Monday, August 24, 2026
home_banner_first
OTOMOTIF

IONIQ 5: Mobil Listrik Hyundai yang Canggih, tapi Sempat Terkendala ICCU

Mistar.idSenin, 24 Agustus 2026 pukul 14.47 WIB
ioniq_5_mobil_listrik_hyundai_yang_canggih_tapi_sempat_terkendala_iccu

Ilustrasi, IONIQ 5. (foto:hyundai/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (24/8/2026) — Hyundai IONIQ 5 menjadi salah satu mobil listrik yang ikut mengubah wajah kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Mengusung desain futuristis, teknologi pengisian cepat, serta kemampuan Vehicle-to-Load (V2L), mobil ini sejak awal diposisikan sebagai kendaraan listrik yang menawarkan lebih dari sekadar pengganti mobil bermesin bensin.

Namun, di balik berbagai keunggulannya, IONIQ 5 juga menghadapi persoalan teknis yang sempat mengecewakan sebagian konsumennya.

Salah satu masalah yang paling banyak mendapat perhatian adalah Integrated Charging Control Unit (ICCU). Komponen ini berkaitan dengan sistem pengisian dan kelistrikan kendaraan. Pada unit tertentu, gangguan ICCU dapat menyebabkan baterai 12 volt tidak terisi hingga kendaraan kehilangan tenaga penggerak.

Persoalan tersebut bahkan berujung pada kampanye recall di sejumlah negara.

Lantas, sebenarnya apa itu IONIQ 5, siapa produsennya, berapa harganya, dan mengapa mobil listrik yang pernah menyabet penghargaan bergengsi ini sempat menghadapi masalah?

Apa Itu Hyundai IONIQ 5?

IONIQ 5 merupakan mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) pertama dari merek IONIQ milik Hyundai.

Hyundai Motor Company memperkenalkan IONIQ 5 secara global pada 23 Februari 2021. Mobil ini menjadi model pertama yang menggunakan Electric-Global Modular Platform (E-GMP), platform khusus kendaraan listrik yang dikembangkan Hyundai Motor Group.

Berbeda dengan mobil listrik yang menggunakan basis kendaraan bermesin pembakaran internal, E-GMP dirancang sejak awal untuk kendaraan listrik.

Konsep tersebut memungkinkan Hyundai membuat kabin yang lebih lapang berkat lantai datar dan jarak sumbu roda yang panjang. Platform ini juga mendukung sistem pengisian 400 volt dan 800 volt serta teknologi pengisian dua arah.

IONIQ 5 sendiri terinspirasi dari konsep Hyundai 45 yang diperkenalkan pada 2019. Desainnya kemudian menggabungkan elemen retro dengan teknologi modern, salah satunya melalui desain lampu dan detail bodi yang disebut Parametric Pixel.

Siapa Produsen IONIQ 5?

IONIQ 5 diproduksi oleh Hyundai Motor Company, produsen otomotif asal Korea Selatan.

Untuk pasar Indonesia, IONIQ 5 memiliki posisi yang lebih penting karena Hyundai memproduksinya secara lokal.

Hyundai menyebut IONIQ 5 sebagai mobil listrik pertama yang sepenuhnya dibuat di Indonesia. Kehadiran produksi lokal tersebut menjadi bagian penting dari strategi Hyundai dalam membangun ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air.

IONIQ 5 juga tercatat sebagai salah satu model awal Hyundai yang menggunakan E-GMP, platform yang kemudian menjadi fondasi bagi berbagai kendaraan listrik Hyundai dan Kia.

Kapan IONIQ 5 Diluncurkan?

Secara global, IONIQ 5 diluncurkan pada Februari 2021 dan mulai diproduksi serta dipasarkan pada tahun yang sama. Hyundai dalam laporan resminya menyebut IONIQ 5 diluncurkan pada April 2021.

Di Indonesia, IONIQ 5 mulai menjadi bagian dari strategi elektrifikasi Hyundai melalui produksi lokal pada 2022.

Kehadiran IONIQ 5 juga tidak sekadar memperkenalkan model baru. Hyundai menjadikannya sebagai etalase teknologi kendaraan listrik generasi baru.

Hal itu terlihat dari kemampuan pengisian cepat, V2L, ruang kabin fleksibel, konektivitas, hingga sistem bantuan pengemudi.

Berapa Harga IONIQ 5?

Harga IONIQ 5 berubah mengikuti varian dan periode penjualan.

Saat ini, laman resmi Hyundai Indonesia mencantumkan IONIQ 5 dengan harga mulai Rp809 juta OTR Jakarta. Sementara IONIQ 5 N sebagai varian performa tinggi tercantum mulai Rp1,5 miliar.

Sebelumnya, Hyundai Indonesia pada Mei 2025 mencantumkan harga IONIQ 5 mulai sekitar Rp738,3 juta untuk varian Prime Standard Range.

Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya mencantumkan periode ketika menyebut harga kendaraan. Harga OTR dapat berubah mengikuti kebijakan perusahaan, varian, insentif, serta kondisi pasar.

Bukan Sekadar Mobil Listrik Biasa

Salah satu alasan IONIQ 5 menarik perhatian adalah teknologi yang dibawanya.

Hyundai membekali mobil ini dengan kemampuan Vehicle-to-Load (V2L). Teknologi tersebut memungkinkan energi dari baterai kendaraan digunakan untuk memasok listrik ke perangkat elektronik dengan daya hingga sekitar 3,6 kW pada spesifikasi yang dipasarkan Hyundai Indonesia.

Dengan teknologi tersebut, IONIQ 5 pada dasarnya dapat berfungsi seperti sumber listrik portabel.

Pemilik bisa memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan, termasuk perangkat elektronik ketika melakukan perjalanan atau aktivitas luar ruang.

Teknologi pengisian cepat juga menjadi salah satu keunggulannya. Hyundai Indonesia menyebut IONIQ 5 dapat melakukan pengisian hingga 80 persen dalam sekitar 18 menit dengan sistem pengisian yang sesuai.

Menariknya, teknologi yang membuat IONIQ 5 begitu canggih itu pula yang menunjukkan betapa kompleksnya sistem kelistrikan sebuah mobil listrik modern.

Di sinilah persoalan ICCU kemudian menjadi perhatian.

Mengapa IONIQ 5 Sempat Mengecewakan Konsumen?

Masalah utama yang membuat sebagian pemilik IONIQ 5 kecewa berkaitan dengan Integrated Charging Control Unit atau ICCU.

ICCU merupakan komponen penting dalam sistem E-GMP. Selain berkaitan dengan pengisian, unit ini juga berperan dalam memasok daya untuk sistem kelistrikan tegangan rendah dan mengisi baterai 12 volt.

Dalam dokumen recall Hyundai di Amerika Serikat, dijelaskan bahwa kondisi beban listrik tertentu dapat menyebabkan komponen elektronik di dalam ICCU mengalami kerusakan.

Jika kerusakan tersebut membuat fuse ICCU putus, baterai 12 volt tidak lagi dapat terisi.

Pada kondisi tertentu, kendaraan kemudian masuk ke mode fail-safe. Mobil pada awalnya masih dapat mempertahankan tenaga penggerak, tetapi tenaga dapat berkurang secara bertahap seiring baterai tegangan tinggi terkuras.

Jika kendaraan terus dikendarai hingga baterai 12 volt kehilangan daya sepenuhnya, kendaraan dapat kehilangan seluruh tenaga penggerak.

Bagi konsumen, persoalan tersebut jelas bukan gangguan kecil.

Mobil listrik yang seharusnya menawarkan pengalaman berkendara praktis dan modern justru dapat mengalami masalah yang berujung pada kendaraan kehilangan tenaga atau membutuhkan penanganan di bengkel.

Masalah ICCU Berujung Recall

Persoalan tersebut akhirnya tidak berhenti pada keluhan konsumen.

Hyundai menjalankan kampanye recall untuk unit-unit tertentu. Dalam dokumen recall Amerika Serikat, kendaraan IONIQ 5 model tahun 2022-2024 yang diproduksi pada periode tertentu termasuk dalam kampanye tersebut.

Prosedur perbaikannya tidak hanya berupa pemeriksaan.

Jika kode kerusakan tertentu ditemukan, dealer harus mengganti ICCU dan fuse terkait. Jika tidak ditemukan, kendaraan tetap mendapatkan pembaruan perangkat lunak ICCU sesuai prosedur recall.

Hal tersebut penting dicatat karena menunjukkan bahwa masalah ICCU memang diakui sebagai persoalan teknis yang membutuhkan tindakan resmi, bukan sekadar rumor atau keluhan di media sosial.

Namun, recall di suatu negara tidak otomatis berarti seluruh IONIQ 5 di Indonesia terkena kampanye yang sama.

Status kendaraan tetap harus diperiksa berdasarkan nomor identifikasi kendaraan atau VIN dan kampanye yang berlaku di pasar masing-masing.

Bagaimana Respons Hyundai?

Hyundai merespons persoalan tersebut melalui beberapa tahap, mulai dari pembaruan perangkat lunak hingga penggantian komponen pada kendaraan yang memenuhi kriteria.

Dokumen teknis Hyundai untuk recall menunjukkan bahwa kendaraan yang terindikasi mengalami kerusakan ICCU harus mendapatkan penggantian ICCU dan fuse, kemudian diperiksa atau diperbarui perangkat lunaknya sesuai kebutuhan.

Pendekatan tersebut menunjukkan perubahan penting dalam penanganan masalah.

Jika sebelumnya pembaruan software menjadi salah satu solusi, kendaraan dengan indikasi kerusakan tertentu kemudian membutuhkan penggantian komponen secara langsung.

Dengan demikian, respons Hyundai tidak berhenti pada pernyataan bahwa persoalan dapat ditangani melalui software.

Bagaimana dengan Konsumen di Indonesia?

Konsumen Indonesia perlu melihat persoalan ini secara lebih spesifik.

Tidak semua IONIQ 5 otomatis mengalami kegagalan ICCU. Karena itu, kurang tepat jika persoalan pada unit tertentu digeneralisasi seolah-olah seluruh IONIQ 5 bermasalah.

Yang lebih relevan bagi pemilik adalah memastikan kendaraan mendapatkan pemeriksaan dan pembaruan yang diwajibkan Hyundai, serta mengecek apakah unitnya memiliki kampanye servis atau recall tertentu.

Dari sisi perlindungan konsumen, Hyundai Indonesia saat ini mencantumkan garansi kendaraan 36 bulan atau 100.000 kilometer khusus untuk IONIQ 5 dan IONIQ 6. Sementara baterai high-voltage untuk kendaraan listrik mendapat garansi 8 tahun atau 160.000 kilometer, mana yang tercapai lebih dahulu.

Hyundai juga menyediakan program perpanjangan garansi untuk IONIQ 5 selama satu tahun atau 15.000 kilometer dengan biaya yang tercantum sebesar Rp9,03 juta sebelum pajak, dengan persyaratan tertentu.

Artinya, aspek purna jual menjadi bagian penting ketika membicarakan kepemilikan IONIQ 5.

Fakta Unik: IONIQ 5 Pernah Menyabet Tiga Gelar Sekaligus

Menariknya, persoalan ICCU tersebut hadir di tengah reputasi IONIQ 5 yang sebenarnya sangat kuat.

Pada World Car Awards 2022, IONIQ 5 meraih tiga penghargaan sekaligus, yakni World Car of the Year, World Electric Vehicle of the Year, dan World Car Design of the Year.

Pencapaian tersebut memperlihatkan betapa besar pengaruh IONIQ 5 terhadap persepsi dunia otomotif terhadap kendaraan listrik Hyundai.

Mobil ini bukan sekadar kendaraan listrik baru.

IONIQ 5 menjadi pernyataan Hyundai bahwa mobil listrik dapat memiliki desain yang berbeda, ruang kabin inovatif, performa tinggi, serta teknologi yang dapat mengubah cara orang menggunakan kendaraan.

Insight: Ketika Kecanggihan Menjadi Titik Lemah

Kasus IONIQ 5 memberikan pelajaran penting mengenai perkembangan kendaraan listrik.

Mobil modern semakin bergantung pada perangkat lunak, sensor, modul kontrol, serta sistem manajemen energi.

Pada mobil konvensional, gangguan pada sistem kelistrikan tertentu mungkin hanya berdampak pada fitur pendukung.

Namun pada kendaraan listrik, komponen yang berhubungan dengan distribusi dan pengelolaan energi dapat berpengaruh langsung terhadap kemampuan kendaraan untuk bergerak.

ICCU menjadi contoh nyata dari kondisi tersebut.

Teknologi ini merupakan bagian dari arsitektur E-GMP yang memungkinkan berbagai kemampuan canggih, termasuk pengisian dan fungsi V2L. Namun, ketika komponen tersebut mengalami gangguan, konsekuensinya juga dapat lebih serius.

Dengan kata lain, semakin canggih sebuah mobil listrik, semakin penting pula kualitas integrasi antara hardware, software dan sistem purna jualnya.

IONIQ 5 Bermasalah atau Tetap Layak Dipertimbangkan?

Jawabannya tidak bisa dibuat hitam-putih.

IONIQ 5 tetap memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya menarik, mulai dari desain, kenyamanan, teknologi E-GMP, pengisian cepat, hingga V2L.

Di sisi lain, riwayat masalah ICCU menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan, terutama bagi konsumen yang mempertimbangkan unit bekas atau kendaraan produksi tahun-tahun awal.

Calon pembeli sebaiknya tidak hanya bertanya mengenai harga dan kapasitas baterai.

Riwayat servis, tahun produksi, status kampanye perbaikan, kondisi baterai 12 volt, serta pemeriksaan VIN menjadi hal yang tidak kalah penting.

Bagi pemilik IONIQ 5, langkah paling rasional juga bukan langsung panik, melainkan memastikan kendaraan telah mendapatkan seluruh pembaruan dan pemeriksaan yang berlaku melalui jaringan resmi Hyundai.

IONIQ 5 dan Pelajaran bagi Industri Mobil Listrik

IONIQ 5 tetap menjadi salah satu model penting dalam perjalanan elektrifikasi Hyundai.

Mobil ini memperkenalkan pendekatan baru terhadap kendaraan listrik, mulai dari platform khusus EV, desain yang berani, interior fleksibel, pengisian cepat hingga kemampuan V2L.

Namun, pengalaman dengan ICCU menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu datang tanpa tantangan.

Bagi industri otomotif, kasus tersebut menjadi pengingat bahwa transisi dari mesin pembakaran internal ke kendaraan listrik bukan hanya tentang mengganti mesin dengan motor listrik dan baterai.

Ada ekosistem elektronik yang jauh lebih kompleks di baliknya.

Sementara bagi konsumen, pelajarannya sederhana: jangan hanya melihat seberapa canggih sebuah mobil listrik ketika membelinya. Lihat pula bagaimana produsennya menangani ketika teknologi tersebut bermasalah.

Dalam konteks IONIQ 5, Hyundai telah mengambil langkah melalui pembaruan software, pemeriksaan, penggantian komponen dan recall pada kendaraan yang terdampak di pasar tertentu.

Karena itu, persoalan ICCU lebih tepat dipandang sebagai bagian dari perjalanan pengembangan IONIQ 5—sekaligus pengingat bahwa reputasi sebuah mobil listrik tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang ditawarkan, tetapi juga oleh kemampuan produsennya menjaga kendaraan tersebut setelah sampai ke tangan konsumen.

(hyundai/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN