Imbas Perang dengan Iran, Harga Diesel AS Cetak Rekor Rp27.300 per Liter

Ilustrasi. (foto: AI/Mistar)
Chicago, MISTAR.ID - Harga diesel di Amerika Serikat (AS) mencetak rekor tertinggi pada Jumat (4/9/2026), di tengah perang dengan Iran yang telah berlangsung sekitar enam bulan dan mengganggu pasokan energi global.
Mengutip Associated Press (AP), harga rata-rata diesel secara nasional mencapai US$5,85 per galon. Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp17.689 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp27.300 per liter.
Angka itu melampaui rekor sebelumnya pada Juni 2022, ketika harga diesel AS mendekati US$5,82 per galon.
Lonjakan harga diesel berpotensi menambah tekanan terhadap biaya hidup karena bahan bakar tersebut menjadi tulang punggung distribusi barang, mulai dari truk, kereta api, kapal hingga mesin pertanian.
Kenaikan biaya transportasi juga mulai meningkatkan pengeluaran perusahaan di berbagai sektor. Sebagian pelaku usaha telah meneruskan beban tersebut kepada konsumen melalui kenaikan harga barang maupun tambahan biaya pengiriman.
Dampaknya diperkirakan paling cepat terasa pada bahan pangan, terutama sayuran, daging dan produk mudah rusak lainnya yang harus dikirim dan diisi ulang secara rutin.
Jika harga diesel bertahan tinggi dalam waktu lama, kenaikan biaya dapat meluas ke berbagai produk lain, termasuk pakaian, kosmetik dan furnitur.
Harga bensin reguler di AS ikut meningkat, meski tidak secepat diesel. Data AAA menunjukkan harga rata-rata bensin mencapai sekitar US$4,15 per galon atau setara Rp19.400 per liter. Pada periode yang sama tahun lalu, harganya masih sekitar US$3,20 per galon.
Sebelum AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026, harga rata-rata diesel di AS masih sekitar US$3,76 per galon atau sekitar Rp17.600 per liter jika dihitung menggunakan kurs saat ini.
Harga kemudian melonjak seiring kenaikan minyak mentah akibat gangguan rantai pasok dan pemangkasan produksi di Timur Tengah. Arus kapal tanker melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak terpenting dunia, juga terganggu akibat konflik.
Harga minyak sempat mereda ketika muncul harapan perdamaian pada awal musim panas. Namun, eskalasi pertempuran antara AS dan Iran kembali mendorong harga naik.
Minyak Brent yang menjadi patokan internasional diperdagangkan di atas US$95 per barel pada Jumat, jauh lebih tinggi dibanding sekitar US$70 per barel sebelum perang.
Bensin reguler juga telah naik cukup tajam dari sekitar US$2,98 per galon sebelum perang, yang setara sekitar Rp13.900 per liter dengan kurs saat ini.
Meski mencetak rekor secara nominal, harga diesel sekarang bukan yang tertinggi apabila disesuaikan dengan inflasi. Pada 2008, diesel pernah mencapai sekitar US$4,74 per galon, yang nilainya setara sekitar US$7,20 dalam nilai uang 2026.
Sementara rekor US$5,82 per galon pada 2022 setara sekitar US$6,56 dalam nilai uang saat ini setelah memperhitungkan inflasi.
Namun, tingginya harga bahan bakar tetap memberikan tekanan besar terhadap konsumen dan dunia usaha. Diesel juga lebih sulit digantikan dibanding bensin karena perannya yang sangat besar dalam produksi dan distribusi barang.
Kondisi tersebut berpotensi menjadi salah satu isu ekonomi utama menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November 2026, ketika biaya hidup diperkirakan menjadi perhatian penting para pemilih. (*)


























