Studi Ungkap Risiko Stroke Pengguna Amfetamin Naik 122 Persen, Ganja 37 Persen

Studi Ungkap Risiko Stroke Pengguna Amfetamin Naik 122 Persen, Ganja 37 Persen
Cambridge, MISTAR.ID - Penggunaan amfetamin dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke hingga 122 persen, sementara ganja sekitar 37 persen. Temuan itu berasal dari penelitian berskala besar yang menganalisis data lebih dari 100 juta orang.
Dilansir ScienceDaily, Minggu (23/8/2026), tim peneliti University of Cambridge juga menemukan penggunaan kokain dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke sebesar 96 persen. Hasil penelitian dipublikasikan dalam International Journal of Stroke.
Risiko lebih tinggi ditemukan pada pengguna berusia di bawah 55 tahun. Pada kelompok ini, penggunaan amfetamin dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke sebesar 174 persen atau hampir tiga kali lipat.
Sementara penggunaan kokain dikaitkan dengan kenaikan risiko sebesar 97 persen dan ganja 14 persen.
Penelitian dilakukan melalui meta-analisis sejumlah studi kohort. Para peneliti kemudian menggunakan metode Mendelian randomization, yakni analisis berdasarkan variasi genetik, untuk melihat kemungkinan hubungan sebab-akibat antara penggunaan narkoba dan stroke.
Analisis genetik menunjukkan gangguan penggunaan kokain terutama berkaitan dengan perdarahan otak dan stroke kardioembolik. Sedangkan gangguan penggunaan ganja berkaitan dengan stroke secara umum, khususnya stroke pada pembuluh darah besar.
Analisis serupa belum dapat dilakukan terhadap amfetamin karena keterbatasan data genetik.
Para peneliti menyebut sejumlah mekanisme yang diduga meningkatkan risiko stroke, antara lain lonjakan tekanan darah, penyempitan pembuluh darah, gangguan irama jantung, peningkatan pembekuan darah, serta peradangan pada pembuluh darah.
Dr Megan Ritson dari Stroke Research Group University of Cambridge menyebut penelitian tersebut sebagai analisis paling komprehensif sejauh ini mengenai hubungan penggunaan narkoba rekreasional dengan stroke.
“Ini adalah analisis paling komprehensif yang pernah dilakukan,” kata Ritson.
Dr Eric Harshfield dari Department of Clinical Neurosciences University of Cambridge juga mengatakan peningkatan risiko yang ditemukan tidak semata-mata dapat dijelaskan oleh pola hidup pengguna.
“Zat-zat ini sendiri yang meningkatkan risiko stroke,” ujarnya.
Para peneliti mengatakan temuan tersebut menegaskan perlunya meningkatkan kesadaran mengenai dampak kesehatan penggunaan narkoba rekreasional, terutama di kalangan anak muda yang selama ini umumnya dianggap memiliki risiko stroke lebih rendah.
Mereka juga mendorong tenaga kesehatan mempertimbangkan riwayat penggunaan narkoba ketika menangani pasien stroke, khususnya pasien berusia muda. Pencegahan penyalahgunaan narkoba dinilai perlu menjadi bagian dari upaya menekan kejadian stroke.
Metamfetamin Juga Dikaitkan dengan Perdarahan Otak
Metamfetamin atau sabu secara kimia merupakan turunan dari amfetamin. Senyawa ini memiliki tambahan gugus metil dan termasuk dalam kelompok amphetamine-type stimulants (ATS).
Penelitian sebelumnya juga telah mengaitkan penggunaan metamfetamin secara khusus dengan gangguan pembuluh darah otak, terutama perdarahan intraserebral.
Salah satunya studi di Filipina yang menelaah rekam medis pasien periode 2019 hingga 2024. Penelitian kasus-kontrol tersebut melibatkan 218 orang dewasa dengan hipertensi, terdiri atas 101 pasien yang mengalami perdarahan intraserebral dan 117 pasien hipertensi tanpa perdarahan tersebut.
Setelah memperhitungkan usia, jenis kelamin, lama menderita hipertensi, dan kepatuhan terhadap pengobatan, penggunaan metamfetamin dikaitkan dengan odds 3,13 kali lebih tinggi mengalami perdarahan intraserebral.
Artinya, kemungkinan mengalami perdarahan otak pada pengguna metamfetamin dalam kelompok yang diteliti sekitar 213 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding.
Secara angka, temuan tersebut lebih tinggi dibandingkan peningkatan risiko stroke 122 persen pada pengguna amfetamin dalam studi University of Cambridge.
Namun, kedua angka itu tidak dapat dibandingkan secara langsung. Penelitian metamfetamin menggunakan ukuran odds ratio pada kelompok pasien hipertensi dan khusus menilai perdarahan intraserebral, sementara studi Cambridge mengukur peningkatan risiko stroke secara lebih luas pada pengguna amfetamin.
Studi mengenai metamfetamin tersebut menggunakan data pasien periode 2019-2024 dan dipublikasikan secara daring pada 20 April 2026 sebelum dimuat dalam Journal of Clinical Neuroscience edisi Agustus 2026. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Lima Manfaat Jeruk yang Baik bagi Tubuh





















