vivo X500 Series Meluncur September, Bawa Video Sinematik 4K 240fps

Ilustrasi, vivo X500 Series Meluncur September, Bawa Video Sinematik 4K 240fps. (foto:techdaily/gemini/mistar)
Kamera 17EV Jadi Salah Satu Senjata Utama
Pada X500 Pro Series, vivo memperkenalkan kamera utama ZEISS Super Dynamic yang dikembangkan melalui kolaborasi Blueprint Imaging vivo dan Sony.
Sensor Blueprint Guangyu 900 yang digunakan memiliki resolusi 50 MP dan ukuran sekitar 1/1,28 inci. vivo mengklaim sensor tersebut dapat mencapai dynamic range hingga 17EV, yang disebut sebagai angka tertinggi di industri.
Dynamic range pada dasarnya menggambarkan seberapa banyak detail yang mampu dipertahankan kamera pada area sangat terang sekaligus area gelap dalam satu adegan.
Contohnya ketika pengguna merekam seseorang dengan latar matahari atau jendela yang sangat terang. Kamera dengan dynamic range lebih tinggi memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan detail pada wajah sekaligus area terang di belakang subjek.
Yang membuat teknologi X500 semakin menarik adalah kemampuan tersebut tidak hanya ditujukan untuk fotografi.
vivo menyebut kemampuan 17EV juga dibawa ke video, sehingga setiap frame dapat mempertahankan rentang tonal yang lebih luas ketika menghadapi kondisi pencahayaan ekstrem, termasuk adegan backlight.
17EV Lebih Penting daripada Sekadar Angka Megapiksel
Bagi pengguna awam, angka 17EV mungkin terdengar seperti spesifikasi teknis biasa. Padahal, jika performanya sesuai klaim vivo, dampaknya bisa jauh lebih terasa dibanding sekadar peningkatan resolusi kamera.
Dalam produksi video, perubahan pencahayaan terjadi terus-menerus. Subjek dapat berpindah dari tempat teduh ke area terang, kamera dapat mengarah ke sumber cahaya, atau kondisi langit dapat berubah secara drastis.
Jika kamera mampu mempertahankan detail highlight dan shadow secara konsisten, footage akan lebih fleksibel ketika masuk ke tahap editing dan color grading.
Dengan kata lain, vivo tampaknya tidak hanya mengejar pertanyaan "seberapa detail kameranya?", tetapi juga "seberapa banyak informasi visual yang dapat dipertahankan kamera?"
4K 240fps: Bukan Sekadar Slow Motion
Fitur video lain yang paling menonjol adalah kemampuan merekam 4K hingga 240fps.
Frame rate 240fps berarti kamera menangkap 240 frame dalam satu detik. Jika footage tersebut diputar pada timeline 30fps, secara teori satu detik rekaman dapat diperlambat hingga sekitar delapan kali.
Fitur ini cocok untuk merekam objek dengan gerakan cepat seperti olahraga, percikan air, kendaraan, ekspresi manusia, pertunjukan panggung maupun adegan dengan gerakan dramatis.
Menariknya, kemampuan tersebut hadir dalam resolusi 4K. Artinya, pengguna tidak harus memilih antara resolusi tinggi dan slow motion ekstrem.
vivo juga menyebut X500 Pro Series mendukung 4K 120fps HDR secara langsung, memberikan alternatif bagi kreator yang menginginkan footage dengan gerakan lebih halus sekaligus rentang dinamis tinggi.
Seperti Apa Hasil Video Sinematiknya?
Secara teknis, keberadaan 4K 240fps atau 17EV belum otomatis membuat sebuah video terlihat sinematik.
Karakter sinematik tetap dipengaruhi banyak faktor, termasuk kualitas optik, warna, exposure, autofocus, rolling shutter, bitrate, stabilisasi dan proses editing.
Namun, X500 Series memiliki kombinasi teknologi yang menarik untuk mendukung workflow tersebut.
Pertama, dynamic range tinggi membantu mempertahankan detail pada kondisi kontras ekstrem.
Kedua, 4K 120fps dan 240fps memberikan fleksibilitas dalam membuat gerakan lambat.
Ketiga, stabilisasi membantu menghasilkan footage handheld yang lebih stabil.
Keempat, kolaborasi ZEISS menjadi bagian dari karakter imaging flagship vivo.
Karena itu, istilah "video sinematik" pada X500 lebih tepat dilihat sebagai gabungan berbagai kemampuan imaging, bukan satu fitur tunggal.
OIS 3 Derajat dan CIPA 7.0
vivo juga menyoroti sistem stabilisasi pada X500 Pro Series.
Kamera utamanya disebut mendukung OIS dengan rentang hingga 3 derajat, disertai klaim rating stabilisasi CIPA 7.0.
Stabilisasi menjadi sangat penting ketika merekam video menggunakan tangan. Gerakan kecil saat berjalan atau menggeser kamera dapat menghasilkan micro-jitter yang membuat footage terlihat kurang profesional.
Dengan kemampuan stabilisasi yang lebih agresif, X500 berpotensi menghasilkan footage handheld yang lebih tenang.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa OIS tetap berbeda dengan gimbal mekanis. Klaim "setara gimbal" sebaiknya dipahami sebagai perbandingan kemampuan stabilisasi, bukan berarti smartphone tersebut benar-benar menggantikan gimbal fisik dalam seluruh skenario.
Bukan Hanya Kamera, Performa Juga Jadi Perhatian























