Tuesday, November 3, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Enam Fenomena Astronomi yang Menghiasi Langit November 2026

Mistar.idSelasa, 3 November 2026 pukul 06.00 WIB
enam_fenomena_astronomi_yang_menghiasi_langit_november_2026

Supermoon. (Foto: BBC)

Jakarta, MISTAR.ID – Sejumlah fenomena astronomi menarik diperkirakan menghiasi langit sepanjang November 2026. Peristiwa tersebut meliputi hujan meteor Taurid dan Leonid, fase Bulan Baru, Merkurius pada elongasi barat terbesar, Supermoon, hingga oposisi Uranus.

Mengutip kalender astronomi Sea and Sky, November menjadi waktu yang menarik bagi pencinta astronomi untuk mengamati berbagai fenomena benda langit. Sejumlah peristiwa bahkan dapat disaksikan tanpa alat bantu, asalkan cuaca cerah dan kondisi lokasi pengamatan mendukung.

4-5 November: Hujan Meteor Taurid

Hujan meteor Taurid menjadi salah satu fenomena yang membuka rangkaian peristiwa astronomi pada November. Puncaknya diperkirakan terjadi pada malam 4 November hingga dini hari 5 November.

Taurid termasuk hujan meteor minor yang berlangsung cukup panjang, yakni setiap tahun mulai 7 September hingga 10 Desember. Fenomena ini terbagi menjadi dua aliran meteor. Aliran pertama berasal dari debu Asteroid 2004 TG10, sedangkan aliran lainnya berasal dari material sisa Komet 2P Encke.

Saat mencapai puncak, Taurid diperkirakan menghasilkan sekitar 5-10 meteor per jam. Pengamatan terbaik dapat dilakukan setelah tengah malam dari tempat gelap yang jauh dari polusi cahaya perkotaan.

Meteor-meteor tersebut seolah muncul dari arah rasi bintang Taurus. Meski demikian, kemunculannya sebenarnya dapat terlihat dari berbagai bagian langit.

9 November: Fase Bulan Baru

Pada 9 November, Bulan akan memasuki fase Bulan Baru atau New Moon. Fase ini terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, sehingga sisi Bulan yang menghadap Bumi tidak menerima cahaya Matahari secara langsung. Akibatnya, Bulan tidak terlihat di langit malam.

Berdasarkan kalender Sea and Sky, fase Bulan Baru berlangsung pada pukul 07.03 UTC atau 14.03 WIB.

Minimnya cahaya Bulan menjadikan periode ini waktu yang tepat untuk mengamati objek langit yang redup, seperti galaksi dan gugus bintang. Pengamatan akan lebih optimal jika dilakukan dari lokasi yang memiliki tingkat polusi cahaya rendah.

17-18 November: Hujan Meteor Leonid

Hujan meteor Leonid juga menjadi fenomena yang dinantikan pada November 2026. Puncak kemunculannya diperkirakan berlangsung pada malam 17 November hingga dini hari 18 November.

Leonid merupakan hujan meteor tahunan yang berasal dari debu dan material peninggalan Komet Tempel-Tuttle, yang pertama kali ditemukan pada 1865. Saat mencapai puncak, hujan meteor ini dapat menghasilkan hingga 15 meteor per jam.

Leonid memiliki karakteristik berupa peningkatan aktivitas yang signifikan setiap sekitar 33 tahun. Dalam kondisi tertentu, jumlahnya bahkan dapat mencapai ratusan meteor per jam. Peningkatan besar terakhir tercatat pada 2001.

Pada November 2026, pengamatan Leonid diperkirakan cukup menjanjikan. Meski cahaya Bulan yang terang pada awal malam berpotensi mengganggu pengamatan meteor redup, kondisi langit akan semakin gelap setelah Bulan terbenam sekitar tengah malam.

Karena itu, waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah setelah tengah malam hingga menjelang fajar. Pengamatan sebaiknya dilakukan dari lokasi yang jauh dari sumber cahaya perkotaan.

20 November: Merkurius di Elongasi Barat Terbesar

Merkurius dijadwalkan mencapai elongasi barat terbesar atau Greatest Western Elongation pada 20 November. Pada posisi tersebut, jarak sudut Merkurius dari Matahari mencapai sekitar 19,6 derajat.

Elongasi merupakan jarak sudut antara planet dan Matahari jika diamati dari Bumi. Ketika berada pada elongasi barat terbesar, Merkurius memiliki posisi yang relatif menguntungkan untuk diamati menjelang Matahari terbit.

Pengamat dapat mencari planet tersebut di langit timur sesaat sebelum Matahari muncul di ufuk. Peristiwa ini menjadi salah satu kesempatan terbaik untuk mengamati Merkurius karena planet tersebut mencapai posisi tertinggi di atas cakrawala timur selama periode pengamatan.

24 November: Supermoon atau Beaver Moon

Supermoon menjadi salah satu fenomena utama yang menghiasi langit November 2026. Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada 24 November.

Supermoon merupakan istilah populer untuk Bulan Purnama yang berlangsung ketika Bulan berada dekat dengan titik terdekatnya dari Bumi atau perigee. Dalam kondisi tersebut, Bulan dapat terlihat sedikit lebih besar dan terang dibandingkan Bulan Purnama pada umumnya.

Menurut kalender Sea and Sky, puncak Bulan Purnama terjadi pada pukul 14.55 UTC atau 21.55 WIB.

Bulan Purnama pada November juga dikenal dengan sebutan Beaver Moon. Nama tersebut berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara yang menghubungkannya dengan periode pemasangan perangkap berang-berang sebelum rawa dan sungai membeku saat musim dingin.

Fenomena ini merupakan Supermoon kedua dari tiga Supermoon yang terjadi sepanjang 2026. Meski perbedaan ukuran Bulan dengan Bulan Purnama biasa relatif kecil, peristiwa tersebut tetap menarik untuk diamati maupun diabadikan melalui fotografi langit malam.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN