Tuesday, September 1, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

AI Agent: Setelah Chatbot, Apa yang Akan Mengambil Alih Pekerjaan Kita?

Mistar.idRabu, 2 September 2026 pukul 06.30 WIB
ai_agent_setelah_chatbot_apa_yang_akan_mengambil_alih_pekerjaan_kita

Ilustrasi, AI Agent: Setelah Chatbot, Apa yang Akan Mengambil Alih Pekerjaan Kita? (foto:gemini/mistar)

news_banner

Kelima, pekerjaan yang berhubungan dengan dunia fisik.

AI agent yang berjalan di komputer berbeda dengan robot yang mampu bekerja di dunia nyata. Pekerjaan konstruksi, perawatan, instalasi, pertanian dan berbagai pekerjaan lapangan memiliki tantangan otomatisasi yang berbeda.

WEF memperkirakan pekerjaan seperti tenaga kesehatan, pendidik, pekerja pertanian dan sejumlah pekerjaan frontline justru termasuk kelompok yang dapat mengalami pertumbuhan hingga 2030.

Chatbot, Copilot, dan AI Agent: Apa bedanya?

Perbedaannya dapat dibayangkan seperti ini.

Chatbot:

"Berikan saya laporan penjualan."

AI memberikan jawaban atau menghasilkan laporan berdasarkan instruksi.

Copilot:

"Bantu saya membuat laporan penjualan."

AI membantu manusia menyusun, menganalisis dan menyelesaikan pekerjaan.

AI Agent:

"Pastikan laporan penjualan mingguan selesai setiap Jumat."

AI kemudian dapat mencari data, menjalankan analisis, membuat laporan, menyimpan dokumen, mengirimkannya kepada orang yang tepat dan melaporkan jika terjadi masalah.

Perbedaannya bukan sekadar tingkat kecerdasan.

Perbedaannya adalah tingkat otonomi.

Chatbot terutama berinteraksi.

Copilot berkolaborasi.

Agent mengeksekusi.

Simulasi: sebuah perusahaan dengan 10 AI agent

Bayangkan sebuah perusahaan kecil memiliki 20 karyawan.

Perusahaan tersebut kemudian menggunakan 10 AI agent.

Agent pertama bertugas mencari dan merangkum berita industri.

Agent kedua memantau email masuk dan mengklasifikasikan permintaan pelanggan.

Agent ketiga menangani customer service level pertama.

Agent keempat membuat laporan penjualan.

Agent kelima memantau stok.

Agent keenam membuat draft konten media sosial.

Agent ketujuh melakukan riset calon pelanggan.

Agent kedelapan mengatur jadwal dan rapat.

Agent kesembilan memeriksa invoice dan transaksi.

Agent kesepuluh memantau workflow seluruh agent dan memberi tahu manusia jika terjadi masalah.

Perusahaan itu secara teknis tidak memiliki 30 karyawan.

Tetapi kapasitas kerjanya mulai menyerupai organisasi dengan tenaga kerja yang jauh lebih besar.

Di sinilah model organisasi mulai berubah.

Manusia tidak lagi harus melakukan semua pekerjaan.

Mereka menentukan apa yang harus dilakukan, mengapa harus dilakukan, batasan yang berlaku, dan kapan AI harus dihentikan.

Microsoft menyebut peran baru tersebut sebagai agent boss: pekerja yang mampu membangun, mendelegasikan dan mengelola agent untuk memperbesar dampak pekerjaannya.

Masalahnya Bukan Hanya AI, Tetapi Siapa yang Bisa Menggunakannya

Perubahan tersebut menciptakan kesenjangan baru.

Bukan lagi hanya antara orang yang memiliki akses terhadap komputer dan yang tidak.

Tetapi antara orang yang tahu cara bekerja dengan AI dan orang yang hanya menggunakan AI sebagai mesin pencari yang lebih pintar.

Microsoft mencatat bahwa 87 persen pemimpin di Indonesia sudah memahami konsep AI agent, sementara tingkat pemahaman di kalangan karyawan berada di angka 56 persen. Sebanyak 65 persen manajer juga memperkirakan pelatihan dan upskilling AI akan menjadi bagian penting dari pekerjaan tim mereka.

Artinya, kemampuan baru yang dibutuhkan bukan sekadar "bisa menggunakan ChatGPT".

Pekerja masa depan perlu memahami bagaimana memecah pekerjaan menjadi workflow, memberikan instruksi kepada agent, memeriksa hasil, menghubungkan berbagai tools dan mengetahui kapan keputusan harus dikembalikan kepada manusia.

Apakah AI benar-benar akan mengambil pekerjaan kita?

Mungkin pertanyaan itu sendiri perlu diubah.

Bukan:

"Apakah AI akan mengambil pekerjaan manusia?"

Melainkan:

"Bagian mana dari pekerjaan manusia yang akan diambil AI?"

World Economic Forum memperkirakan hingga 2030 akan ada sekitar 170 juta pekerjaan baru yang tercipta dan 92 juta pekerjaan yang terdampak displacement akibat berbagai perubahan besar di pasar tenaga kerja. Secara bersih, proyeksinya masih menunjukkan pertumbuhan 78 juta pekerjaan. Namun, sekitar 39 persen keterampilan yang dimiliki pekerja saat ini diperkirakan akan berubah atau menjadi usang dalam periode 2025-2030.

Angka tersebut menunjukkan bahwa masa depan pekerjaan kemungkinan bukan dunia tanpa manusia.

Justru sebaliknya.

Dunia kerja akan dipenuhi manusia yang bekerja bersama mesin yang semakin mampu mengerjakan tugas.

Perusahaan tidak lagi hanya bertanya, "Berapa banyak karyawan yang kita butuhkan?"

Mereka bisa mulai bertanya:

"Berapa banyak pekerjaan yang bisa kita delegasikan kepada agent, dan pekerjaan apa yang tetap harus dipimpin manusia?"

Itulah perubahan terbesar dari era chatbot menuju era AI agent.

Chatbot membuat manusia mendapatkan jawaban lebih cepat.

Copilot membuat manusia bekerja lebih cepat.

AI agent berpotensi membuat manusia tidak lagi harus mengerjakan seluruh prosesnya.

Dan ketika itu terjadi, nilai seorang pekerja mungkin tidak lagi terutama ditentukan oleh seberapa cepat ia menyelesaikan tugas.

Melainkan oleh seberapa baik ia menentukan tugas apa yang layak dikerjakan, keputusan apa yang harus dibuat, dan apa yang seharusnya tidak pernah diserahkan kepada mesin.

(ibm/microsoft/ilo/*/hm27)

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN