang ia terima terkait penurunan HET pupuk subsidi.

"Belum ada informasi soal harga turun. Kami terakhir beli pupuk bulan Desember, satu sak Rp135 ribu," ujarnya, Sabtu (17/1/2025).

Ia menambahkan, meski di wilayah tersebut terdapat penyuluh pertanian yang kerap berinteraksi dengan kelompok tani, pembahasan lebih banyak seputar pola tanam dan musim, bukan soal kebijakan harga pupuk.

"Ada penyuluh, kadang ketemu juga dengan kelompok tani, sharing soal tanaman dan musim. Tapi soal harga pupuk turun, tidak ada disampaikan," katanya.

Kondisi berbeda terlihat di beberapa nagori lain di Kecamatan Panei. Sebagian petani mengaku sudah membeli pupuk subsidi sesuai HET terbaru. Meski demikian, mereka mengeluhkan keterbatasan jatah pupuk yang diterima.

"Bulan lalu beli sudah sesuai HET, tapi jatahnya pas-pasan. Harapan kami jangan setelah harga murah, pupuk subsidi justru langka. Kalau begitu, sama saja," ucap seorang petani.

Petani menilai persoalan pupuk subsidi di Simalungun bukan hanya soal harga, tetapi juga menyangkut sosialisasi kebijakan dan pengawasan kios.

Mereka berharap pemerintah daerah, dinas pertanian, serta penyuluh lapangan lebih aktif menyampaikan informasi HET pupuk subsidi dan memastikan seluruh kios resmi menjual sesuai ketentuan, agar manfaat subsidi benar-benar dirasakan petani secara adil dan merata.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN