Tuesday, October 13, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Catat Tanggalnya! Hujan Meteor Orionid dan Fenomena Langit Ini Hiasi Oktober 2026

Mistar.idSelasa, 13 Oktober 2026 pukul 07.30 WIB
catat_tanggalnya_hujan_meteor_orionid_dan_fenomena_langit_ini_hiasi_oktober_2026

Ilustrasi fenomena langit (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID – Penggemar astronomi masih berkesempatan menikmati sejumlah fenomena langit menarik pada paruh kedua Oktober 2026. Mulai dari hujan meteor hingga kemunculan gugusan bintang, beberapa peristiwa ini dapat diamati tanpa teleskop jika kondisi cuaca dan langit mendukung.

Tiga fenomena yang patut dicatat adalah puncak hujan meteor Orionid, hujan meteor Leonis Minorid, serta penampakan Bulan di dekat gugusan bintang Pleiades.

1. Hujan Meteor Orionid Puncak 21–22 Oktober

Hujan meteor Orionid diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 21 Oktober hingga dini hari 22 Oktober 2026.

Fenomena ini terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu yang ditinggalkan Komet Halley. Partikel debu yang memasuki atmosfer dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik menghasilkan kilatan cahaya yang terlihat sebagai meteor.

Dalam kondisi pengamatan ideal, Orionid dapat menghasilkan sekitar 10–20 meteor per jam. Namun, jumlah yang benar-benar terlihat bergantung pada kondisi langit, lokasi pengamatan, dan tingkat polusi cahaya.

Cahaya Bulan yang terang berpotensi mengurangi visibilitas meteor-meteor redup. Karena itu, pengamat disarankan mencari lokasi dengan langit terbuka dan minim cahaya buatan. Waktu menjelang fajar, terutama setelah Bulan terbenam jika waktunya memungkinkan, dapat menjadi pilihan pengamatan.

Meteor Orionid juga tidak hanya muncul di dekat rasi Orion. Kilatannya bisa melintas di berbagai bagian langit, sehingga pengamat sebaiknya melihat area langit yang luas.

2. Hujan Meteor Leonis Minorid Sekitar 24 Oktober

Fenomena berikutnya adalah hujan meteor Leonis Minorid yang diperkirakan mencapai puncak sekitar 24 Oktober.

Berbeda dengan Orionid, Leonis Minorid termasuk hujan meteor dengan aktivitas rendah. Dalam kondisi ideal, jumlahnya diperkirakan hanya sekitar tiga meteor per jam.

Dengan intensitas tersebut, pengamat tidak bisa mengharapkan banyak meteor dalam waktu singkat. Meski demikian, fenomena ini tetap menarik bagi pencinta astronomi yang ingin mengamati langit malam dan mempelajari karakteristik hujan meteor.

Untuk meningkatkan peluang melihat meteor, pilih tempat yang gelap, jauh dari lampu kota, dan berikan waktu bagi mata untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan.

3. Bulan Berdekatan dengan Gugusan Bintang Pleiades pada 27–28 Oktober

Pada malam 27 hingga 28 Oktober, Bulan diperkirakan tampak berdekatan dengan gugusan bintang Pleiades, yang dikenal pula sebagai Tujuh Bersaudari.

Pleiades merupakan gugusan bintang yang dapat terlihat dengan mata telanjang sebagai kumpulan titik cahaya yang berdekatan. Dalam kondisi langit yang mendukung, gugusan ini dapat ditemukan dengan mengamati langit malam di arah timur.

Teropong binokular dapat membantu memperlihatkan lebih banyak bintang di dalam gugusan tersebut. Sementara itu, teleskop memungkinkan pengamatan yang lebih terperinci.

Kedekatan Bulan dan Pleiades akan membuat keduanya tampak berada di area langit yang sama, meskipun jarak sebenarnya antara Bulan dan gugusan bintang tersebut sangat jauh.

Tips Mengamati Fenomena Langit Oktober

Agar pengamatan lebih optimal, pilih lokasi dengan pandangan langit yang luas dan minim polusi cahaya. Periksa prakiraan cuaca sebelum berangkat karena awan dapat menghalangi pandangan.

Pengamat juga disarankan membawa alas duduk atau kursi santai agar lebih nyaman saat menatap langit dalam waktu lama. Teleskop tidak wajib digunakan, terutama untuk menyaksikan hujan meteor yang dapat muncul di berbagai arah.

Dengan memperhatikan waktu dan kondisi pengamatan, paruh kedua Oktober 2026 menjadi kesempatan untuk menikmati keindahan langit malam sekaligus mengenal lebih jauh fenomena astronomi.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN