Tren AI 2026: Sovereign AI hingga Komputasi Kuantum Jadi Fondasi Transformasi Industri

IBM memprediksi tren AI 2026, termasuk sovereign AI dan quantum computing. Perusahaan perlu fokus pada kedaulatan digital dan pengembangan SDM untuk sukses. (Foto: Reuters)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Pertumbuhan berbagai sektor industri terus berkembang cepat seiring dengan peran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin strategis.
Technology Leader IBM ASEAN sekaligus General Manager, Catherine mengungkapkan perkembangan teknologi global terus melaju cepat, dan pada 2026 akan muncul lima fondasi utama yang membentuk arah perkembangan AI, mulai dari kedaulatan data hingga pemanfaatan komputasi kuantum.
Fondasi pertama adalah sovereign AI. Menurut Catherine, kedaulatan AI kini tidak lagi sebatas memenuhi regulasi, namun menjadi faktor penting mendorong ekspansi bisnis. Berdasarkan hasil kajian IBM, tidak sedikit perusahaan multinasional di kawasan Asia Pasifik bakal menerapkan strategi pengelolaan data yang berdaulat.
Ia menyebutkan, nilai pasar sovereign cloud di kawasan Asia Pasifik diperkirakan melonjak signifikan, dari sekitar 37 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 169 miliar dolar AS pada 2028. Kondisi ini, kata Catherine, menuntut jajaran direksi untuk menempatkan kedaulatan digital sebagai agenda prioritas.
“Perusahaan perlu mengadopsi infrastruktur cloud hybrid untuk memperkuat kedaulatan AI, memanfaatkan AI dalam transformasi alur kerja, serta meningkatkan kompetensi sumber daya manusia agar mampu mengelola teknologi tersebut,” jelasnya dikutip dari CNN pada Senin (15/12/2025).
Tren kedua berkaitan dengan peran AI sebagai penggerak pertumbuhan pendapatan perusahaan. Catherine menilai, penggunaan AI saat ini telah melampaui tahap otomatisasi dasar dan efisiensi biaya, menuju fungsi yang lebih strategis dalam mendukung pengembangan bisnis.
Ia mengungkapkan, sekitar 64 persen CEO menyadari bahwa keberhasilan implementasi AI lebih ditentukan oleh kesiapan manusia yang menggunakannya, bukan semata-mata oleh teknologi. Bahkan, 72 persen pimpinan perusahaan global melihat generative AI sebagai kunci keunggulan kompetitif di industri.
Agar AI benar-benar berkontribusi pada peningkatan pendapatan, perusahaan perlu menyusun peta jalan transformasi yang jelas. Mulai dari optimalisasi otomatisasi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, penciptaan diferensiasi pasar, pengembangan model bisnis baru, hingga pembukaan sumber pendapatan berbasis AI.
Fondasi ketiga adalah interoperabilitas agentic AI yang akan membentuk cara kerja operasional perusahaan. Dalam konteks ini, perusahaan dituntut membangun arsitektur AI yang terintegrasi, memastikan aliran data berjalan aman, serta mengevaluasi dampak penggunaan agen AI terhadap tenaga kerja manusia.
Tren keempat adalah trusted AI atau AI yang dapat dipercaya. Catherine menekankan, kepercayaan pengguna menjadi elemen krusial. Survei IBM menunjukkan 95 persen eksekutif percaya bahwa tingkat kepercayaan terhadap AI akan menentukan keberhasilan adopsinya.
Untuk membangun kepercayaan tersebut, perusahaan perlu menjamin transparansi penggunaan AI, memberikan kontrol atas data pengguna, serta melibatkan konsumen dalam uji coba fitur AI sebelum diterapkan secara luas.
Sementara itu, tren kelima adalah adopsi komputasi kuantum. Catherine menjelaskan bahwa teknologi ini berpotensi merevolusi pemecahan masalah dengan tingkat akurasi, kecepatan, dan efisiensi yang melampaui komputasi konvensional.
Keberhasilan penerapan komputasi kuantum, lanjutnya, sangat bergantung pada keterlibatan perusahaan dalam ekosistem yang saling terhubung. Survei IBM menunjukkan organisasi yang siap menghadapi era kuantum umumnya aktif berkolaborasi dalam berbagai ekosistem, termasuk melalui kemitraan strategis.
Menutup pemaparannya, Catherine menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi yang dimiliki, faktor manusia tetap menjadi penentu utama keberhasilan adopsi AI.
“Tanpa sumber daya manusia yang kompeten dan siap beradaptasi, teknologi terbaik pun tidak akan memberikan dampak maksimal,” pungkasnya.
PREVIOUS ARTICLE
Xiaomi Siapkan Perangkat Pelacak, Bisa Digunakan untuk Dompet





















