Mengenal Nozzle Tanam, Teknik Pemadaman Karhutla di Lahan Gambut

Ilustrasi Nozzle Tanam. (Foto: Istimewa)
Jakarta, MISTAR.ID - Teknik nozzle tanam digunakan relawan untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut yang memiliki bara api di bawah permukaan tanah.
Teknik tersebut menjadi perhatian setelah sebuah unggahan di media sosial Instagram memperlihatkan sejumlah relawan memadamkan karhutla di Kalimantan menggunakan alat tersebut.
Dalam unggahan akun @rum************* pada Jumat (9/10/2026), dijelaskan bahwa api di lahan gambut tidak selalu terlihat di permukaan karena bara dapat tersembunyi di bawah tanah dan terus menjalar.
“Dengan teknik nozzle tanam, relawan berupaya menyuntikkan air langsung ke dalam lapisan gambut untuk menjangkau titik api yang sulit dipadamkan,” demikian keterangan dalam unggahan tersebut.
Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Hatma Suryatmojo, menjelaskan bahwa kebakaran di lahan gambut dapat terjadi di permukaan maupun di bawah permukaan tanah, terutama pada gambut yang mengering akibat drainase.
“Pada karhutla di lahan gambut, api tidak hanya ada di permukaan, tapi juga di bawah permukaan, pada lahan gambut yang kering atau dikeringkan menggunakan kanalisasi,” jelas Hatma saat dihubungi Kompas.com, Senin (12/10/2026).
Menurut Hatma, api di bawah permukaan lebih sulit dipadamkan, sehingga air harus disalurkan hingga mencapai lapisan gambut yang terbakar.
“Pemadaman dengan air harus mampu menjangkau bawah permukaan tersebut. Teknik menggunakan nozzle panjang diharapkan mampu menjangkau api yang ada di kedalaman gambut,” ujarnya.
Teknik nozzle tanam dinilai cukup efektif untuk membantu memadamkan api di bawah permukaan tanah. Namun, penerapannya bergantung pada ketersediaan air di sekitar lokasi kebakaran.
Untuk mengatasi keterbatasan air, petugas dapat membuat sumur bor sementara di dekat titik api. Air dari sumur tersebut kemudian dipompa untuk digunakan dalam proses pemadaman melalui nozzle tanam.
Nozzle Tanam Memiliki Keterbatasan
Meski dapat membantu menjangkau titik api di bawah permukaan gambut, teknik nozzle tanam memiliki keterbatasan jika diterapkan pada kebakaran dengan cakupan wilayah yang luas.
Hatma mencontohkan kondisi karhutla dengan lebih dari 700 titik panas (hotspot) pada 11 Oktober 2026. Menurut dia, pemadaman dengan nozzle tanam saja tidak cukup untuk menuntaskan kebakaran dalam waktu singkat, mengingat luasnya wilayah terdampak dan keterbatasan teknis di lapangan.
“Skala yang besar dan luas dengan lebih dari 700 hotspot, maka cara tersebut tentunya tidak akan mampu menuntaskan dalam waktu singkat mengingat kendala dan keterbatasan teknis lapangan yang mengurangi ruang gerak dan daya jelajah pemadaman,” jelasnya.
Selain ketersediaan air, akses menuju lokasi kebakaran juga menjadi faktor yang memengaruhi proses pemadaman.
Hatma mengatakan, pemadaman melalui udara menggunakan teknik water bombing dapat membantu membasahi lahan gambut sekaligus memadamkan api di permukaan. Namun, metode tersebut tidak dapat menjangkau titik api yang berada di bawah permukaan gambut.
“Water bombing juga membantu membasahi gambut dan memadamkan api permukaan, tapi tidak akan bisa menjangkau api di bawah permukaan gambut,” pungkas Hatma. (hm25/kompas.com)

























































