Masa Depan Bangsa di Tengah Membludaknya Gadget dan AI

Ilustrasi. (Foto: Istimewa/Mistar)
Oleh: Anwar Suheri Pane
Teknologi gadget dan kecerdasan buatan (AI) terus berkembang. Keduanya selalu datang dengan janji kemudahan dan kita mengapresiasinya sebagai lompatan peradaban. Harus diakui, ada banyak manfaat yang kita nikmati hari ini. Namun di balik itu, ada sesuatu yang tergerus tanpa suara: kualitas manusia.
Gadget dan AI sudah merambah kehidupan kita dan memberi dampak besar yang terasa di rumah, sekolah, hingga ruang sosial yang lebih luas.
Fakta paling telanjang bisa kita lihat pada anak-anak Indonesia.
Data BPS (2024) yang dirilis Kemkominfo memperlihatkan bahwa hampir 40% anak usia 0-6 tahun sudah menggunakan gadget. Bahkan sekitar 6% bayi di bawah usia satu tahun sudah memegang ponsel, dan sebagian telah mengenal internet.
Ini seharusnya menjadi peringatan keras. Pada usia ketika anak semestinya sibuk mengeksplorasi dunia nyata, mereka justru “lahir” ke dunia digital lebih cepat dari seharusnya.
Ironisnya, itu terjadi bukan karena kebutuhan anak. Kita melihat bagaimana orang tua yang letih oleh tekanan pekerjaan menjadikan gadget sebagai “pengasuh” dadakan. Survei nasional mencatat hampir sepertiga anak usia dini sudah memegang gadget setiap hari. Praktis memang, tetapi tentu saja bukan tanpa konsekuensi.
Penelitian di Depok yang dipublikasikan di Ejurnal Malahayati (2023) menegaskan bahwa hampir 70% anak usia 1-6 tahun yang menggunakan gadget lebih dari satu jam per hari berisiko mengalami gangguan perkembangan personal-sosial.
Studi kesehatan lain juga menunjukkan bahwa paparan layar pada balita dapat merusak kemampuan bahasa, fokus, dan interaksi sosial yang merupakan fondasi penting anak. Kerusakan yang terjadi pada masa awal kehidupan sulit diperbaiki ketika mereka tumbuh dewasa.
Di usia remaja, masalah ini tidak lebih ringan. Penelitian Karolinska Institute dan Oregon Health & Science University (2025) menyatakan penggunaan media sosial sekitar 1,4 jam per hari dapat meningkatkan gangguan perhatian. Ulasan ilmiah di Frontiers in Cognition (2023) juga mempertegas penggunaan smartphone berlebihan dapat melemahkan kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi.
Ketika konsentrasi mudah terganggu, kemampuan nalar ikut menurun. Ini berisiko melahirkan generasi yang mahir menggunakan gadget, tetapi tidak terlatih berpikir mendalam suatu kehilangan besar bagi bangsa yang sedang membangun daya saing di era global.
Persoalan ini tidak berhenti pada individu saja. Dampaknya sudah masuk ke ruang keluarga. Banyak pasangan suami-istri kini lebih sering menatap layar smartphone mereka dibanding berkomunikasi langsung.
Bahkan dalam satu rumah, tidak sedikit pasangan suami-istri yang justru bertukar pesan melalui gawai ketimbang berbicara secara tatap muka.Kedekatan yang dulu dibangun lewat percakapan hangat kini tergantikan oleh scroll tanpa akhir.
Hubungan orang tua dan anak pun terganggu. Gadget menjadi “sahabat setia” yang lebih sering menemani anak dibanding orang tua yang sibuk atau teralihkan oleh pekerjaan. Dalam beberapa kasus, AI bahkan digunakan sebagai sumber jawaban dan hiburan, menggantikan kehadiran emosional orang tua.
Perlahan tapi pasti, teknologi telah mengubah pola komunikasi keluarga: cepat, tetapi dangkal. Ketika hubungan keluarga rapuh, fondasi moral bangsa juga ikut tergerus.
Walaupun AI sering dikambinghitamkan sebagai penyebab kerusakan pola pikir, tapi data menunjukkan bahwa masalahnya bukan di situ, melainkan pada kesiapan penggunanya.
Studi di SMKN 1 Medan (2024) menunjukkan bahwa AI membantu proses belajar ketika literasi digital meningkat. Sebaliknya, kecerdasan buatan tidak banyak berdampak jika literasi digital siswa rendah.
Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Pendidikan Tambusai (JPTAM, 2023) juga menegaskan bahwa AI yang disertai literasi digital dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Penelitian di e-Journal Hamzanwadi (2024) juga menyoroti bahwa AI tidak akan menumbuhkan motivasi akademik apabila lingkungan belajar tidak sehat. Ini menegaskan bahwa teknologi hanya memperkuat fondasi manusia bukan membangunnya dari nol.
Di tingkat sosial yang lebih luas, AI berpotensi ancaman serius lainnya: disinformasi. Dengan deepfake, manipulasi suara, dan teks otomatis, hoaks semakin sulit diidentifikasi.
Di negara yang rentan polarisasi seperti Indonesia, disinformasi bisa menjadi bara penyulut konflik dan memperlebar jurang perselisihan. Ketika masyarakat tak lagi mampu membedakan fakta dan rekayasa, kepercayaan publik dipastikan runtuh.
Bangsa ini tidak boleh tinggal diam. Literasi digital harus menjadi kurikulum sejak usia dini bukan sekadar bagaimana menggunakan teknologi, tetapi bagaimana menilai kebenaran.
Pemerintah harus membahas pembatasan penggunaan gadget bagi balita, sesuai rekomendasi WHO yang menyarankan tanpa layar bagi anak di bawah dua tahun.
Di sekolah, etika penggunaan AI harus diatur, sehingga teknologi benar-benar menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.
Dan yang terpenting: orang tua wajib diberdayakan dengan edukasi yang memadai. Tanpa itu, anak-anak akan terus meniru kebiasaan orang dewasa yang tak lepas dari gawai.
Kini, ketika bayi berusia satu tahun sudah akrab dengan gadget dan orang dewasa terjebak dalam ketergantungan digital, kita harus mengakui bahwa teknologi telah mengubah fondasi sosial masyarakat.
Pertanyaannya, apakah kita siap mengendalikan perubahan ini, atau justru membiarkannya mengendalikan manusia?
Teknologi akan terus berkembang, dan persiapan yang matang menjadi kunci agar kualitas manusia tidak merosot. Bangsa yang maju bukanlah yang paling cepat mengadopsi teknologi, melainkan yang paling bijak mengelola dampaknya. **
NEXT ARTICLE
Kaleidoskop Ekonomi 2025





















