Komisi V DPR RI Tinjau Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta, BMKG Paparkan Peran Strategis Layanan Cuaca Penerbangan

Komisi V DPR RI Tinjau Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta, BMKG Paparkan Peran Strategis Layanan Cuaca Penerbangan. (foto:dokumen hmas bmkg/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID, Sabtu (11/7/2026) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerima Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI di Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten, Jumat (10/7/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk meninjau fasilitas pendukung layanan informasi cuaca penerbangan sekaligus memperkuat pemahaman mengenai peran BMKG dalam menjaga keselamatan, keamanan, dan kelancaran operasional transportasi udara nasional.
Dalam pertemuan itu, Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta merupakan salah satu stasiun meteorologi penerbangan paling lengkap di Indonesia. Stasiun tersebut berstatus sebagai Meteorological Watch Office (MWO) dan beroperasi selama 24 jam untuk mendukung aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
“Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta merupakan stasiun meteorologi yang sangat lengkap. Sebagai Meteorological Watch Office, stasiun ini memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung keselamatan penerbangan melalui penyediaan informasi cuaca yang akurat, cepat, dan berkesinambungan,” ujar Guswanto.
Layanan Cuaca untuk Keselamatan Penerbangan
Guswanto mengatakan BMKG memegang peran penting dalam sistem meteorologi penerbangan nasional. Lembaga tersebut menyediakan berbagai informasi cuaca yang menjadi acuan bagi maskapai, penyelenggara navigasi penerbangan, operator bandara, layanan pencarian dan pertolongan, hingga masyarakat di sekitar kawasan bandar udara.
Informasi yang diterbitkan meliputi Aerodrome Warning, SIGMET untuk cuaca ekstrem, peringatan siklon tropis, serta informasi abu vulkanik. Seluruh data disusun untuk mendukung keselamatan penerbangan sejak tahap perencanaan hingga operasional di lapangan.
Ia juga memaparkan wilayah layanan Meteorological Watch Office Jakarta mencakup Flight Information Region (FIR) Barat Indonesia yang meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, dan sebagian Pulau Jawa. Informasi meteorologi dari Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta kemudian didistribusikan kepada pengguna jasa penerbangan di tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Guswanto, tingginya intensitas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta membuat kecepatan dan ketepatan informasi cuaca menjadi kebutuhan utama. Sepanjang 2025, bandara tersebut melayani sekitar 1.100 pergerakan pesawat setiap hari atau rata-rata satu pergerakan setiap 1,3 menit.
Kondisi tersebut mendorong BMKG memastikan layanan informasi cuaca tersedia secara real time tanpa henti. Dukungan itu ditopang oleh berbagai perangkat operasional yang bekerja secara terpadu.
Didukung Peralatan Observasi Modern
Untuk menunjang layanan meteorologi penerbangan, BMKG mengoperasikan sejumlah alat operasional utama. Di antaranya Automatic Weather Observing System (AWOS) Kategori III yang terpasang di tiga landasan pacu, Terminal Doppler Weather Radar (TDWR), LIDAR, Low Level Wind Shear Alert System (LLWAS), Wind Profiler, Radar Cuaca X-Band, citra satelit cuaca, hingga sistem pemodelan cuaca numerik.
Seluruh hasil pengamatan dikumpulkan secara otomatis ke ruang observasi dan ruang prakiraan cuaca. Setelah melalui proses analisis, informasi tersebut disebarluaskan kepada seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan.
Komisi V DPR RI Apresiasi Kinerja BMKG
Perwakilan Komisi V DPR RI, Dr. Edi Purwanto, mengapresiasi kinerja BMKG dalam mendukung keselamatan penerbangan nasional. Menurutnya, kunjungan kerja tersebut bertujuan melihat langsung kesiapan fasilitas layanan meteorologi di bandara tersibuk di Indonesia.
“Kunjungan kerja spesifik ini kami lakukan untuk meninjau secara langsung fasilitas pendukung layanan informasi cuaca di Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta. Sebagai bandara tersibuk di Indonesia dan pintu gerbang utama penerbangan internasional, ketersediaan informasi meteorologi yang akurat, tepat waktu, dan andal merupakan fondasi utama bagi keselamatan, keamanan, dan efisiensi penerbangan,” kata Edi.
Ia menilai kualitas layanan BMKG tercermin dari capaian Operational Meteorological (OPMET) Index Indonesia yang telah melampaui angka 0,95. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan layanan meteorologi penerbangan Indonesia berada pada level yang sangat baik.
“Komisi V DPR RI memandang BMKG sebagai pemangku kepentingan utama dalam ekosistem meteorologi penerbangan. Kami mengapresiasi capaian BMKG, salah satunya tercermin dari nilai OPMET Indonesia yang melampaui angka 0,95. Ini menunjukkan kualitas layanan yang sangat baik,” ujarnya.
Edi berharap seluruh infrastruktur pendukung, mulai dari TDWR, AWOS Kategori III, radar cuaca hingga sistem radiosonde, terus dipelihara dan dikalibrasi agar mampu mendukung operasional penerbangan secara optimal.
Sementara itu, BMKG juga memperlihatkan kepada rombongan Komisi V DPR RI proses pengamatan, pengolahan, hingga penyebarluasan informasi cuaca penerbangan. Delegasi meninjau ruang operasional serta berbagai perangkat utama yang digunakan dalam layanan meteorologi di Bandara Soekarno-Hatta.
Guswanto menegaskan pemeliharaan infrastruktur menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan layanan meteorologi penerbangan.
“Kami terus menjaga keberlangsungan pemeliharaan seluruh peralatan meteorologi agar layanan informasi cuaca penerbangan tetap andal, akurat, dan mampu mendukung keselamatan transportasi udara nasional,” ujarnya.
(bmkg/hm27)
PREVIOUS ARTICLE
Harga iPhone 15 Terbaru 2026 Naik Lagi? Cek Spesifikasi, Keunggulan, dan Update ResminyaBERITA TERPOPULER






BERITA TERPOPULER























