Sunday, November 1, 2026
home_banner_first
OPINI

Revitalisasi Trotoar Tanpa Inovasi PAD: Jangan Sekadar Mempercantik Wajah Kota Pematangsiantar

Mistar.idMinggu, 1 November 2026 pukul 11.57 WIB
revitalisasi_trotoar_tanpa_inovasi_pad_jangan_sekadar_mempercantik_wajah_kota_pematangsiantar

Kondisi trotoar di kawasan pertokoan Jalan Merdeka Kota Pematangsiantar. Sepeda motor yang parkir di atas trotoar menghalangi ruang pejalan kaki dan jalur pemandu bagi penyandang disabilitas. (Foto: Istimewa)

Kedua koridor tersebut sebaiknya dirancang dengan konsep yang seragam, tetapi tetap menyesuaikan karakteristik dan kondisi teknis masing-masing ruas jalan. Dengan demikian, revitalisasi tidak terkesan sebagai proyek yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari desain besar penataan pusat Kota Pematangsiantar.

Revitalisasi Trotoar Harus Menghasilkan Inovasi PAD

Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana revitalisasi trotoar dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan PAD Kota Pematangsiantar.

Selama ini, pembangunan infrastruktur perkotaan sering kali lebih menonjolkan aspek belanja pemerintah daripada bagaimana infrastruktur tersebut dapat menciptakan nilai ekonomi dan sumber pendapatan daerah.

Padahal, kawasan Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka memiliki potensi ekonomi yang besar. Aktivitas perdagangan, mobilitas masyarakat, dan tingginya kebutuhan parkir merupakan peluang yang dapat dikelola melalui kebijakan pemerintah daerah.

Pemerintah Kota dapat mengembangkan sistem parkir resmi yang tertata, menggunakan pembayaran non-tunai, menerapkan pengawasan digital, serta memastikan seluruh penerimaan retribusi masuk ke kas daerah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Area parkir sepeda motor yang dirancang secara khusus juga dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan parkir kawasan perdagangan. Dengan pengaturan tarif yang sesuai regulasi, pencatatan transaksi secara elektronik, dan pengawasan yang transparan, kebocoran penerimaan daerah dapat diminimalkan.

Selain itu, pemerintah dapat mengembangkan konsep kawasan perdagangan yang ramah pejalan kaki, meningkatkan kenyamanan pengunjung, dan mendorong aktivitas ekonomi para pelaku usaha.

Artinya, revitalisasi bukan hanya menghasilkan trotoar yang lebih bagus, tetapi juga menciptakan tata kelola kawasan yang produktif dan berpotensi meningkatkan penerimaan daerah.

Jangan Sampai Trotoar Bagus, tetapi Persoalan Kota Tetap Sama

Pembangunan kota membutuhkan keberanian untuk berpikir lebih maju. Pemerintah Kota Pematangsiantar seharusnya tidak terjebak dalam pola pembangunan yang hanya berorientasi pada penyelesaian proyek fisik. Setiap pembangunan infrastruktur harus menjawab persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat.

Jangan sampai setelah trotoar selesai direvitalisasi, sepeda motor kembali memenuhi jalur pedestrian, kabel udara tetap semrawut, parkir masih tidak teratur, dan potensi PAD belum dikelola secara optimal.

Wali Kota dan seluruh perangkat daerah terkait perlu membangun koordinasi lintas sektor, mulai dari Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Bappeda, Bapenda, hingga pihak swasta dan pemilik jaringan utilitas.

Sudah saatnya revitalisasi Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka dilakukan dengan pendekatan pembangunan terintegrasi: trotoar yang ramah pejalan kaki, parkir yang tertata, kabel utilitas bawah tanah, kawasan perdagangan yang nyaman, serta sistem pengelolaan parkir yang transparan dan berkontribusi terhadap PAD.

Pematangsiantar membutuhkan lebih dari sekadar trotoar baru. Pematangsiantar membutuhkan inovasi dalam menata kota dan mengelola potensi ekonominya. Jangan sampai anggaran revitalisasi hanya mengubah tampilan trotoar, tetapi tidak mengubah kualitas tata kelola perkotaan.

Revitalisasi yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat memperoleh hak berjalan kaki dengan aman, pedagang mendapatkan lingkungan usaha yang tertib, kendaraan memiliki tempat parkir yang jelas, wajah kota semakin indah, dan pemerintah daerah memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

Rekomendasi pesan utama kepada Pemerintah Kota

Ada lima agenda yang sebaiknya menjadi satu kesatuan dalam revitalisasi:

1. Memajukan desain batas trotoar sekitar satu meter ke arah jalan pada lokasi yang layak secara teknis untuk mengakomodasi parkir sepeda motor.

2. Memastikan jalur pedestrian dan jalur disabilitas bebas dari kendaraan.

3. Menurunkan kabel udara ke bawah tanah melalui koordinasi dengan pemilik utilitas.

4. Memprioritaskan Jalan Merdeka sisi kiri (Lapangan Adam Malik-Suzuya) dan Jalan Sutomo sisi kanan (Ramayana-Polres).

5. Membangun sistem parkir resmi, digital, transparan, dan berorientasi pada peningkatan PAD. (*)

Penulis adalah Dosen Universitas Simalungun**


Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN