Sunday, November 8, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Gempa M6,7 Sulteng Tinggalkan Jejak Sesar Aktif, Tanah Robek dan Gas Api Muncul

Mistar.idMinggu, 8 November 2026 pukul 09.43 WIB
gempa_m67_sulteng_tinggalkan_jejak_sesar_aktif_tanah_robek_dan_gas_api_muncul_

Ilustrasi, peta gempa M6,7 Sulteng dan jejak sesar. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)

Jakarta, MISTAR.ID (8/11/2026) — Gempa besar bermagnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah ternyata meninggalkan luka yang masih terlihat jelas hingga kini. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan jejak sesar aktif yang menjadi pemicu gempa tersebut.

Temuan paling mencolok berada di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Di sana, tim menemukan sesar permukaan atau fault surface rupture, yakni tanah yang terbelah akibat pergerakan sesar saat gempa M6,7 pada 16 Juni 2026. Jejak ini menjadi kunci untuk memahami bagaimana sesar itu bergerak.

Tidak hanya itu, tim juga menemukan sesar permukaan lain di Desa Padende, Kabupaten Sigi, yang muncul akibat gempa pada 28 September 2026. Belahan tanahnya digambarkan sebagai luka yang menganga. Kondisinya sangat tidak stabil dan berbahaya bagi bangunan maupun infrastruktur.

"Berbahaya bagi bangunan maupun infrastruktur jalan, pipa, kabel jika terjadi pergerakan susulan," tulis Badan Geologi melalui akun Instagram resminya, dikutip Minggu (8/11/2026).

Temuan paling mengejutkan justru muncul di Kecamatan Palolo. Dari mata air di sana keluar gas alami yang bisa menyulut api.

Menurut Badan Geologi, hal ini terjadi karena retakan akibat sesar aktif bertindak seperti jalan tol yang memudahkan gas dari dalam perut bumi naik ke permukaan.

Semua temuan tersebut didapatkan setelah ahli kebumian Badan Geologi melakukan survei pemetaan sesar aktif di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan sekitarnya selama 25 hari. Tim menelusuri berbagai jejak dan indikasi sesar di permukaan dan bawah permukaan untuk menghasilkan data yang lebih detail.

Ada beberapa tujuan dari pemetaan ini. Pertama, mengidentifikasi dan memetakan jejak sesar aktif untuk memahami kondisi suatu wilayah. Kedua, menyusun peta sesar aktif skala 1:100.000 di Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Ketiga, memberikan data dasar bagi kajian mitigasi bencana gempa bumi, perencanaan tata ruang, serta pengembangan wilayah.

Keempat, mendukung peran Badan Geologi, Kementerian ESDM sebagai wali data sesar aktif dalam Kebijakan Satu Peta. Kelima, memberikan informasi data yang bisa dimanfaatkan pengguna secara mudah diakses dan dipahami.

Setelah pemetaan dilakukan, Badan Geologi menyiapkan tiga tindak lanjut.

  1. Uji laboratorium.

Sampel air dan gas dari mata air yang bisa mengeluarkan api akan diuji di laboratorium agar diperoleh analisis lengkapnya.

  1. Perbarui peta.

Saat ini sedang disusun peta sesar aktif skala 1:100.000. Peta ini akan menjadi kompas penting untuk pembangunan yang lebih aman dan berkelanjutan.

  1. Sosialisasi ke warga.

Hasil pemetaan akan dibagikan ke warga supaya lebih siap dan memahami kondisi lingkungan sekitar.

"Badan Geologi terus melakukan penyelidikan dan pemetaan untuk menyediakan data sesar aktif yang dapat mendukung penataan ruang berbasis kondisi geologi serta upaya mitigasi bencana geologi," ujar Badan Geologi.(hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN