Sunday, November 1, 2026
home_banner_first
MEDAN

FKUI Dorong Kolaborasi Multidisiplin untuk Lindungi Kesehatan Masyarakat dari Dampak Karhutla

Mistar.idSabtu, 31 Oktober 2026 pukul 15.35 WIB
fkui_dorong_kolaborasi_multidisiplin_untuk_lindungi_kesehatan_masyarakat_dari_dampak_karhutla

Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, Sp.P(K), dan dokter spesialis anak, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp. Respi(K). (Foto: IDAI/Mistar)

Medan, MISTAR.ID (31/10/2026) – Guna memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat dari dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melalui Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) mendorong kolaborasi multidisiplin.

Hal tersebut disampaikan dalam webinar bertajuk “Hutan Kita, Kesehatan Kita, Masa Depan Kita: Karhutla dalam Perspektif Kedokteran untuk Solusi Praktis Masalah Kesehatan Masyarakat” yang digelar secara daring pada Sabtu (31/10/2026).

Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, Sp.P(K), menegaskan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Menurutnya, aspek kesehatan manusia harus menjadi bagian integral dalam upaya perlindungan lingkungan dan penanganan karhutla.

"Karhutla ini juga menyangkut persoalan kesehatan, keselamatan, dan masa depan generasi penerus bangsa. Kita tidak boleh sekadar bereaksi saat bencana terjadi saja," ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima MISTAR.

Lebih lanjut, Anna mengatakan bahwa pencegahan paparan asap, penanganan kesehatan sejak dini, serta tindak lanjut yang tepat perlu diperkuat dengan dukungan bukti ilmiah dan kolaborasi lintas sektor.

Direktur IMERI FKUI, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, mengatakan perlindungan kesehatan anak dari dampak karhutla membutuhkan pendekatan berkelanjutan, bukan hanya dilakukan ketika kabut asap telah terjadi.

"Diperlukan kerja sama lintas disiplin dan riset yang berkelanjutan untuk memahami dampak jangka panjang asap karhutla terhadap kesehatan masyarakat ke depannya," tuturnya.

Bernie mengatakan FKUI dan IMERI FKUI berkomitmen untuk terus berupaya memberikan perlindungan kesehatan kepada masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak. Upaya tersebut tidak boleh berhenti setelah karhutla berlalu.

Menurutnya, pendekatan multidisiplin diperlukan karena dampak paparan asap karhutla dapat berbeda-beda, bergantung pada karakteristik individu, kondisi kesehatan, intensitas paparan, dan lingkungan.

"Kelompok usia anak-anak, lansia, individu dengan penyakit kronis, serta pekerja yang berpotensi terpapar perlu mendapatkan perhatian sesuai tingkat risikonya masing-masing," ucapnya.

Sementara itu, perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp. Respi(K), menjelaskan perjalanan partikel halus PM2.5 di dalam tubuh anak-anak.

Menurutnya, partikel yang ukurannya sekitar 30 kali lebih kecil dibandingkan diameter rambut manusia dapat masuk melalui hidung dan saluran pernapasan atas. Selanjutnya, partikel tersebut dapat mencapai bronkus dan bronkiolus, alveolus, hingga masuk ke aliran darah.

"Asap gambut dari kebakaran lahan menghasilkan proporsi partikel halus yang besar. Partikel PM2.5 dapat menembus lebih dalam ke paru-paru anak dibandingkan pada orang dewasa," katanya.

Dokter spesialis anak tersebut menjelaskan bahwa dampak akut paparan asap karhutla dapat berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serangan asma yang lebih sering dan berat, iritasi mata, hingga penurunan nafsu makan.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN